<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pena Distorsi</title>
	<atom:link href="http://penadistorsi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penadistorsi.wordpress.com</link>
	<description>sebuah blog cerpen</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 12:27:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='penadistorsi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/cee8033a7518a0fdbd56d90a0c263e3d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Pena Distorsi</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://penadistorsi.wordpress.com/osd.xml" title="Pena Distorsi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://penadistorsi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Warung Kopi Mpok Indah</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/12/27/warung-kopi-mpok-indah/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/12/27/warung-kopi-mpok-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 06:57:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thriller]]></category>
		<category><![CDATA[horor]]></category>
		<category><![CDATA[pocong]]></category>
		<category><![CDATA[zombie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680263</guid>
		<description><![CDATA[Katanya Pak Ijul melihat pocong di warung kopi Mpok Indah. Semua orang menertawainya, terutama karena wajah Pak Ijul mirip sekali dengan Bokir, aktor lawas yang sering bermain di film-film Suzanna. Bapak-bapak yang biasa nongkrong di warung kopi itu mulai menerka-nerka kejadian yang dialami Pak Ijul kemarin malam; bagaimana ia mampir ke warung kopi Mpok Indah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680263&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Katanya Pak Ijul melihat pocong di warung kopi Mpok Indah. Semua orang menertawainya, terutama karena wajah Pak Ijul mirip sekali dengan Bokir, aktor lawas yang sering bermain di film-film Suzanna. Bapak-bapak yang biasa nongkrong di warung kopi itu mulai menerka-nerka kejadian yang dialami Pak Ijul kemarin malam; bagaimana ia mampir ke warung kopi Mpok Indah untuk merayu janda beranak satu itu, lalu berharap akan diberi cemilan atau rokok gratis. Tak lama kemudian, ketika warung sudah sepi dan Mpok Indah sedang pergi ke rumahnya yang ada di bagian belakang warung, sesosok pocong meloncat-loncat pelan di belakang punggung Pak Ijul. Ketika pocong itu sudah berada satu langkah tepat di belakangnya, Pak Ijul baru menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia membalikkan badan dan melihat sosok hantu berbalut kain putih itu sedang menatapnya dingin. Mulut Pak Ijul pasti menganga karena kaget, matanya melotot seperti tokoh komik, dan ia berteriak dengan gagap: Po &#8230; po &#8230;. po&#8230; pocooooooong! Lalu ia kencing di celana dan pingsan.</p>
<p>Mereka semua tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>“Nggak! Bukan begitu kejadiannya!” ucap Pak Ijul protes.</p>
<p>“Aah, ngaku aja, elu pasti kencing di celana kan waktu itu? Persis banget lu kayak film horor jadul,” ucap Pak Zaenal dengan mulut masih mengunyah pisang goreng.</p>
<p>“Kagak lah! Gua nggak kencing di celana, apalagi pake teriak po-po-po-pocong segala. Gua baca ayat kursi!” sanggah Pak Ijul sambil melirik dengan sudut matanya.<span id="more-2444680263"></span></p>
<p>“Gaya lu pake baca Ayat Kursi. Qulhu aja kagak apal lu,” balas Pak Zaenal.</p>
<p>“Eh, jangan salah Bang, gini-gini juga &#8230;.”</p>
<p>Tampak risih mendengar perdebatan kedua bapak-bapak itu, Mpok Indah angkat bicara. “Begini ye, Jul. Gue bukannya nggak percaya sama cerita elu, tapi disengaja atau nggak, cerita elu tuh bisa nurunin reputasi warung gue. Kesannya warung gue ini angker, nggak pernah dingajiin, jarang disholatin. Kalau kata anak gue, itu namanya pencemaran nama baik. Bisa gue tuntut lu nanti. Ngerti nggak lu?”</p>
<p>Aku ingat kalau Mpok Indah memang sering membangga-banggakan anak gadisnya yang seorang mahasiswi. Namanya Nurma, sekarang ia kuliah di Bandung. Menurut Mpok Indah, Nurma adalah gadis yang cerdas, bahkan IP-nya di setiap semester selalu nyaris empat. Tidak heran kalau ia bisa masuk universitas dengan gratis karena mendapat beasiswa.</p>
<p>“Yah Si Mpok. Aye nggak ada niat ke situ lah, Mpok. Apa untungnya? Lagian mungkin yang angker bukan warung ini, tapi kuburan yang ada sebelah sono noh,” ucap Pak Ijul sambil menunjuk ke arah gang kecil yang gelap dan dinaungi pohon-pohon besar. Di ujung gang itu, samar-samar kami dapat melihat deretan batu nisan yang berdiri tegak. Pak Zaenal buru-buru menepis tangan Pak Ijul. Tidak boleh menunjuk kuburan, pamali katanya.</p>
<p>Area pemukiman warga ini memang bukan daerah perkampungan, bahkan termasuk wilayah yang cukup padat di kota Jakarta, tapi entah bagaimana Mpok Indah bisa memiliki rumah dan membuka warung di daerah yang dekat dengan pekuburan. Aku sendiri sengaja memilih tempat kost di daerah ini bukan karena dekat dengan tempat kerjaku, tapi karena harga sewanya yang jauh lebih murah.</p>
<p>Segelas kopi hitam di hadapanku sudah tinggal ampas, tapi ketiga orang itu masih saja tak henti berdebat. Aku segera membayar kopi pada Mpok Indah. Sebagai seorang pendatang baru di tempat ini, aku tak banyak bicara. Aku lebih senang mendengarkan obrolan orang-orang di sekitarku, itulah kenapa aku sering datang ke warung kopi ini.</p>
<p>“Eh, Mas, Mas!” suara Pak Ijul terdengar ketika aku membalikkan badan untuk pulang. Aku segera sadar kalau ia memanggilku. Sebab siapa lagi orang yang mungkin ia panggil Mas?</p>
<p>“Ini, bukunya ketinggalan,” ucap Pak Ijul sambil menyodorkan sebuah buku tebal yang tanpa sadar kutinggalkan di meja warung. Aku memang sering membawa buku setiap kali nongkrong di warung ini, sekadar untuk menjadi alibi supaya orang-orang tak sadar kalau aku sebenarnya sedang menguping pembicaraan mereka.</p>
<p>“Oh iya, makasih, Pak. Hampir aja ketinggalan,” ucapku. Belum sempat aku meraih buku itu dari tangan Pak Ijul, ia memutar bukunya dan memperhatikan sampul buku itu.</p>
<p>“Novel horor ya, Mas?” ucapnya setelah melihat gambar vampir berambut pirang dengan mulut penuh darah yang ada di sampul buku itu.</p>
<p>“Eh iya, Pak,”</p>
<p>“Oh,” ujarnya sambil memberikan buku itu padaku, “emangnya nggak takut ya, malam-malam begini baca cerita horor? Ah, tapi nggak bakal seram juga sih ya, hantu kayak beginian sih mana ada di Indonesia? Hahaha.”</p>
<p>“Lah iya,” sambung Mpok Indah, “Si Nurma aja udah nggak percaya sama dedemit, atau pocong, atau genduruwo. Sekarang dia takutnya sama hantu-hantu Barat. Vampir, monster, sama jom &#8230; jom &#8230;.”</p>
<p>“Jombi?” sahut Pak Zaenal.</p>
<p>“Iye, jombi! Kagak ngerti dah gue, padahal waktu masih kecil, die takut bener sama kalong wewe.”</p>
<p>Aku memutuskan untuk segera pamit segera setelah buku itu ada di tanganku. Aku tak mau mendengarkan obrolan mereka lagi, sekarang sudah jam sebelas malam dan aku tak ingin terlambat ke kantor besok pagi.</p>
<p>Mengingat cerita Pak Ijul tadi, aku jadi ingin tertawa sekaligus merinding. Ingin tertawa karena membayangkan Pak Ijul menjadi salah satu aktor di film-film pocong mesum yang banyak diputar di layar lebar, merinding karena sekarang aku harus melewati pekuburan yang tadi ditunjuknya. Biasanya setiap kali pulang dari warung, aku selalu melewati lokasi ini dan tidak merasakan apa-apa. Tapi kali ini agak berbeda, suasananya terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak terdengar suara kendaraan ataupun suara televisi dari kejauhan, yang terdengar hanya suara kakiku yang menginjak daun-daun kering.</p>
<p>Ketika aku lewat di samping area pekuburan, pohon-pohon rindang dan besar menyambutku, mereka seperti memberi jalan dan menunduk rendah. Cahaya lampu dari kejauhan membuat bayangan pohon-pohon itu tampak seperti cakar raksasa di atas tanah yang ingin menggenggam pergelangan kakiku. Sumber penerangan yang minim di sekitar sini memang membuat pekuburan ini terasa angker, entah kenapa warga setempat tidak memasang lampu jalan yang terang. Mungkin mereka tak ingin mengganggu jasad-jasad yang sedang tidur nyenyak.</p>
<p>Aku mempercepat langkahku, aku tak ingin berlama-lama melewati tempat ini. Tinggal beberapa meter lagi, aku akan tiba di pertigaan, lalu di sana akan ada rumah warga dengan penerangan yang bagus. Aku harus cepat tiba di sana.</p>
<p>Tinggal sedikit lagi menuju pertigaan jalan, langkahku terhenti. Aku melihat sebuah buntalan putih tergeletak di pinggir selokan. Jantungku terasa berhenti berdetak selama beberapa milidetik, tapi kemudian kembali berdetak dengan sangat cepat melebihi sebelumnya. Oh, semoga saja buntalan putih itu tak seperti yang kubayangkan.</p>
<p>Buntalan kain itu tampak jelas karena warnanya kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Aku mengerjapkan mata, lalu aku sadar kalau benda itu tidak putih benar. Ada noda-noda coklat pada permukaan kain itu, seperti bekas tanah yang menempel. Bahkan sekarang aku baru sadar kalau kain itu terlihat compang-camping di beberapa bagian.</p>
<p>Buntalan kain itu melebar. Tidak, bukan melebar, tapi merenggang. Seperti orang yang sedang meringkuk dan berusaha meluruskan tubuhnya. Gerakan meluruskan tubuh itu membuat gesekan pada tanah sehingga kain putihnya menyapu dedaunan kering, menimbulkan suara gemerisik yang pelan tapi terdengar jelas. Kakiku terasa ngilu. Aku tak tahu apakah aku harus berlari melewati benda itu, ataukah aku harus membalikkan badan dan kembali ke warung Mpok Indah. Tak lama kemudian, buntalan putih itu berguling pelan ke arahku. Dari yang sebelumnya memunggungiku, sekarang ia memperlihatkan wajahnya yang hitam dan busuk ke arahku.</p>
<p>Tubuhku membatu, sosok itu mengeluarkan suara parau dari mulutnya, seperti jeritan yang tidak sanggup keluar karena tenggorokannya sudah lama tak digunakan. Samar-samar aku dapat melihat tonjolan pada kain putih itu, bergerak naik-turun, membuat kain lusuh itu tertarik ke luar. Dengan dorongan yang kuat, sebuah tangan hitam mendesak keluar dari salah satu lipatan kain, lalu tangan itu menapak ke tanah. Sosok itu menggeliat-geliat, kemudian tangan yang satunya lagi ikut keluar dari dalam kain. Ia mendesis, ia meraung ke arahku, membuat sekujur tubuhku lemas dan merinding. Setelah itu ia berusaha menyobek kain yang membungkus tubuhnya, seolah ia sedang berusaha untuk bangkit berdiri.</p>
<p>Sementara ia masih mendesis-desis dan berusaha keluar dari kain kafannya, aku membuat keputusan. Aku berjalan cepat melewatinya, aku pasti bisa, aku harus bisa. Ketika langkah kakiku sejajar dengan tubuhnya, ia mendelik ke arahku, membuat bola matanya yang hampir menggelinding keluar itu terlihat jelas, lalu ia mengerang. Tanpa pikir panjang, aku berlari sekuat tenaga. Beberapa langkah kemudian aku terjatuh karena lututku lemas, wajahku menghantam tanah. Aku segera bangkit lagi, berlari lagi, terus berlari.</p>
<p>Setiba di kamar kost, aku langsung mengunci pintu dan meringkuk di atas kasur. Aku tidak tahu apakah yang kulihat tadi itu benar-benar nyata atau hanya halusinasi, tapi aku tahu bahwa malam ini aku harus tidur dengan lampu menyala.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>“Rampok ya? Rampok, ‘kan?”</p>
<p>“Binatang buas kali.”</p>
<p>“Binatang apaan? Di tengah kota begini.”</p>
<p>“Siapa tau ada macan lepas dari Ragunan?”</p>
<p>“Jauh banget!”</p>
<p>Pukul tujuh pagi, warung kopi Mpok Indah biasanya masih tutup dan sepi, namun pagi ini berbeda dari biasanya. Para warga berkerumun di sekeliling warung sambil berusaha menjaga jarak dengan garis kuning yang dipasang polisi. Beberapa orang polisi tampak memperingatkan beberapa anak kecil yang berdiri terlalu dekat, sementara dua orang petugas lainnya menggotong sesosok tubuh yang ditutupi kain putih ke dalam ambulans.</p>
<p>Seharusnya pagi ini aku berangkat ke kantor, tapi kerumunan warga dan kehadiran para wartawan mencuri perhatianku. Aku berusaha menyelinap di antara kerumunan agar dapat melihat lebih jelas. Pak Zaenal berdiri dekat dengan garis polisi, ia tampak sangat pucat.</p>
<p>“Ada apa, Pak?” tanyaku pada Pak Zaenal.</p>
<p>“Nggak ngerti saya juga, Mas. Tapi kata orang-orang sih rampok, ada juga yang bilang binatang buas. Kasihan, bener-bener nggak nyangka,” jawab Pak Zaenal tanpa menoleh ke arahku.</p>
<p>“Siapa?”</p>
<p>“Mpok Indah,” ucap Pak Zaenal, “Lah, Mas kan kemarin juga ada di warung ya?”</p>
<p>Aku mengangguk. Lalu aku teringat semuanya. Aku teringat bagaimana aku mendengar obrolan mereka di warung semalam, juga apa yang kulihat dalam perjalanan pulang &#8230; leherku seperti tercekik. Dengan tubuh yang gemetar, aku berlari menerobos kerumunan warga, lalu melewati garis polisi dan menyerbu jasad yang sedang digotong ke ambulans. Seorang polisi mencoba menahanku, tapi aku mendorong sekuat tenaga hingga tubuhku menabrak tandu. Jasad Mpok Indah tergelincir jatuh. Tubuhnya yang penuh darah dan isi perutnya yang terburai keluar tergeletak di tanah, daging-daging di wajahnya yang menyembul keluar terlihat dengan jelas. Warga yang menyaksikan itu menjerit ketakutan.</p>
<p>Aku tidak jadi ke kantor. Polisi menanyai aku tentang apa yang kulihat pada malam sebelum kejadian. Aku menceritakan semuanya, mulai saat aku berangkat dari tempat kost sambil membawa buku novel, duduk di warung, memesan segelas kopi, lalu membaca buku dan menguping pembicaraan mengenai pocong yang dilihat Pak Ijul. Kukatakan pada mereka, aku tak melihat apapun yang mencurigakan. Semuanya tampak normal. Tak ada perampok yang mengendap-endap atau surat ancaman pembunuhan. Ketika aku harus menceritakan bagian saat aku pulang dari warung, ucapanku terhenti. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menceritakan apa yang kulihat di dekat pekuburan, soal buntalan putih yang bergerak-gerak, dan mayat yang berusaha keluar dari kain kafannya. Bukan karena aku takut mereka akan menertawaiku, tapi karena aku sendiri pun tidak bisa memercayainya.</p>
<p>Polisi tidak yakin kalau penyebab kematian Mpok Indah adalah perampokan, sebab tak ada barang yang hilang. Jasad Mpok Indah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi dari pengamatan sekilas, semua orang dapat menduga bahwa luka-luka mengerikan itu tidak diciptakan menggunakan golok atau celurit, tapi lebih mirip hasil koyakan kuku dan gigi. Dugaan yang paling kuat saat ini adalah binatang buas. Sayangnya, tak ada laporan binatang yang lepas dari kebun binatang manapun.</p>
<p>“Saya &#8230; yang semalem pulang paling terakhir,” ucap Pak Ijul, “tapi sumpah, saya nggak ngapa-ngapain! Waktu pulang, saya muter lewat gang sebelah, soalnya saya nggak berani lewat kuburan. Habis Shubuh tadi, saya baru nyadar kalau korek dan rokok saya yang masih setengah bungkus ketinggalan di warung. Terus, saya ke sana, siapa tau masih ada di meja warung. Tapi, pas saya ke warung, ada bau amis darah. Saya cari sumbernya, dan &#8230; ya &#8230; saya ngeliat Mpok Indah udah kayak gitu.”</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sejak kejadian itu, para warga laki-laki melakukan ronda setiap malam. Mereka membawa berbagai senjata tajam untuk melindungi diri, kalau-kalau binatang buas itu muncul lagi. Setelah pukul sembilan malam, warga yang tidak ikut ronda disarankan untuk tidak keluar rumah lagi sampai binatang itu berhasil ditangkap.</p>
<p>Warung kopi Mpok Indah sekarang sepi. Nurma dan pamannya sekarang menempati rumah di belakang warung untuk sementara waktu, aku yakin mereka pasti sangat tertekan. Orang-orang yang meronda lebih memilih untuk mampir ke kedai sate yang letaknya lebih dekat ke jalan raya. Selain mereka, tak banyak warga yang berkeliaran malam-malam, apalagi belakangan ini hujan deras selalu turun selepas maghrib.</p>
<p>Aku menghabiskan malam-malamku di dalam kamar, membaca novel sambil menyeduh kopi sendiri. Sesekali aku menatap sampul novel yang kubaca dan mulai membayangkan banyak hal. Mungkin, kalau yang kulihat saat itu benar, cepat atau lambat orang-orang akan menemukan selembar kain kafan kotor di selokan, juga sebuah lubang kosong di sudut pekuburan yang jarang didatangi peziarah.</p>
<p>Aku mendesah, lalu telentang di atas kasur. Hujan deras sudah berhenti beberapa menit lalu, jalanan pasti dipenuhi kubangan air, masih untung tidak sampai banjir. Aku melirik jam di atas meja, ternyata sudah pukul dua belas malam, aku harus tidur sekarang. Aku pun bangkit dan berniat mematikan lampu, namun belum sempat tanganku menyentuh sakelar, aku mendengar suara kecipak air dari luar. Aku mengintip lewat jendela kamar, siapa orang ceroboh yang bisa-bisanya menginjak kubangan air berkali-kali seperti itu? Lalu aku melihatnya. Di bawah tiang listrik, seseorang sedang berjalan pelan sambil menunduk. Kakinya melangkah dengan sembarangan, seperti dengan segaja menampar-nampar tanah becek. Kuperhatikan lagi, ia tampak sempoyongan, seperti pemuda yang sedang mabuk berat. Tapi dari rambutnya yang terurai panjang, sepertinya ia perempuan.</p>
<p>Ketika ia melewati sebuah lampu jalan yang redup, aku dapat melihat sebuah wajah yang hancur dan tubuh yang terkoyak-koyak. Aku menahan nafas sampai ia melintas dan tak terlihat lagi dari pandanganku. Aku bisa mengenalinya. Ia sudah pulang.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Besok paginya ada sebuah cerita yang beredar di kalangan tetangga. Katanya, Pak Ijul melihat sundel bolong di dekat tukang sate. Orang-orang mulai membayangkan, sundel bolong itu pasti memesan seratus tusuk sate, memakannya sekaligus, memperlihatkan punggungnya yang bolong, dan membuat Pak Ijul yang wajahnya mirip bokir itu terkencing-kencing ketakutan.</p>
<p>Kali ini aku tidak ikut tertawa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680263&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/12/27/warung-kopi-mpok-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Himejikuhibiniu</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/06/02/himejikuhibiniu/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/06/02/himejikuhibiniu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 10:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680255</guid>
		<description><![CDATA[Feni anak yang aneh, atau lebih tepatnya, anak yang bebal. Begitulah yang selalu diutarakan oleh guru-gurunya sewaktu SD. Feni memang bukan anak yang bodoh atau malas, ia bahkan selalu masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya. Makanya, saat itu orangtuanya tidak benar-benar merasa khawatir meskipun ada satu kejanggalan pada diri Feni. Ia bisa melihat apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680255&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feni anak yang aneh, atau lebih tepatnya, anak yang bebal. Begitulah yang selalu diutarakan oleh guru-gurunya sewaktu SD. Feni memang bukan anak yang bodoh atau malas, ia bahkan selalu masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya. Makanya, saat itu orangtuanya tidak benar-benar merasa khawatir meskipun ada satu kejanggalan pada diri Feni.</p>
<p><em>Ia bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. </em></p>
<p>“Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila ungu. Itulah warna pelangi,” ucap Bu Titin, guru SD-nya, sambil berusaha bersenandung dengan nada yang aneh.</p>
<p>Awalnya murid-murid merasa heran dengan penjelasan warna-warna itu. Sebelumnya mereka hanya mengenal tiga warna pelangi dan satu warna langit: merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Mereka bahkan tak tahu nila itu apa, selain sejenis ikan. Namun Bu Titin adalah guru yang realistis, ia memang sempat menggerutu karena lagu anak-anak itu terlampau menyederhanakan ilmu pengetahuan, tapi ia maklum, sebab ilmu memang harus diberikan secara bertahap. Ia pun berusaha untuk tetap sabar dan memberikan penjelasan sederhana.</p>
<p>&#8220;Bu, kenapa<span id="more-2444680255"></span> warnanya jadi banyak? Bukannya waktu dulu katanya cuma merah kuning hijau?&#8221; tanya Fadil, salah seorang anak yang terkenal paling kritis.</p>
<p>“Di kelas yang lalu, kalian memang baru diajarkan tiga warna pelangi. Nah karena kalian sekarang sudah naik kelas, maka warna pelanginya kita tambah agar semakin lengkap,” ucap Bu Titin ketika menjawab pertanyaan salah satu muridnya. Dalam pikirannya, toh anak-anak ini nanti juga akan mengerti kalau jenis-jenis warna tidak hanya terbatas pada apa yang ada di dalam boks krayon mereka.</p>
<p>“Tapi kok Feni udah tahu lebih lengkap?” sahut Rio, anak yang duduk di baris paling belakang.</p>
<p>“Maksudnya?”</p>
<p>Semua mata tertuju pada Feni yang duduk di barisan kedua dari belakang. Anak perempuan bermata bulat itu melongo ketika menjadi pusat perhatian. Ia memang tidak banyak bicara di kelas, apalagi mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Kalau ia punya komentar atau pertanyaan, biasanya ia tanyakan pada teman sebangkunya dengan berbisik-bisik.</p>
<p>“Iya Bu. Sebelum warna merah, ada warna hitam. Jadinya hi-me-ji-ku-hi-bi-ni-u,” Feni menjelaskan dengan yakin.</p>
<p>Seisi kelas mulai ricuh dengan gumaman: Fen, kok kamu lebih pintar dari Bu Guru? Atau: Fen, kamu pasti dikasih tahu oleh abangmu yang sudah SMP ya?</p>
<p>Bu Titin hanya tertawa mendengar ucapan anak itu. Pikirnya, wajar bila anak kecil memiliki imajinasi yang berlebih. Meski ia bukan sarjana dalam bidang ilmu alam, tapi ia tahu, tidak ada warna hitam pada pelangi. <em>Duh</em>, bahkan hitam itu sendiri sebenarnya bukan sebuah warna, jadi tidak mungkin terurai dari cahaya matahari. <em>Feni pasti salah lihat, buta warna parsial, atau sengaja mengarang cerita untuk mencari perhatian dari teman-temannya. </em></p>
<p>&#8220;Tidak ada warna hitam di pelangi, Feni,&#8221; ujar Bu Titin.</p>
<p>&#8220;Ada, Bu!&#8221; kilah Feni berkeras.</p>
<p>&#8220;Tidak ada, Fen.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada!&#8221;</p>
<p>Melihat Feni yang begitu keras kepala, Bu Titin menjadi kesal. Ia ingin melotot dan membentak Feni, tapi ia tahu hal itu akan berakibat buruk. <em>Ilmu pengetahuan harus diajarkan lewat cara-cara dialog, bukan dengan indoktrinisasi</em>, Bu Titin berkata dalam hati. Setelah menenangkan diri, ia pun mencoba cara yang lebih demokratis.</p>
<p>&#8220;Baik, mungkin menurut Feni memang ada warna hitam pada pelangi. Boleh-boleh saja berpendapat yang beda, tapi harus ada buktinya dong. Ibu sendiri nggak pernah tuh melihat warna hitam pada pelangi. Lalu bagaimana dengan teman-teman kamu? Coba, anak-anak, selain Feni apa ada yang pernah melihat warna hitam pada pelangi?&#8221; tatapan Bu Titin menyisir seisi kelas. Namun murid-murid hanya saling pandang dan menggerutu, seolah tak yakin kapan terakhir kali mereka benar-benar melihat pelangi secara langsung. <em>Dasar anak zaman sekarang, sudah tidak suka memperhatikan alam</em>, gumam Bu Titin. Tapi ia sendiri pun sebenarnya tidak ingat kapan terakhir kali melihat pelangi. Kalau tidak salah sewaktu ia masih SMA. Sudah selama itu? Selebihnya ia hanya melihat pelangi di foto-foto dan televisi. Tapi apa mungkin warna pelangi sudah berubah?</p>
<p>Debat kusir itu pun berlanjut. Bu Titin berkeras dengan pengetahuan yang ia miliki, sementara Feni masih yakin dengan pengelihatannya. Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Pada penghujung semester, Feni tetap masuk tiga besar ranking di kelas, jadi sepertinya Bu Titin tidak mempermasalahkan perdebatan itu. Namun ia sempat berbicara dengan orangtua Feni mengenai keanehan anak tersebut. Tapi sekali lagi, saat itu orangtuanya tidak merasa khawatir. Mereka pikir, ini cuma khayalan anak-anak biasa.</p>
<p>Setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun pun berlalu. Banyak yang sekarang telah berubah. Kini Feni sudah bukan lagi seorang anak kecil. Rok merahnya sudah berganti warna menjadi biru, dan mulai muncul jerawat di pipinya yang dulu mulus. Rambutnya ia biarkan tumbuh panjang dan diikat kuncir dua, tubuhnya bertambah tinggi, buah dadanya juga mulai tumbuh seiring dengan masa pubertas yang tiba cukup awal. Tapi ada satu hal yang tak juga berubah dari diri Feni: <em>setiap mengamati pelangi, ia masih melihat warna hitam itu</em>.</p>
<p>Feni bukan gadis yang cuek, ia tidak semerta-merta memaksakan pendapatnya tanpa alasan. Ia bahkan telah membuktikannya berkali-kali. Setiap turun hujan, ia membuka jendela dan menunggu dengan was-was, menunggu rintik-rintik hujan mereda dan cahaya matahari kembali muncul dengan malu-malu. Semua anggota keluarganya sudah paham dengan kebiasaannya itu. Dan jikalau ia menemukan busur pelangi di langit pasca hujan, ia akan berguman, “Tuh kan,” sambil menunjuk pelangi itu. Ada hitam di sana, hitam yang pekat seperti bola matanya.</p>
<p>Beratus pengakuan sudah ia utarakan, berbagai foto hasil potretannya juga sudah ia perlihatkan, tapi tak ada satu pun orang yang sependapat dengannya. Ia masih tetap melihat warna hitam pada pelangi, tapi dalam dirinya juga mulai berkecamuk kegelisahan. Ada yang salah. Entah apakah matanya yang rusak atau mata orang lain yang tidak cukup jeli. Ia mulai menimbang-nimbang, haruskah ia berpura-pura tidak melihat warna hitam itu, agar orang-orang tidak menganggapnya aneh? Haruskah ia membohongi dirinya sendiri demi mendapatkan penerimaan orang lain? Tapi setelah merenung terus-menerus, akhirnya ia memutuskan akan terus jujur dengan apa yang ia lihat. Keputusan itulah yang membuat ia sempat terlibat adu mulut dengan guru fisikanya di SMP.</p>
<p>Dalam pelajaran fisika mengenai cahaya, lagi-lagi Feni mengungkapkan apa yang dilihatnya. Namun kali ini berbeda, guru fisikanya bukan Bu Titin, dan ia sudah bukan anak SD lagi. Guru fisika itu tak bisa memaklumi keanehannya, ia dianggap bodoh dan malas belajar. Teman-teman sekelasnya juga tak bisa memaklumi, mereka semua menertawakannya. Namun Feni tidak peduli, ia tetap mengatakan apa yang ia alami, bahwa ada warna hitam pada pelangi. Akhirnya, ia disuruh untuk mengikuti tes mata di rumah sakit. Mereka curiga kalau mata Feni mengalami masalah. Namun ternyata hasilnya normal. Ia tidak buta warna, bermata minus pun tidak.</p>
<p>Merasa gagal dengan tes mata, Feni kemudian dibawa ke psikiater. Mungkin saja bukan matanya yang salah, tapi pikirannya yang mengalami gangguan. Delusi yang tidak terkendali, skizofrenik, atau mungkin trauma yang terpendam, entah apa namanya. Tapi sayangnya, tak ada vonis yang memuaskan dari psikiater. Alasannya, karena satu-satunya keanehan pengelihatan yang ia alami hanyalah warna hitam pelangi itu, yang lainnya normal. Seandainya Feni pernah mengalami jenis delusi yang lain, mungkin psikiater itu bisa memberinya semacam terapi. Vonis yang bisa diberikan untuk keanehan Feni akhirnya tergerus menjadi satu: <em>Feni berusaha mencari perhatian dengan mengarang cerita aneh</em>. Dugaannya, mungkin Feni kurang perhatian dan kasih sayang dari keluarga.</p>
<p>Mendengar nasihat psikiater, orangtua Feni semakin khawatir. Mereka mulai mengintrospeksi diri. Benarkah selama ini mereka kurang memberi kasih sayang kepada Feni? Ayah Feni juga bertanya-tanya apakah ia terlalu sibuk bekerja hingga tak sempat memperhatikan anak bungsunya itu? Semenjak pulang dari psikiater, Feni jadi lebih sering dimanja, dilindungi, dianak-emaskan, sampai kakaknya pun kadang merasa iri. Pikir mereka, kalau gadis remaja ini sudah cukup mendapat perhatian dan kasih sayang, maka ia tak perlu lagi mengarang cerita aneh. Setidaknya mereka harus berusaha sekarang, sebelum semuanya terlambat dan gangguan kejiwaan Feni menjadi semakin parah.</p>
<p>Tapi rupanya, sebanyak apapun perhatian yang diberikan orangtua dan teman-temannya, warna hitam pada pelangi itu tak juga hilang dari pengelihatan Feni. Semua orang sudah pasrah, tak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Mungkin memang tak perlu dipermasalahkan lagi, <em>toh</em> kelainan itu tak pernah merugikan siapapun. Paling hanya guru fisikanya saja yang sering dibuat kesal.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian, Feni tumbuh dewasa menjadi seorang wanita yang cerdas dan mandiri. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta dan dalam waktu singkat berhasil meraih jabatan yang penting, semua itu berkat keuletannya. Melihat kesuksesan Feni, semua orang berdecak kagum, tak ada lagi yang mempermasalahkan<em>keyakinan</em>nya tentang warna pelangi. Sebagian orang bahkan mulai lupa dengan keyakinan Feni itu, sebab seiring bertambahnya usia dan kesibukan, Feni jadi semakin jarang membicarakan pelangi. Namun bukan berarti warna hitam itu sudah hilang. Pelangi yang dilihat Feni masih sama, masih <em>himejikuhibiniu</em> seperti dulu. Di dalam hati, Feni belum merasa dirinya sukses. Baginya, selama belum ada penjelasan memuaskan tentang warna hitam yang selalu ia lihat itu, berarti pencarian dalam hidupnya masih akan terus berlangsung.</p>
<p>Setiap selesai hujan, ia memandangi pelangi di langit dan berandai-andai apakah ada orang lain yang juga melihat warna hitam itu selain dirinya? Hingga pada suatu sore, ia datang ke sebuah pembukaan pameran lukisan di galeri yang letaknya bersebelahan dengan tempat ia bekerja. Ia bukan pengamat seni, tapi yang mengundang langkahnya ke galeri itu adalah judul pamerannya: <em>Warna Cahaya</em>. Dua kata itu adalah kata yang selalu menjadi biang masalah dalam kehidupannya sejak kecil.</p>
<p>Ketika ia masuk ke dalam galeri, orang-orang sudah ramai berkumpul. Makanan ringan dan minuman hangat disajikan di atas meja, sementara sang kurator sedang memberi sambutan di depan mikrofon. Ternyata pameran ini adalah pameran bersama, ada sekitar tujuh orang seniman yang memamerkan karya-karyanya. Feni tak banyak menyimak, isi pikirannya masih terganggu dengan judul pameran itu. Setelah acara pembukaan selesai, Feni pun melangkah dengan canggung mengelilingi ruang galeri. Lukisan yang dipajang berukuran besar-besar dan kebanyakan merupakan lukisan abstrak. Ia tak mengerti apa-apa soal lukisan abstrak, tapi ia berusaha menikmati warna-warna cerah yang bertumpuk di atas kanvas.</p>
<p>Lukisan demi lukisan ia perhatikan dengan penuh rasa ingin tahu. Tanpa terasa, kakinya melangkah hingga ke ujung ruang galeri. Di pojok ruangan, ia melihat sebuah lukisan yang tampak berbeda. Ukuran lukisan itu jauh lebih kecil dari lukisan-lukisan lain, mungkin panjang sisi-sisinya tak lebih dari satu meter. Merasa penasaran, langkahnya bergegas mendekati lukisan itu. Sesuatu yang aneh terjadi pada diri Feni ketika ia menatap lukisan itu; jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat dan matanya berair. Ada lukisan pelangi di sana. Sebuah busur pelangi yang melengkung dari satu sisi ke sisi lain, dibuat dengan goresan kuas yang cukup halus. Dan satu hal yang membuat lukisan itu spesial: ada warna hitam pada pelangi itu.</p>
<p>Ia merasa kosong. Tidak, ia merasa utuh. Ia masih tidak tahu jawaban dari pertanyaannya, tapi entah mengapa ia merasa pertanyaannya telah terjawab. Lukisan yang ada di hadapannya sepintas memang tidak istimewa, bahkan tak beda jauh dengan lukisan anak-anak. Tidak ada bentuk yang aneh, hanya lukisan pelangi dan sebuah jendela rumah. Tapi warna hitam itu&#8230; warna hitam itu seolah berbisik kepadanya, bahwa ia tidak sendirian. Tanpa mampu ditahan, air mata mengalir pelan dari kedua mata Feni, ia pun mulai terisak. Sedih, terharu, bahagia, semua perasaan menjadi satu. Tapi sebuah pertanyaan tak terhindarkan muncul dalam benaknya, siapa yang membuat lukisan ini?</p>
<p><em>Pelukismu agung, siapa gerangan?</em> Lagu anak-anak itu terngiang. <em>Siapa gerangan? Siapa?</em></p>
<p>“Hanya Mbak saja yang tertarik memandangi lukisan saya,” sebuah suara lelaki muncul dari belakang punggungnya.</p>
<p>Feni berbalik, ia kaget melihat seorang lelaki berperawakan tinggi dan berambut gondrong sudah berdiri di sana. Tak butuh waktu lama bagi Feni untuk membuat kesimpulan bahwa pria inilah pelukisnya. Ia menyeka air matanya dan menatap laki-laki tersebut. Rasa hangat memenuhi dada, seluruh tubuhnya seperti bersuka-cita. Bukan, ini bukan perasaan seperti orang yang sedang jatuh cinta, perasaan ini seperti ketika kita berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.</p>
<p>Beberapa saat lamanya, Feni hanya menatap laki-laki itu tanpa sepatah kata pun, mulutnya terasa kaku. Tapi pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bercerita. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ajaib ini. Dan anehnya, meski ia tak tahu apa-apa tentang lelaki di hadapannya, tapi ia merasa seperti telah mengenalnya dengan akrab. Dengan lancar ia menceritakan semua pengalamannya tentang warna hitam pelangi yang selalu ia lihat, bagaimana orang-orang selalu mengejeknya, dan bagaimana ia kadang merasa ragu dengan dirinya sendiri.</p>
<p>“Apa yang nyata, dan apa yang tidak nyata?” lelaki itu bergumam, “Mbak, pelangi yang selalu Mbak lihat adalah pelangi yang memiliki warna hitam. Iya kan?”</p>
<p>Feni mengangguk.</p>
<p>“Lalu apa Mbak yakin, kalau <em>dunia dimana pelangi tak memiliki warna hitam</em> itu benar-benar ada?”</p>
<p>Pertanyaan itu membuat pikiran Feni berputar dan seperti kehilangan kesadarannya selama beberapa saat. Suaranya mendengung-dengung di dalam rongga telinga, terdistorsi menjadi bunyi-bunyian yang tak lagi memiliki bahasa. Hingga ketika pelukis itu mengucap pamit dan berjalan ke arah kerumunan orang, ia baru sadar dari lamunannya, seperti orang yang terkena sihir. Ia berusaha mengejar lelaki itu, tapi ia kehilangan jejak, mungkin sudah membaur dengan orang-orang yang sedang menikmati cemilan di ruang depan.</p>
<p>Ia bahkan tak menanyakan namanya, di dekat lukisan tadi juga tak ada <em>caption</em> seperti lukisan yang lain. Betapa bodoh, seharusnya ia berkenalan dulu sebelum mulai bercerita. Lalu ia ingat dengan katalog pameran yang sejak tadi ia pegang. Ia membolak-balik katalog itu, tapi tak menemukan lukisan pelangi yang ia maksud. Ia pun berjalan menghampiri seorang perempuan berkemeja putih di meja resepsionis.</p>
<p>“Maaf Mbak, lukisan yang di sudut itu kok nggak ada di katalog ya?” tanya Feni dengan agak panik.</p>
<p>“Lukisan di sudut yang mana ya?”</p>
<p>“Itu, di dinding yang itu. Lukisan pelangi.”</p>
<p>“Itu kan dinding kosong, Mbak, nggak ada lukisan di sana,” petugas itu mengerutkan dahi.</p>
<p>Feni melotot. Mustahil, bahkan ketika sekarang ia menoleh ke arah dinding itu, ia masih bisa melihat lukisan pelangi tadi dengan jelas. Sangat jelas, sangat jelas seperti warna hitam pada pelangi yang selalu ia lihat selepas hujan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680255&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/06/02/himejikuhibiniu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata Ayam</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/05/16/mata-ayam/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/05/16/mata-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 May 2011 16:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680247</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang mata itu selalu menghantui Gufran. Ia tidak kenal mata itu, namun ia yakin mata itu bukan mata manusia. Bentuknya terlalu kecil dan bulat, bahkan meski hanya melihatnya di dalam mimpi pun, ia benar-benar yakin akan hal itu. Setiap kali bangun tidur di pagi hari, sepasang mata itu masih terus terbayang. Gufran sudah mencoba menceritakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680247&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang mata itu selalu menghantui Gufran. Ia tidak kenal mata itu, namun ia yakin mata itu bukan mata manusia. Bentuknya terlalu kecil dan bulat, bahkan meski hanya melihatnya di dalam mimpi pun, ia benar-benar yakin akan hal itu. Setiap kali bangun tidur di pagi hari, sepasang mata itu masih terus terbayang. Gufran sudah mencoba menceritakan hal ini pada beberapa orang temannya, namun tak ada yang menanggapi dengan serius. Sebagian temannya mengatakan bahwa Gufran terlalu berlebihan dalam menanggapi mimpi, sebagian lagi meledek Gufran sudah gila.</p>
<p>Namun dalam mimpinya yang terbaru, semuanya menjadi jelas. Sepasang mata itu bergerak agak menjauh, sehingga ia bisa melihat bahwa pemilik mata itu<span id="more-2444680247"></span> adalah seekor ayam. Ayam jantan, lengkap dengan jengger dan paruhnya, yang selalu menatapnya penuh teka-teki selama lima malam berturut-turut. Ayam itu tidak berkokok dan tidak pula mengeluarkan suara lain, ia hanya menatap bisu, terkadang menggerakkan kepalanya ke kanan atau ke kiri. Saat Gufran menceritakan bahwa yang selama ini menghantuinya di dalam mimpi adalah seekor ayam, teman-temannya semakin yakin bahwa Gufran sudah gila.</p>
<p>Maka siang ini ia pun mendatangi psikiater di klinik kantornya. Biasanya para pegawai mendatangi psikiater itu karena mengalami stres di tempat kerja atau karena ada permasalahan rumah tangga, namun baru kali ini ada pasien yang datang dan mengadu bahwa dirinya dihantui seekor ayam.</p>
<p>&#8220;Apakah Bapak sedang diliputi perasaan bersalah karena suatu hal?&#8221; tanya psikiater itu, wanita berkemeja putih dan berkacamata.</p>
<p>Gufran menggeleng. Ia tidak merasa telah melakukan kesalahan apa-apa belakangan ini. Tidak pula ia merasa telah menyakiti seseorang.</p>
<p>&#8220;Bapak pernah merasa tertekan karena diawasi orang lain? Misalnya oleh atasan di kantor, atau oleh anggota keluarga?&#8221;</p>
<p>Gufran berpikir sejenak. Pekerjaannya memang akhir-akhir ini agak berantakan, tapi itu terjadi setelah ia dihantui oleh mimpi-mimpi anehnya. Sebelum itu, pekerjaannya terbilang sangat baik, bahkan beberapa kali dipuji atasan. Di rumah, istrinya juga tak pernah menuntut macam-macam. Ia adalah wanita yang sabar dan menerima Gufran apa adanya. Walau memang, terkadang ia penasaran apakah istrinya pernah memendam kekesalan terhadap dirinya. Tapi untungnya sejauh ini mereka sangat jarang bertengkar. Gufran juga bukan teroris dan tidak pernah punya indikasi ke arah sana, ia tak pernah merasa diawasi intel atau polisi.</p>
<p>Gufran menggeleng.</p>
<p>Psikiater itu melirik ke arah langit-langit, tampak sedang mencari-cari pertanyaan selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Kapan terakhir kali Bapak <em>refreshing</em>? Misalnya piknik bersama keluarga?&#8221;</p>
<p>Gufran mencoba mengingat-ingat. Mungkin terakhir kali ia dan istrinya pergi jalan-jalan adalah ketika mereka berbulan madu dulu. Ia memang sibuk bekerja, sementara akhir pekan selalu ia habiskan untuk istirahat di rumah. Mungkinkah itu yang menyebabkan pikiran Gufran menjadi stres? Karena kurang <em>refreshing</em>? Atau mungkin saja masalah lain yang selalu berusaha ia abaikan, seperti kenyataan bahwa hingga saat ini ia masih tak dikaruniai keturunan.</p>
<p>&#8220;Sudah lama. Terakhir kali waktu bulan madu dengan istri,&#8221; jawab Gufran.</p>
<p>Psikiater itu mengangguk-angguk, lalu menuliskan sesuatu di atas kertas resep. Sebuah dosis obat penenang yang akan membuat Gufran bisa tidur lebih nyenyak dan meredakan ketegangan pikirannya. Mungkin dengan pikiran dan tubuh yang lebih tenang, mimpi aneh itu tidak akan muncul lagi.</p>
<p>&#8220;Baiklah, ini untuk sementara saja, setelah ada perkembangan nanti Bapak harus datang ke sini lagi. Oh ya, satu lagi. Apa sesaat sebelum mimpi-mimpi itu muncul, Bapak pernah… hmm… menatap seekor ayam?&#8221; tanyanya, agak ragu.</p>
<p>Di antara semua pertanyaan tadi, pertanyaan terakhir itulah yang paling membekas dalam pikirannya. Pernahkah ia menatap seekor ayam? Ia benar-benar ragu. Ia tidak pernah memelihara ayam atau unggas lainnya, tapi bukannya tak mungkin. Setiap hari ia berangkat kerja menggunakan bus karyawan, dan jarak antara rumahnya dan halte bus memang lumayan jauh. Ia selalu menempuh jarak itu dengan berjalan kaki, tepat sehabis Shubuh. Dan pada jam-jam seperti itu, ia seringkali melewati rumah para tetangga yang memelihara ayam, sebagian di antaranya adalah ayam jantan yang rajin berkokok.</p>
<p>Ia tidak yakin apakah ia harus memeriksa seluruh ayam tetangganya, jadi ia memutuskan untuk langsung pulang dan meminum obat yang baru saja ia tebus.</p>
<p>Sebenarnya ia tak berharap banyak, tapi di luar dugaan, obat penenang itu bekerja dengan baik. Gufran bisa tidur nyenyak dan tidak lagi memimpikan ayam itu, ia bahkan tak bermimpi sama-sekali. Ia bangun saat adzan Shubuh berkumandang, lalu secara spontan ia tersenyum dan bersyukur dalam hati. Betapa nikmatnya bisa tidur nyenyak tanpa dipelototi oleh seekor ayam. Saat istirahat makan siang nanti, ia akan mendatangi sang psikiater dan mengucapkan terima kasih karena obat yang diberikannya sangat manjur.</p>
<p>Gufran mengusap-usap pundak istrinya yang masih tidur di sebelahnya. &#8220;Bu, bangun. Sudah Shubuh.&#8221;</p>
<p>Istrinya menggeliat pelan dan menoleh ke arahnya, tatapannya menyelidik. &#8220;Tidurmu nyenyak, Pak?&#8221;</p>
<p>Ia terus memperhatikan wajah Gufran dan menangkap senyum lebar di bibirnya. Ia ikut tersenyum bahagia, sebab akhir-akhir ini ia juga ikut terganggu karena suaminya itu sering terbangun tengah malam dan kadang berteriak sendiri dalam tidurnya. Senyum yang terukir di wajah Gufran membuktikan bahwa semua itu sudah berlalu.</p>
<p>Tapi kening wanita itu mengerut ketika ia menyadari senyuman Gufran tiba-tiba saja berubah menjadi ekspresi ketakutan. Ekspresi ketakutan luar biasa yang belum pernah ia lihat di wajah suaminya itu. Mulut Gufran menganga, matanya melotot, pundaknya gemetar, dan berkali-kali ia menelan ludah. Matanya tertuju pada satu titik di belakang punggung istrinya.</p>
<p>&#8220;Ayam! Ayam!&#8221; teriak Gufran panik.</p>
<p>Istrinya menoleh ke belakang, ke arah yang ditunjukkan Gufran, tapi ia tak melihat apa-apa. Hanya Gufran yang bisa melihatnya, seekor ayam yang sedang berdiri kaku di pojok kamar, diterangi cahaya lampu meja yang samar, sementara sinar matahari di luar sana masih belum begitu terang.</p>
<p>Tidak berhenti sampai di situ, ayam misterius itu mengikuti Gufran kemanapun ia pergi. Ketika ia mandi, ayam itu masuk ke dalam kamar mandi. Meski ia berusaha mengunci pintu, namun tampaknya ayam itu bisa menembus dinding. Ketika ia sarapan sebelum berangkat kerja, ayam itu menunggu di kolong meja. Ketika ia berangkat ke kantor, bahkan di dalam bus karyawan, ayam itu terus mengikutinya dan menatapnya bisu.</p>
<p>&#8220;Pak, tadi waktu bangun tidur kenapa sih?&#8221; tanya istrinya saat mereka sedang sarapan.</p>
<p>&#8220;Nggak apa-apa, cuma salah lihat,&#8221; jawab Gufran berbohong.</p>
<p>Satu-satunya alasan kenapa Gufran tidak menjerit histeris sambil membenturkan kepalanya ke tembok adalah karena ia tak ingin terlihat seperti orang gila. Ia mungkin memang sudah gila, tapi ia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Saat ia bermimpi buruk selama seminggu, istrinya masih bisa sabar. Menurutnya mimpi buruk itu hal yang wajar dialami orang yang sedang banyak pikiran. Untung istrinya tidak tahu kalau yang muncul dalam mimpinya itu adalah seekor ayam. Kalau istrinya sampai tahu bahwa halusinasinya sudah sampai separah ini, entah apa ia masih bisa bersabar. Ia juga tak mau menemui psikiater itu lagi. Kalau sampai psikiater itu tahu dirinya sudah segila ini, mungkin ia akan disuruh tinggal di rumah sakit jiwa. Lalu semua orang akan benar-benar yakin bahwa Gufran gila, Gufran sinting. Lalu ia akan diberhentikan dari pekerjaannya karena harus dirawat di RSJ, mungkin istrinya juga akan meminta cerai dan menikah lagi dengan lelaki lain yang lebih waras. Ia tidak ingin hal itu terjadi.</p>
<p>Di kantor, Gufran bekerja di bagian administrasi. Pekerjaannya menuntutnya untuk duduk di depan komputer sepanjang hari. Dan sepanjang hari itu pula, sang ayam menatapnya. Ayam itu berdiri dalam jarak kurang lebih dua meter dari meja kerja Gufran, tak bersuara dan tak bergerak. Namun tetap saja hal itu membuat Gufran ketakutan. Setiap beberapa menit sekali, matanya melirik ke arah ayam tersebut, berharap makhluk itu sudah lenyap, tapi itu tak pernah terjadi. Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya tentu saja tak bisa melihat ayam itu, sebab kalau mereka melihat, sudah pasti akan ada yang berusaha mengusirnya. Akhirnya Gufran tidak bisa berkonsentrasi, pekerjaannya tidak beres. Mau tidak mau, ia pun meminta izin dan mengatakan bahwa ia sedang sakit dan perlu istirahat. Untunglah atasannya percaya karena memang ada surat dari psikiater yang pernah didatanginya.</p>
<p>Meski berhasil keluar kantor lebih awal, namun ia tak langsung pulang. Sejak turun dari angkutan umum ia berjalan tanpa tujuan. Terkadang ia berhenti di sebuah warung untuk sekedar minum air mineral, dan ketika ia menoleh ke arah belakang, ayam itu masih tetap di sana. Setiap kali ia mencoba mendekati ayam itu dan ingin menyentuhnya, ayam itu selalu berjalan menjauh. Ayam itu dan Gufran adalah seperti bulan dalam pengelihatan anak kecil. Kalau dijauhi ia akan mengejar, tapi kalau didekati ia tak akan pernah bisa ditangkap. Ia benar-benar tak tahan melihat ayam itu, rasanya ingin berteriak lepas tanpa memedulikan yang lain.</p>
<p>Beberapa blok dari tempat tinggal Gufran, ada sebuah lapangan yang cukup besar. Biasanya lapangan itu digunakan anak-anak untuk bermain bola, layangan, atau acara tujuh belasan. Tapi bila tak ada kegiatan apa-apa, lapangan itu biasanya dibiarkan kosong. Gufran juga jarang melewati tempat itu, sebab dia memang tidak terlalu suka menonton pertandingan olahraga. Dan sekarang, saat melewati lapangan itulah, Gufran menemukan apa yang selama ini ia cari-cari.</p>
<p>Tiga orang pria setengah baya sedang berkumpul di salah satu sudut lapangan. Gufran tidak mengenal mereka, kecuali salah satu pria yang memakai kaos putih dan sarung bermotif kotak-kotak. Ia adalah Pak Jabir, wakil ketua RT di lingkungan tempat Gufran tinggal. Gufran tidak begitu akrab dengan Pak Jabir, sebab orang itu memang terkenal kurang bersahabat.</p>
<p>Yang membuat Gufran membelalakkan matanya bukanlah ketiga orang itu, tapi dua ekor ayam jantan yang sedang bertarung di tengah-tengah kerumunan mereka. Gufran bukan pencinta ayam, namun ia sudah sangat hapal dengan salah satu ayam yang sedang diadu itu. Tidak salah lagi, itu adalah ayam yang terus menghantuinya, itu adalah ayamnya. Ia menoleh ke belakang. Ayam hantu itu ternyata hilang, mungkin karena wujud aslinya sudah ketahuan.</p>
<p>Dari seberang lapangan Gufran memperhatikan acara sabung ayam itu. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah acara seperti itu diperbolehkan, dan kenapa yang terlibat di dalamnya justru adalah seorang wakil ketua RT? Meski ia tidak suka memelihara hewan, tapi dalam hatinya ia merasa bahwa menjadikan hewan sebagai barang aduan adalah hal yang kejam. Apalagi kalau dijadikan sarana berjudi.</p>
<p>Ayam yang dikenalinya adalah ayam yang berdiri di sebelah kanan. Tampaknya ayam itu adalah milik Pak Jabir, terlihat dari posisi berdiri mereka. Kedua hewan unggas itu bertarung dengan sengit, sesekali terdengar suara salah satu ayam yang berkokok dengan payah, seperti sedang kesakitan dan menderita. Namun ayam Pak Jabir sama sekali tak bersuara, ia terus menyerang dengan gesit mengikuti insting hewaninya untuk mempertahankan diri. Mungkin ia tak punya pilihan, mungkin karena ia hanyalah seekor ayam. Dan sesuai dengan dugaan, ayam itu keluar sebagai pemenang. Pak Jabir menggendong ayamnya dan mengelus-elus dengan bangga, tapi ayam itu malah menatap Gufran, dengan tatapan mata yang sudah sangat familiar dalam mimpi-mimpinya. Seolah ia memang ingin menyampaikan sesuatu. (lanjut ke halaman 2)<br />
***</p>
<p>&#8220;Bu, bangun. Sudah pagi,&#8221; Gufran mengusap-usap pundak istrinya. Ia memang sengaja tidak membangunkannya saat Shubuh, sebab ia tahu istrinya sedang haid, jadi tidak perlu bangun untuk shalat.</p>
<p>&#8220;Waduh, kesiangan!&#8221; ujar istrinya sesaat setelah benar-benar terbangun.</p>
<p>&#8220;Tenang, kan lagi nggak shalat. Lagipula sekarang kan hari Sabtu, aku libur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi kan tetap harus nyiapin sarapan. Mau sarapan pakai apa?&#8221;</p>
<p>Gufran tersenyum, lalu berjalan pergi meninggalkan istrinya yang masih menguap dan menggeliat di atas kasur.</p>
<p>&#8220;Ditanya kok malah pergi sih?&#8221; gumam sang istri, kemudian ia masuk ke kamar mandi dan mencuci muka.</p>
<p>Keluar dari kamar mandi, ia pun bergegas menuju dapur. Namun belum sempat ia menginjakkan kaki di lantai dapur, ia dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya di atas meja makan.</p>
<p>&#8220;Lho, ini dari siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan dari siapa-siapa. Aku yang buat kok!&#8221; sahut Gufran dari arah dapur, ia datang sambil membawa bakul nasi.</p>
<p>&#8220;Sejak kapan Bapak jadi suka nyiapin sarapan? Dan kapan, kok sempat-sempatnya? Ayam bakar pula!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi pagi sebelum matahari terbit,&#8221; ucap Gufran, lalu menyendokkan nasi ke atas piring istrinya.</p>
<p>&#8220;Tapi apa nggak terlalu banyak? Ayam utuh lho, kita kan cuma berdua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, jangan dibuat pusing. Kalau nggak habis nanti kan bisa untuk makan siang.&#8221; Gufran menggeser kursi dan mempersilakan istrinya duduk.</p>
<p>Meski masih terlihat bingung, namun istri Gufran perlahan-lahan memperlihatkan senyuman di wajahnya. Mereka saling tatap dan terdiam sambil menghirup aroma ayam bakar yang menggugah selera. Sebelum mengambil garpu dan sendok, istri Gufran menggenggam tangan suaminya dan meremasnya erat.</p>
<p>&#8220;Nggak nyangka, ternyata Bapak ingat hari ulang tahun pernikahan kita,&#8221; ujar istrinya, tersenyum manja.</p>
<p>Nafas Gufran tertahan sejenak, ia terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Apakah ini sebuah kebetulan? Lalu ia ingat dengan ayam itu. Ayam milik Pak Jabir yang ia curi diam-diam, ia sembelih dengan terburu-buru, lalu dijadikannya ayam bakar. Ia ingat, bagaimana ayam itu membisikkan sesuatu yang tidak masuk akal di telinganya, sesaat sebelum lehernya putus oleh pisau. Suara bisikan yang mungkin menjadi alasan kenapa ia tak pernah mendengar ayam itu berkokok.</p>
<p><em>Lebih baik mati berguna daripada hidup teraniaya</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680247&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/05/16/mata-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nada Terakhir Untuk Robi</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/03/12/nada-terakhir-untuk-robi/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/03/12/nada-terakhir-untuk-robi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2011 17:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thriller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680243</guid>
		<description><![CDATA[Robi, seperti Hachiko yang menunggu majikannya pulang, selalu duduk di tempat yang sama setiap senja. Di kursi tua di depan danau, anak sepuluh tahun itu menatap langit yang semakin lama semakin redup kehabisan cahaya. Ia memelihara seekor anjing yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Lucunya, anjing itu juga bernama Robi&#8211;bukan Hachiko. Menamakan nama anjing sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680243&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Robi, seperti Hachiko yang menunggu majikannya pulang, selalu duduk  di tempat yang sama setiap senja. Di kursi tua di depan danau, anak  sepuluh tahun itu menatap langit yang semakin lama semakin redup  kehabisan cahaya. Ia memelihara seekor anjing yang selalu mengikutinya  kemanapun ia pergi. Lucunya, anjing itu juga bernama Robi&#8211;bukan  Hachiko. Menamakan nama anjing sama dengan nama pemiliknya tentu adalah  hal yang terasa agak kejam, namun kenyatannya memang Robi sendirilah  yang memberinya nama demikian. Masalah dalam identifikasi diri, gangguan  dalam pertumbuhan kejiwaan, begitulah kata orang-orang.</p>
<p>Robi dan  Robi sudah lama dikenal oleh warga sekitar Danau Panorama, sebuah danau  yang terletak di dalam Perumahan Panorama Permai, perumahan yang sering  terendam banjir ketika musim hujan tiba. Menurut warga penghuni  perumahan, orangtua Robi terseret arus ketika terjadi banjir setahun  yang lalu, kemudian<span id="more-2444680243"></span> tenggelam ke dalam danau. Hingga kini jasad mereka  tak pernah ditemukan, entah karena danau itu terlalu luas atau karena  orang-orang tidak teliti mencarinya. Setelah peristiwa itu, Robi hidup  sebatang kara, lebih tepatnya berdua dengan Robi Sang Anjing. Ia pernah  diajak salah seorang anggota keluarganya untuk tinggal bersama di  Sumatera, namun ia berontak. Entah apa alasannya, orang itu akhirnya  menyerah dan malah menitipkan Robi pada Rusdian, seorang satpam  perumahan Panorama Permai.</p>
<p>Rusdian sudah beristri, tapi ia tak  memiliki anak. Mungkin itulah alasannya ia bersedia merawat kedua Robi  itu, meski istrinya kurang suka dengan anjing. Awalnya ia berusaha  membiayai sekolah Robi dengan bantuan warga, tapi Robi selalu menolak  pergi ke sekolah dan akhirnya dikeluarkan. Ia sadar, anak itu memang  sifatnya keras dan sulit diatur. Rusdian juga paham betul kebiasaan Robi  yang selalu duduk di depan danau ketika senja tiba. Biasanya ia duduk  di sana sambil membawa buku gambar dan krayon, lalu ia akan menggambar  pemandangan danau. Mungkin masih berduka dengan kematian kedua  orangtuanya, begitulah pikir Rusdian.</p>
<p>Namun sore ini ada yang  berbeda dengan Robi. Biasanya, ia duduk di depan danau dari pukul lima  hingga matahari terbenam, dan setelah itu ia akan langsung pulang ke  tempat Rusdian atau mengamen di warung ayam goreng yang berada di pintu  masuk perumahan. Anehnya, kali ini Robi tetap bergeming meskipun  matahari sudah hampir benar-benar terbenam. Buku gambar yang biasa ia  bawa juga kini tak ada di tangannya. Ia hanya duduk diam dan melamun.  Cahaya langit perlahan-lahan padam, menyisakan semburat merah, seperti  darah orang yang digigit ikan hiu ketika berenang.</p>
<p>Adakah darah  yang mengalir ketika kedua orangtua Robi tenggelam? Ya, Robi melihat  darah di air banjir ketika orang tuanya hanyut. Orang yang mati  tenggelam biasanya meninggal karena tak sanggup bernafas, kecuali kalau  tubuhnya tertusuk benda tajam, atau digigit binatang buas. Ketika Robi  menceritakan apa yang ia lihat pada Rusdian, Rusdian hanya mengira bahwa  tubuh kedua orangtua Robi pada saat itu tertusuk besi yang hanyut dari  tempat barang rongsokan. Ia yakin seratus persen, di danau itu tidak  mungkin ada binatang buas.</p>
<p>&#8220;Rob, ngapain masih di situ? Ayo, udah  gelap!&#8221; ucap Amir sambil mendekati Robi yang masih duduk di atas kursi  kayu panjang bersama anjingnya. Amir adalah remaja enam belas tahun yang  sering mengajak Robi mengamen bersama.</p>
<p>Robi hanya menggeleng  tanpa ekspresi. Sejak kematian orangtuanya, Robi memang jarang bicara.  Bahkan selama beberapa hari pertama, orang-orang sempat mengiranya bisu.  Ia hanya bicara ketika ia harus bicara, dan ketika bernyanyi saat  mengamen.</p>
<p>Amir duduk di sebelah Robi sambil menjinjing  ukulelenya, sesekali melirik Robi Si Anjing. Dalam benaknya, kalau saja  Robi mau menjual anjing itu, mungkin mereka bisa mendapat banyak uang.  Apalagi anjing itu tampak sehat dan kuat, pasti laku kalau dijual.</p>
<p>Perhatian  Amir beralih ke tangan Robi ketika ia menyadari ada hal yang tidak  beres. Ada sesuatu di tangan Robi. Sesuatu yang sejak tadi tak ia sadari  karena sumber cahaya di dekat mereka hanyalah lampu taman yang redup.  Sekarang hidungnya baru bisa menyadari keanehan itu.</p>
<p>Amir meraih tangan kiri Robi dan memperhatikannya dengan seksama, &#8220;Apaan ini?&#8221;</p>
<p>Di  telapak tangan kiri Robi terdapat lendir yang sangat lengket, dan  ketika Amir mendekatkan hidungnya, ia bisa merasakan bau amis seperti  bau darah. Robi menarik tangannya dengan terburu-buru, seolah tak ingin  Amir melihatnya lebih dekat lagi.</p>
<p>&#8220;Rob! Kamu abis ngapain?&#8221; Amir  yang merasa panik kemudian mendorong pundak Robi dan berusaha melihat  wajahnya. Tapi Robi terus memalingkan muka.</p>
<p>&#8220;Nggak ngapa-ngapain!&#8221; jawab Robi agak membentak. Robi Si Anjing tiba-tiba mengonggong.</p>
<p>Mata  Amir akhirnya bisa beradaptasi dengan keadaan remang-remang itu dan  mulai dapat melihat Robi dengan lebih jelas. Matanya tertuju pada saku  celana Robi. Ada sesuatu yang menyembul keluar dari sana, sesuatu yang  sebenarnya tidak muat disimpan di dalam saku.</p>
<p>Dengan gerakan yang  kasar, Amir meraih saku celana Robi dengan tangan kanannya, sementara  tangan kirinya menahan tubuh Robi agar tidak berontak. Ia menarik benda  itu keluar. Benda itu terasa kenyal dan basah, tapi juga agak lengket.  Amir menarik tangannya dan memperhatikan benda yang ia genggam itu.  Sekujur tubuhnya mendadak merinding.</p>
<p>Benda itu ukurannya  segenggaman tangan, agak lebih besar sedikit. Bentuknya lonjong dan ada  kaki-kaki kecil yang menjuntai keluar dari sisi-sisinya. Selain itu  kalau diraba dengan lebih teliti, Amir dapat merasakan ada sisik-sisik  halus di permukaan benda itu. Lendir berbau busuk muncrat keluar ketika  Amir menguatkan genggamannya, ia mengernyitkan wajah dengan jijik. Benda  itu jelas makhluk hidup, atau setidaknya pernah menjadi makhluk hidup.</p>
<p>&#8220;Ini kodok, Rob? Atau apaan?&#8221; tanya Amir sambil menjauhkan benda itu dan menutup hidungnya dengan tangan kiri.</p>
<p>&#8220;Bukan apa-apa!&#8221; Robi manusia dan Robi Si Anjing menyalak hampir bersamaan.</p>
<p>Sambil  menahan nafas karena bau, Amir memperhatikan benda itu lagi dari sisi  yang berlawanan. Ia terkejut. Pada sisi yang tadi menempel di telapak  tangannya, ternyata terdapat sepasang mata. Tidak, bukan sepasang, tapi  dua pasang. Empat buah bola mata menggelembung seukuran kacang atom,  salah satunya tampak sudah pecah dan mengeluarkan lendir. Di bawah mata  itu, terdapat lubang besar yang menganga, di dalamnya berderet gigi-gigi  runcing.</p>
<p>Tangan Amir gemetar, semakin lama semakin kencang. Ia  menjatuhkan bangkai menjijikkan itu ke atas tanah, dan dengan gelisah  menatap Robi dari ujung kepala hingga kaki.</p>
<p>&#8220;Robi!&#8221; teriak Amir,  ia kembali mendorong Robi dan menggeledah seluruh tubuhnya. Kali ini  Robi memberontak dengan sekuat tenaga, bau amis menyeruak dari setiap  gerakan tangan Robi dan membuat Amir merasa mual. Tapi ia tidak mau  kalah, ia menggunakan seluruh tenaganya, dan setelah itu ia berhasil  mengeluarkan segumpal bangkai lagi dari saku Robi yang sebelah kanan.  Tidak hanya itu, ia juga menemukan bangkai yang hampir sama di balik  kaos Robi.</p>
<p>Melihat majikannya diserang seperti itu, Robi Si  Anjing tidak tinggal diam. Sejak awal ia memang tidak bersahabat dengan  Amir, maka kali ini pun ia tak segan-segan melompat dan menerkam Amir.  Samar-samar berkat cahaya dari lampu taman, Amir kini baru bisa melihat  tetesan lendir menjijikkan yang terdapat di mulut anjing itu. Ia tak  habis pikir, hewan macam apa yang baru dibunuh oleh kedua Robi ini?</p>
<p>Esoknya,  Robi dan Amir sudah tampil di surat kabar lokal. Judulnya: Monster  Katak Gegerkan Warga Sekitar Danau. Dalam berita tersebut Amir dan  Rusdian menjadi narasumber, sebab Robi sulit diwawancara.</p>
<p>&#8220;Waktu  saya datang ke danau, monster itu lagi menyerang Robi. Gigi-giginya  tajam mirip ikan piranha. Untung saya kebetulan lewat sana. Saya pukul  monster-monster itu sampai hancur. Saya nggak peduli apakah itu hewan  yang dilindungi atau bukan, soalnya saya kan terpaksa, ingin menolong  anak ini,&#8221; ucap Amir kepada wartawan.</p>
<p>&#8220;Semenjak orangtuanya  meninggal dalam banjir, Robi tinggal bersama saya. Dia memang anaknya  agak aneh, susah diatur, dan jarang bicara. Menurut saya sih wajar aja,  mungkin dia masih ada trauma,&#8221; jelas Rusdian, seperti yang dikutip dalam  koran.</p>
<p>Menurut surat kabar, bangkai monster aneh itu kini sudah  berada di laboratorium untuk penelitian lebih lanjut. Entah kapan hasil  penelitian itu akan diumumkan. Banyak juga yang menganggap temuan itu  palsu, karena mungkin saja itu bangkai dua ekor katak dan ikan yang  dihimpit menjadi satu. Namun berita yang pada dasarnya sudah aneh ini  tetap bergulir menjadi lebih aneh, bagaikan efek bola salju. Muncul  kisah di forum-forum internet bahwa hewan aneh tersebut sebenarnya  berasal dari luar angkasa. Spekulasi ini muncul karena berita  ditemukannya makhluk itu hampir bersamaan dengan kasus penampakan UFO di  beberapa daerah di Indonesia.</p>
<p>Kisah-kisah fantastis semacam itu  secara alamiah mengundang orang dari berbagai penjuru ke Danau Panorama.  Selama bertahun-tahun, baru kali ini danau di dalam perumahan itu  benar-benar menjadi objek wisata, sebagaimana rancangan awal pembangunan  Perumahan Panorama. Selain wisatawan dadakan dan pers haus berita,  beberapa peniliti dari universitas juga datang untuk mengambil sampel  air danau.</p>
<p>Warga setempat memasang kotak sumbangan di jalan yang  menuju danau, alasannya untuk perawatan dan kebersihan. Istri Rusdian  juga tak ketinggalan memanfaatkan keadaan itu dengan berjualan minuman  ringan. Dan di antara semua orang, yang menjadi bintang utama adalah  Amir. Ia menjadi narasumber bagi semua pertanyaan pengunjung, dan ia  selalu menjawabnya dengan senang hati. Hanya dalam waktu dua hari saja,  ia sudah mengarang cerita tentang cahaya misterius di atas danau.</p>
<p>Semua  orang tampaknya melupakan Robi. Dan ia sendiri pun tidak keberatan  dilupakan. Namun karena keadaan di tepi danau kini sudah tak sepi  seperti biasa, Robi pun enggan untuk duduk-duduk di pinggir danau itu  lagi. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengamen dan  menggambar di buku gambarnya. Akhir-akhir ini ia senang menggambar  tokoh-tokoh kartun yang sering muncul di televisi dan komik. Bukan  berarti gambarnya bagus, tapi orang-orang mendukung hobinya itu karena  dianggap bisa menjadi terapi atas trauma yang ia hadapi.</p>
<p>Membawa  anjing peliharaan ketika mengamen adalah tindakan yang tidak disukai  pengunjung rumah makan. Mau tidak mau, Robi meninggalkan anjingnya di  rumah Rusdian. Dan berhubung Amir sedang sibuk menjadi pemandu wisata,  akhirnya siang ini Robi mengamen seorang diri. Warung ayam goreng di  gerbang perumahan hanya buka setelah maghrib, jadi ia pun pergi ke luar  perumahan. Beberapa warteg, warung Padang, dan restoran kecil ia datangi  satu persatu. Dengan wajah yang hampa ekspresi, ia menyanyikan  lagu-lagu lokal yang sedang naik daun. Dan siapapun yang mendengarnya  bernyanyi mungkin akan setuju kalau anak ini tampak tak serius mengamen.  Nada-nada yang keluar dari mulutnya seringkali tidak pas dengan suara  ukulelenya. Selain itu, penampilannya yang tampak santai juga membuat  orang-orang tidak menaruh belas kasihan padanya. Akibatnya, uang yang ia  dapatkan hanya sedikit sekali.</p>
<p>Robi duduk di sebuah warung kopi  di pinggir jalan raya sambil meminta segelas air putih. Demi mengusir  kebosanan, selama beberapa menit ia mencoret-coret buku gambar yang  selalu ia bawa di dalam ransel lusuh. Ia memperhatikan halaman buku  gambarnya yang sudah tipis, banyak halaman yang tampak sobek. Kalau ia  meminta pada Rusdian, mungkin ia akan dibelikan yang baru.</p>
<p>Setelah  cukup lama melamun, bapak-bapak penjaga warung mengajaknya berbincang.  Rupanya bapak itu mengenali wajah Robi yang sempat muncul di surat  kabar, meski hanya dalam sebuah foto kecil. Untung ia tidak tahu bahwa  Robi-lah yang sebenarnya menangkap makhluk aneh itu.</p>
<p>&#8220;Dulu waktu kecil, saya juga sempat tinggal di dekat danau itu lho, Dek,&#8221; ucap bapak itu berusaha membanggakan diri.</p>
<p>Robi hanya mengangguk. Ia tampak tak tertarik.</p>
<p>&#8220;Kata  kakek saya dulu, danau itu udah ada sejak berabad-abad silam. Konon,  dulu di sana pernah ada seorang manusia sakti. Suatu hari, orang sakti  itu sedang tidur sambil bermimpi, tiba-tiba datang musuhnya. Diam-diam  musuhnya itu menusuk si orang sakti tadi pakai pisau. Matilah dia,&#8221;  bapak itu bercerita dengan nada suara yang meninggi, penuh semangat.</p>
<p>&#8220;Katanya sakti?&#8221; protes Robi dengan suara yang datar.</p>
<p>&#8220;Eee,  jangan salah, Dek. Dia memang sakti, tapi bukan sakti karena tubuhnya  kebal senjata atau semacamnya. Yang sakti itu pikirannya. Apapun yang  dia pikirkan, jadi kenyataan!&#8221;</p>
<p>Robi mengangguk-angguk, untuk kesekian kalinya.</p>
<p>&#8220;Karena  dia dibunuh waktu dia sedang bermimpi, jadi antara raga dan mimpinya  itu terpisah, Dek. Raganya mati, tapi mimpinya masih mengawang-awang.  Dan konon, mimpi orang sakti itu akhirnya mengendap dan berubah jadi  danau. Nah itu dia asal-usul Danau Panorama, dulunya disebut Danau  Mimpi. Ya, namanya juga legenda, boleh percaya boleh nggak. Tapi kalau  saya waktu itu ikut diwawancara wartawan, wah, pasti makin lengkap itu  beritanya! Sayang Adek dan penduduk komplek nggak ada yang tahu legenda  itu!&#8221; bapak itu tersenyum lebar.</p>
<p>Tanpa memberikan tanggapan  apa-apa, Robi kembali meneguk air putih di hadapannya. Namun belum  sempat air putih itu mengalir di tenggorokannya, tiba-tiba terdengar  suara gonggongan anjing. Ia menoleh ke arah jalan raya, dan ternyata  benar saja, memang ada seekor anjing yang sedang berlari menghampirinya.  Dan anjing itu adalah Si Robi, anjing Robi.</p>
<p>Robi Si Anjing  menghampiri Robi dan menyalak. Entah bagaimana anjing itu bisa tahu  keberadaannya, mungkin ia kesepian di rumah Rusdian, lalu ia melompat  pagar dan mulai mengendus bau Robi yang tercecer di jalan. Robi  mengusap-usap kepala anjing peliharaannya itu. Sekarang, ia tak mungkin  melanjutkan acara mengamen sambil membawa anjing, jadi ia memutuskan  untuk pulang saja.</p>
<p>&#8220;Kalau ada wartawan lagi, jangan lupa kasih  tahu saya ya, biar lengkap beritanya!&#8221; ucap bapak penjaga warung ketika  Robi beranjak pergi.</p>
<p>Setelah menempuh perjalan sekitar lima belas  menit, Robi tiba di wilayah perumahan. Orang-orang sedang berkerumun di  sekitar danau, namun berbeda dengan biasanya, wajah mereka kini tampak  serius. Beberapa orang tampak sedang memotret dengan antusias, dan dua  orang polisi tampak siaga. Merasa penasaran, Robi berusaha bergerak  maju. Ia dapat menembus kerumunan dengan mudah karena tubuhnya yang  mungil, dan juga karena ada seekor anjing yang mengikutinya dari  belakang. Ketika ia berhasil berdiri di barisan terdepan, akhirnya ia  dapat menyaksikan apa yang membuat orang-orang menjadi heboh. Makhluk  katak aneh itu muncul lagi? Ternyata bukan. Ada makhluk lain yang  muncul, dan makhluk itu masih hidup.</p>
<p>Beberapa meter dari tepi  danau, sesuatu berwarna putih muncul dari dalam air dengan perlahan.  Makhluk itu bergerak lambat ke arah daratan, dan sedikit demi sedikit  wujudnya mulai terlihat. Sosok putih itu memperlihatkan kepalanya.  Matanya bulat hitam dan menatap tajam, helaian kumis panjang tampak  mencuat di atas gigi taringnya yang menyeringai. Harimau, orang-orang  berbisik. Harimau putih, tanpa belang, muncul dari dalam danau. Makhluk  macam apa itu? Sejak kapan harimau hidup dalam air? Orang-orang semakin  panik. Apalagi ketika menyadari ada balutan kain compang-camping di  tubuh harimau itu, dan juga sebuah pita merah jambu yang menggantung di  dekat telinganya.</p>
<p>Kalau saja makhluk itu muncul di layar kaca,  mungkin orang-orang akan tertawa karena kekonyolannya. Tapi tidak dalam  keadaan ini. Harimau berpita pink itu menggoyang-goyangkan tubuhnya yang  basah, lalu ia mengaum dengan suara menggelegar, memamerkan  gigi-giginya yang tajam. Orang-orang yang berkerumun langsung  membubarkan diri dengan penuh ketakutan, mereka menjerit panik, berusaha  mencari tempat yang aman. Banyak yang berlindung di dalam rumah  penduduk dan mengunci pintu, sementara sebagian lagi ada yang mengambil  senjata seadanya.</p>
<p>Ketika harimau putih itu merendahkan tubuhnya  sebagai ancang-ancang untuk menerkam, polisi yang berjaga di dekat danau  tak punya pilihan lagi. Mereka menembakkan pistol ke arah binatang buas  itu. Terdengar empat kali tembakan, salah satunya tepat mengenai kepala  sang harimau. Ia roboh, harimau aneh itu roboh, dan dari luka  tembakannya keluar lendir berbau amis.</p>
<p>Menyaksikan itu, Robi mendekap erat buku gambar di tangannya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Garis  polisi berwarna kuning kini membatasi tepi danau yang berhadapan dengan  pemukiman warga. Penyelidikan lebih lanjut akan diadakan esok hari,  sementara malam ini langit sama sekali kehilangan cahaya. Satu-satunya  yang menerangi danau itu adalah cahaya dari lampu taman yang redup.</p>
<p>Robi  mengendap-endap di sisi danau yang agak jauh dari jarak pandang warga.  Kali ini ia tak punya kesempatan untuk duduk-duduk di bangku kayu lagi.  Rumput liar yang diinjaknya berubah menjadi bebatuan kecil ketika ia  semakin dekat dengan air danau. Ia berlutut dan menoleh ke kanan dan  kiri, memastikan tak ada yang melihat dirinya. Lalu dengan ujung jarinya  ia menyentuh air danau itu. Dingin. Sangat dingin, seolah merefleksikan  kegelapan langit.</p>
<p>Perlahan-lahan, Robi mengeluarkan buku  gambarnya dari dalam tas ransel. Kejadian tadi sore membuat ia yakin  dengan dugaannya. Robi teringat dengan gambar apa saja yang ia buat  belakangan ini. Gambar monster-monster katak khayalannya sendiri, yang  secara tak sengaja tertiup angin dan jatuh ke danau. Lalu gambar Hello  Kitty yang dengan sengaja ia masukkan ke danau untuk menguji dugaannya.  Dan berdasarkan kejadian tadi sore, ternyata Hello Kitty itu benar-benar  muncul dari dalam danau, meski sedikit berbeda. Jelaslah, ini danau  ajaib.</p>
<p>Muncul sedikit ketakutan dalam pikirannya, bahwa mungkin  saja yang menenggelamkan kedua orangtuanya dulu adalah sesosok monster  yang tercipta dari buku gambarnya yang terseret arus ketika banjir. Tapi  ia membuang jauh-jauh pikiran itu, ada hal yang harus ia lakukan  sekarang.</p>
<p>Gambar yang akan ia wujudkan kali ini agak berbeda. Ia  menyobek kertas dari buku gambarnya. Pada kertas itu terdapat gambar  sepasang manusia. Robi memandangi gambar itu, gambar potret kedua  orangtuanya yang ia buat dengan susah payah. Memang tidak mirip, tapi  bagi Robi itu sudah cukup.</p>
<p>Perlahan-lahan ia menghanyutkan kertas  itu ke permukaan danau. Seharusnya selembar kertas akan mengapung selama  beberapa saat, tapi entahlah, danau itu seperti menelan apa saja,  seperti melahap karena kelaparan. Dalam beberapa detik, kertas itu  tenggalam, jatuh hingga ke dasar.</p>
<p>Robi duduk di tepi danau dan  menunggu. Mungkin yang diceritakan bapak-bapak penjaga warung tadi  memang benar. Mungkin danau ini memang tercipta dari mimpi seorang  manusia sakti, sehingga keinginan apapun yang masuk ke dalam danau ini  akan berubah menjadi kenyataan. Dan sekarang keinginan Robi sangat  sederhana. Ia hanya ingin kedua orangtuanya kembali.</p>
<p>Ia menunggu  dalam hening sambil memeluk tubuhnya sendiri, menahan gigitan angin  malam yang dingin. Sepuluh menit, dua puluh menit. Ia sungguh bosan, dan  kakinya sudah menggigil. Ia tak tahan lagi. Ada perasaan kecewa, namun  masih tersisa harapan. Mungkin memang danau ini tak bisa mewujudkan  objek manusia, atau mungkin saja membutuhkan waktu yang lebih lama dari  biasanya. Robi pun berdiri dan membalikkan badan, bersiap pulang. Namun  baru satu langkah ia berjalan, terdengar suara sibakan air dari belakang  tubuhnya.</p>
<p>Dua buah kepala muncul dari dalam danau, bergerak  mendekat ke tepi. Semakin dekat jaraknya, semakin banyak bagian tubuh  yang terlihat. Kedua sosok itu seperti menaiki anak tangga ke atas,  dengan langkah yang pelan dan khidmat. Robi mengenali kedua sosok  manusia tersebut, ia tersenyum. Ayahnya dan ibunya, kembali dari dasar  danau. Ayah dan ibunya telah hidup lagi!</p>
<p>Kedua sosok itu kini  telah sepenuhnya keluar dari dalam air, mereka terus bejalan mendekat ke  arah Robi, sementara jejak-jejak air tercetak di jalan yang mereka  injak. Robi merentangkan tangannya, bersiap memeluk dua orang yang  paling ia rindukan itu. Ketika akhirnya cahaya lampu taman berhasil  meraih tubuh kedua sosok itu, Robi menahan nafas. Mereka tak seperti  yang ia bayangkan, mereka sungguh berbeda. Dalam hati ia menyalahkan  dirinya sendiri, apakah ini gara-gara gambar yang ia buat tsangat jelek?  Atau karena&#8230;.</p>
<p>Robi tidak jadi melangkah maju, ia malah berjalan  mundur dengan perlahan. Sambil menggelengkan kepalanya, ia menangis.  Baru kali ini ia menangis semenjak peristiwa banjir setahun yang lalu.</p>
<p>Mimpi.  Danau itu memang konon tercipta dari mimpi seorang manusia sakti yang  dibunuh. Tapi mimpi macam apa yang sedang dialami orang itu sesaat  sebelum ia mati? Yang jelas bapak-bapak di warung tadi tak pernah  menyebutkan bahwa mimpinya adalah mimpi indah.</p>
<p>&#8220;Rooobiiii.…Robiiii&#8230;,&#8221;   kedua sosok itu mengerang dalam waktu hampir bersamaan,  menimbulkan  nada yang masih diingat Robi dengan samar-samar. Nada yang selalu  dinyanyikan kedua orangtuanya bila Robi tak bisa tidur setelah larut  malam. Nada yang membujuknya untuk segera tidur. Untuk segera bermimpi.</p>
<blockquote><p>Untuk event tantangan gambar di kemudian.com</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680243&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/03/12/nada-terakhir-untuk-robi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Lukisan Terakhir</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/01/25/satu-lukisan-terakhir/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/01/25/satu-lukisan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 09:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[epistoleri]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680237</guid>
		<description><![CDATA[(Selasa, 4 Januari) Dear Erika, Tube-tube cat itu berpindah lagi. Kau mungkin mengira aku salah ingat&#8211;kau memang selalu meragukan ingatanku&#8211;tapi aku yakin kalau aku hapal benar bagaimana caraku menyusunnya. Selalu berurutan dari kiri ke kanan: Merah, biru, kuning, jingga, cokelat, hitam, dan putih. Tak pernah sekalipun kuubah, sebab aku tak ingin waktuku terbuang untuk memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680237&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Selasa, 4 Januari)</p>
<p>Dear Erika,</p>
<p>Tube-tube cat itu berpindah lagi. Kau mungkin mengira aku salah  ingat&#8211;kau memang selalu meragukan ingatanku&#8211;tapi aku yakin kalau aku  hapal benar bagaimana caraku menyusunnya. Selalu berurutan dari kiri ke  kanan: Merah, biru, kuning, jingga, cokelat, hitam, dan putih. Tak  pernah sekalipun kuubah, sebab aku tak ingin waktuku terbuang untuk  memilih warna atau salah mengambil cat. Kuas-kuas berbagai ukuran di  sebelah kanan, botol turpentine dan minyak linseed di sebelah kiri, lalu  deretan tube cat itu. Dan biasanya ada kau di belakangku yang menatap  tanpa suara. Tapi semenjak kau pindah&#8211;seperti yang kuceritakan pada  suratku yang lalu&#8211;aku juga pindah ke studio yang baru. Di sini suasanya  lebih tenang, tak ada suara kendaraan, karena jalan raya jaraknya jauh  dari sini, dan juga tak ada kamu. Jujur, aku merasa lebih nyaman ketika  melukis tanpa ditontoni oleh perempuan cantik sepertimu. Bukan apa-apa,  kau tahu aku tak begitu suka melukis objek manusia, namun ketika kau  berada di dekatku, aku selalu tergoda untuk melukismu. Dan aku tahu  lukisanku tak mungkin bisa lebih indah dari aslinya.</p>
<p>Panggil aku  gombal, terserah. Mungkin kau bahkan sedang menertawai suratku ini  karena menggunakan gaya bahasa asing, yang biasa kita jumpai di  <span id="more-2444680237"></span>novel-novel terjemahan. Tapi aku memang lebih nyaman menulis surat  dengan gaya bahasa seperti ini. Inilah yang membedakan surat dengan SMS  atau obrolan sehari-hari. Aku merasa seperti penulis terkenal itu,kau  tahu? Aku paham kau tidak bisa membalas surat-suratku, tapi kuharap  bukan karena kau termasuk dalam generasi instan yang lebih menyukai  gadget-gadget dangkal. Haha.</p>
<p>Oya, kembali soal tube-tube cat di  studioku. Aku sudah sering mengobrol dengan Pak Anas, pemilik bangunan  ini, dan tak pernah sekalipun ada cerita hantu atau semacamnya. Bukan  hantu yang memindahkan tube-tube itu, aku yakin. Justru yang paling  kutakutkan adalah ingatanku sendiri yang mulai memudar. Bukan pikun,  mana mungkin aku pikun di usia yang baru kepala tiga ini? Tapi mungkin  karena aku kehilangan jejak untuk menandai waktu. Orang sepertiku tidak  benar-benar membutuhkan kalender, kecuali pada saat-saat tertentu  seperti ketika dikejar deadline untuk pameran. Dulu aku selalu menandai  hari lewat warna pakaian yang kau kenakan. Mungkin terjadi di alam bawah  sadarmu, kau memiliki pola tertentu dalam memilih warna pakaian. Hari  Senin, kau biasanya mengenakan warna jingga atau merah, mungkin untuk  menimbulkan semangat. Hari Selasa dan Rabu, kau mengenakan warna putih,  kadang abu-abu. Hari Kamis, kau mengenakan warna biru atau merah jambu.  Hari Jumat, kau mengenakan warna hijau. Lalu pada hari Sabtu dan Minggu,  kau mengenakan warna hitam atau ungu gelap, biasanya dengan lipstik  tipis karena kita akan pergi kencan. Sekarang kau tak meragukan  ingatanku lagi kan?</p>
<p>Semenjak kau pindah, aku tak lagi ingat soal  hari. Mungkin itulah awal mulanya aku mengalami masalah dengan waktu dan  susunan benda. Makanya aku berusaha sesering mungkin menulis surat  kepadamu, karena hanya dengan begitu aku terpaksa harus mengetahui hari  dan tanggal. Dan kemarin, aku merasakan kerinduan yang mendalam ketika  melihat tube-tube cat itu berpindah tempat. Kealpaan ini karena kau tak  ada di sini. Aku merindukanmu, Erika.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>(Kamis, 6 Januari)</p>
<p>Hai Erika,</p>
<p>Hari  ini posisi tube-tube catku masih saja tertukar lagi. Entahlah,  sepertinya ini masalah kecil yang membuatku gatal. Mungkin aku harus  mencari cara untuk mengatasi hal ini. Oh ya, tadi siang aku menyetel  radio dan tanpa sengaja mendengarkan lagu kesukaanmu. Itu lho, lagu The  Beatles itu.</p>
<p>Jadi semakin rindu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
(Jumat, 7 Januari)</p>
<p>Dear Erika,</p>
<p>Bagaimana kabarmu? Semoga kau  baik-baik saja. Aku sudah menemukan cara agar aku tak lupa dengan  posisi tube-tube cat lagi. Dengan menggunakan sedikit cat, aku menandai  posisi tube sesuai dengan warnanya masing-masing. Misalnya, di bagian  paling kiri aku membuat sebuah garis merah, di sebelah kanannya aku  membuat garis biru, dan seterusnya. Dengan cara ini, meski aku dalam  keadaan mabuk sekalipun, setidaknya aku bisa mengingat posisi tube yang  benar. Dan setelah kupraktekkan selama hari ini, memang tak ada tube  yang tertukar lagi.</p>
<p>Masalah selesai?</p>
<p>Sayangnya tidak.  Memang, tidak ada letak tube yang tertukar, tapi justru salah satu  tubeku ada yang hilang. Ya, maksudku berpindah tempat entah ke mana.  Tadi pagi, tube cat warna hijau tiba-tiba saja tak bisa kutemukan. Aku  sudah mencari di kolong easel, kalau-kalau aku menjatuhkannya tanpa  sengaja, tapi tak ada. Apa mungkin ada orang yang masuk ke dalam studio  dan mencurinya? Cuma untuk satu tube cat warna hijau? Tapi aku tak  menemukan lubang kunci yang rusak atau jendela yang dicongkel.  Benar-benar sial, sekarang aku harus membeli yang baru.</p>
<p>Oh ya,  bukannya aku membesar-besarkan masalah penempatan tube itu, hanya saja  aku khawatir dengan diriku sendiri. Sudah kuceritakan dalam surat  sebelumnya kalau aku khawatir ingatanku mulai menurun. Aku sudah mencoba  meminum suplemen yang mengandung ginkgo biloba itu, katanya dapat  mempertajam ingatan.</p>
<p>Bila lukisan terakhirku ini sudah selesai, aku berencana untuk menyusulmu ke sana. Aku benar-benar tidak sabar. I miss you.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>(Sabtu, 8 Januari)</p>
<p>Dear, Erika</p>
<p>Akhirnya  hari ini aku peri ke toko alat lukis untuk membeli cat hijau baru.  Seperti biasa: ukuran besar. Sebab aku sangat malas kembali ke sana  lagi, penjualnya tidak terlalu ramah dan wajahnya tidak enak dipandang.  Aku akan mulai melukis lagi.</p>
<p>Semangati aku, Sayang.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>(Senin, 10 Januari)</p>
<p>Dear My Love Erika,</p>
<p>Berita  gembira! Ada berita gembira! Sebenarnya bukan berita yang luar biasa  sih. Aku menemukan tube hijau yang hilang itu! Anehnya, tube itu  kutemukan terselip di sela-sela tumpukan lukisanku yang lama, tepat di  sebelah lukisan &#8220;Girl in The Spotlight&#8221;. Kau masih ingat lukisan itu  kan? Itu adalah satu dari sedikit lukisanku yang mengambil objek  manusia. Itu adalah sebuah lukisan tentang kamu. Aku ingat, pertama kali  aku melukisnya adalah sesaat setelah aku menonton pertunjukkan drama  yang kauperankan. Waktu itu aku bertanya-tanya, siapakah salah satu  pemeran wanita dengan gerak tubuh yang lentur itu? Pertunjukanmu  benar-benar membuatku terkesan, meskipun aku tidak pernah mendalami seni  pertunjukan. Sesampainya di studio, aku segera melukiskan gerakanmu,  garis-garis dinamis dan pantulan cahaya yang seperti mengandung sihir.  Mungkin yang kurasakan waktu itu hanyalah kekaguman, tapi tidak lagi  ketika akhirnya aku menemukan nomor teleponmu: saat itu aku mulai jatuh  cinta padamu.</p>
<p>Haha. Aku tak ingin terlalu lama bernostalgia. Kau  pernah bilang bahwa mengingat-ingat masa indah yang sudah lalu adalah  seperti orang yang kehabisan ide untuk menciptakan masa depan yang lebih  indah. Aku sedang tidak berminat membahas masa depan sekarang, tapi aku  juga tak mau bergelimang dengan masa lalu. Aku hanya ingin mengeluh  dengan apa yang sedang kukerjakan. Entah kenapa lukisan yang sedang  kubuat ini tidak bisa terasa pas. Keahlianku sepertinya menurun, entah  apakah ada hubungannya dengan melemahnya ingatan. Seringkali ketika aku  menyapukan kuas ke atas kanvas, tanganku seperti bergerak di luar  kendali. Rasanya ada yang salah dengan otot-otot di lenganku. Hendra,  salah seorang temanku, menyarankan aku untuk beristirahat selama  beberapa hari. Katanya, mungkin tanganku keseleo karena terlalu sering  melukis, dan ia mengajakku berkemah selama lima hari, mulai dari besok.</p>
<p>Sebenarnya  aku ingin meminta pendapatmu tentang tawaran Hendra itu, tapi berhubung  waktunya sudah terlalu dekat, akhirnya aku menyetujui ajakan itu.  Mudah-mudahan saja ini akan jadi refreshing yang bagus untuk tanganku.  Sebab kalau aku tak bisa mengendalikan gerakan tanganku, akan sangat  sulit membuat detail-detail lukisan.</p>
<p>Aku janji, sepulang berkemah aku akan menulis surat lagi. Miss you, Darling.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>( Minggu, 16 Januari)</p>
<p>Dear Erika,</p>
<p>Gawat! Seseorang mencoret-coret lukisanku! Benar-benar kacau, ini benar-benar mengacaukan pekerjaanku.</p>
<p>Kau  ingat suratku sebelumnya? Ya, aku menghabiskan lima hari untuk berkemah  bersama Hendra dan teman-teman yang lain, dan ketika aku pulang, aku  sudah terlalu lelah sehingga aku langsung tidur tanpa sempat mengunjungi  studio. Esok siangnya aku datang ke studio dan menemukan lukisanku  sudah berubah! Bukan lagi tube cat yang hilang atau berpindah, tapi ada  coretan-coretan tidak dikenal di atas kanvasku! Tentu saja aku marah.  Siapa orang iseng yang bisa-bisanya berbuat ini, padahal pintu studioku  terkunci dengan baik? Pikirku, siapa lagi kalau bukan orang yang  memiliki kunci?</p>
<p>Dengan menahan emosi, aku bergegas mendatangi Pak  Anas di rumahnya. Kukatakan padanya bahwa ada orang yang masuk ke dalam  studioku dan orang itu pasti memiliki kunci. Kulihat wajahnya merah  padam karena tersinggung. Ia bilang agar aku jangan menuduhnya kalau tak  ada bukti. Aku bilang aku tidak menuduhnya, walaupun ya, sebenarnya di  dalam hati aku mencurigai dia. Pak Anas lalu bertanya apakah ada barang  yang hilang. Kujelaskan soal tube warna hijau itu dan kanvasku yang  dicoret-coret. Tapi kau tahu apa? Dia malah tertawa. Dia bilang,  memangnya siapa orang iseng yang mau berbuat itu? Berhubung menurutnya  orang yang memegang kunci cadangan hanyalah dirinya, dan ia tidak  mungkin berbuat hal tidak berguna seperti itu, ia malah menuduhku  mengada-ada.</p>
<p>Ia malah menuduhku mencorat-coret kanvasku sendiri ketika mabuk! Kenapa mesti aku yang dituduh mabuk? Kenapa bukan dia sendiri?</p>
<p>Oke,  maaf kalau aku terkesan melampiaskan kekesalanku padamu, Erika. Aku  tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi, bahkan Hendra malah  menyarankan aku berkonsultasi ke psikiater. Dia pikir aku gila?</p>
<p>Soal  acara liburanku, aku harus katakan kalau acara itu berlangsung dengan  cukup menyenangkan. Di sana kami membakar jagung dan ayam, lalu  bernyanyi bersama, dan saling bercerita di seputar api unggun. Ketika  pagi tiba, kami mendaki ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat  matahari terbit. Ah, seandainya saja kamu bisa ikut, mungkin akan jauh  lebih menyenangkan. Sayangnya, sempat terdengar saran-saran bodoh dari  teman-temanku yang menyarankan agar aku melupakanmu dan mencari wanita  baru. Mereka bahkan menyebutkan beberapa nama gadis cantik yang kukenal!  Haha, jangan marah, aku tidak tergoda. Hubungan jarak jauh tidak  berarti apa-apa bagiku. Lagipula, sudah kutuliskan di surat lalu kalau  aku akan menyusulmu setelah lukisan terakhir selesai.</p>
<p>Oh iya,  lukisan itu. Entahlah. Aku tidak mood memperbaiki bekas coretan cat itu,  apalagi melanjutkan lukisan. Hasratku tiba-tiba saja padam. Berikan aku  waktu beberapa hari untuk menangkan diri. Setelah itu pasti akan  kulanjutkan.</p>
<p>Semoga kita cepat bertemu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>(Senin, 17 Januari)</p>
<p>Erika,</p>
<p>Coretan  di atas kanvasku semakin banyak! Ini gila! Aku heran, apakah ada orang  yang iri dengan karya-karyaku dan ingin bersaing secara tidak sehat?  Seingatku, aku tidak pernah punya musuh. Konyol.</p>
<p>Aku semakin tidak  mood untuk meneruskan lukisan, tapi aku juga tidak rela kalau orang itu  semakin merusak lukisanku. Jadi sore ini aku mengunci pintu studio  dengan dua buah gembok yang berbeda. Kita lihat saja apakah orang iseng  itu bisa membobolnya lagi.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>(Selasa, 18 Januari)</p>
<p>Erika,</p>
<p>Ternyata  lukisanku masih bisa dicoret-coret! Aku tidak tahu bagaimana caranya,  tapi ada orang yang bisa masuk ke dalam studio tanpa merusak gembok yang  kupasang. Kalau begini terus mungkin aku harus lapor polisi.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>(Kamis, 20 Januari)</p>
<p>Dear Erika,</p>
<p>Aku  agak merinding. Pagi tadi aku memeriksa studio, dan kau tahu apa yang  terjadi pada lukisanku? Bukan lagi sekedar coretan. Sekarang coretan itu  sudah membentuk sesuatu yang lebih jelas. Ada bentuk yang bisa kukenali  di sana: sesosok figur manusia. Entah siapa atau manusia macam apa yang  muncul dalam lukisan itu, mungkin Monalisa atau semacamnya, sebab  memang tidak terlalu jelas. Aku merasa diteror. Kalau memang yang  melakukan ini adalah orang iseng, pasti dia adalah orang yang cukup  pandai melukis, setidaknya untuk membuat lukisan figur manusia dari  coretan demi coretan yang ia cicil. Tapi bagaimana caranya ia masuk?  Apakah ia bisa menembus tembok? Apakah dia hantu?</p>
<p>Malam ini aku akan tidur di studio, aku benar-benar ingin memastikan.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>(Jumat, 21 Januari)</p>
<p>Sayangku Erika,</p>
<p>Malam  tadi aku tidur di studio. Aku pikir aku bisa menangkap basah orang atau  hantu yang selalu diam-diam masuk ke studio, tapi ternyata aku salah,  Erika. Aku menemukan sebuah kenyataan yang sangat berbeda.</p>
<p>Sekitar  pukul tiga pagi aku tiba-tiba terbangun dari tidurku. Hal pertama yang  kucium ketika terbangun adalah bau cat dan turpentine. Tidak aneh, sebab  aku memang tidur di studio. Tapi ketika aku membuka mata, hal yang aneh  baru muncul. Ternyata aku sedang duduk di depan kanvas, tangan kananku  memegang kuas, dan tangan kiriku memegang palet. Kau tahu apa maksudnya?  Jadi selama ini aku melukis sambil tidur! Kau pasti sering mendengar  tentang orang yang berjalan dalam tidur, tapi yang kulakukan lebih dari  itu! Aku mencampur cat, mengoleskan kuas, melukis, bahkan membersihkan  kuas dan palet setelah selesai&#8230;, semuanya dalam keadaan tidur! Itulah  hipotesisku yang paling kuat.</p>
<p>Dan yang membuatku terperanjat  adalah lukisan itu. Sekarang aku sadar siapa sosok manusia yang sedikit  demi sedikit muncul di lukisan itu, di lukisan yang (mungkin) kubuat  tanpa sadar. Ia adalah kamu, Sayang. Aku melukis kamu, melukis Erika-ku  tanpa sadar, bahkan dalam keadaan tidur.</p>
<p>Itu tidak membuatmu tersipu?</p>
<p>Ya  aku paham, ini SAMA SEKALI bukan hal yang romantis, malah lebih  terkesan menakutkan. Serindu itukah aku padamu sampai kondisi kejiwaanku  jadi seperti ini? Aku sungguh tidak menyangka. Mungkin teori tentang  alam bawah sadar yang dulu pernah kubaca itu memang benar ya? Kalau  memang begitu, berarti sekarang aku paham lukisan semacam apa yang akan  kubuat. Aku berjanjai akan segera kuselesaikan.</p>
<p>Tidak sabar bertemu denganmu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>(Minggu, 23 Januari)</p>
<p>Sayang,</p>
<p>Ini agak aneh. Tadi pagi, Pak Anas bilang kepadaku kalau semalam ia melihatku berjalan sambil tidur. Itu sih kita sudah tahu.</p>
<p>Tapi yang ganjil, saat ia berusaha menegurku, katanya aku menjawab dengan suara wanita. Karena ketakutan, ia lalu kabur.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>(Selasa, 25 Januari)</p>
<p>Kepada Cintaku, Erika</p>
<p>Aku  bahagia, Sayang. Aku baru sadar, kalau suara yang Pak Anas dengar saat  itu adalah suaramu. Ternyata kamu, ternyata kamu yang menggerakkan  tubuhku untuk melukis lukisan ini. Aku tidak tahu bagaimana, tapi  sepertinya kamu tidak sekadar menggerakkan tubuhku, tapi juga menguasai  keahlian melukisku. Mungkin kau berusaha menunjukkan kerinduanmu padaku  ya? Tenang saja, aku juga sudah lelah menulis surat-surat tanpa alamat  ini. Sekarang satu lukisan terakhirku sudah selesai. Lukisan sosokmu,  kamu yang mengenakan gaun berwarna putih. Putih seperti kain kafanmu,  seperti warna baju yang selalu kau pakai setiap hari Selasa. Dengan baju  putih itu juga, dulu kamu pergi mengendarai mobilmu, ke tempat yang  jauh, sangat jauh hingga tak bisa dicapai oleh surat dan alat-alat lain.</p>
<p>Erika,  aku sudah memasang tali di atap studio. Aku juga sudah mengunci pintu  dengan semua gembok yang kumiliki. Sekarang aku siap untuk menyusulmu,  kau tak perlu menunggu lebih lama lagi.</p>
<p>P.S.: Oh ya, sekadar  mengingatkan, seniman yang terkenal adalah seniman yang mati. Haha.  Setelah aku pergi nanti, maka yang akan mereka temukan hanyalah lukisan  itu. Lebih tepatnya sosokmu pada lukisan (surat-surat ini akan segera  kubakar sesaat lagi), dan mereka akan mulai bertanya-tanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680237&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2011/01/25/satu-lukisan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kado, Panik</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/12/11/kado-panik/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/12/11/kado-panik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 18:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komedi]]></category>
		<category><![CDATA[Thriller]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[suspense]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680222</guid>
		<description><![CDATA[Klik! Barisan judul-judul email terpampang di layar komputer. Aku memperhatikannya satu persatu, ada kesamaan dari enam buah email yang dikirim tadi malam: semuanya memiliki subjek Happy Birthday atau Selamat Ulang Tahun. Seharusnya aku senang ketika membaca subjek email-email tersebut, tapi aku jadi agak lesu ketika membaca alamat pengirimnya. Forum, komunitas, jejaring sosial; semua email itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680222&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Klik!</em> Barisan judul-judul email terpampang di layar komputer. Aku  memperhatikannya satu persatu, ada kesamaan dari enam buah email yang  dikirim tadi malam: semuanya memiliki subjek Happy Birthday atau Selamat  Ulang Tahun. Seharusnya aku senang ketika membaca subjek email-email  tersebut, tapi aku jadi agak lesu ketika membaca alamat pengirimnya.  Forum, komunitas, jejaring sosial; semua email itu dikirim secara  otomatis oleh makhluk yang tidak nyata. Ya, ada namaku di situ meskipun  dalam nama samaran (<em>Hai Grao_21, Komunitas Resensi Film mengucapkan selamat ulang tahun. Wish you all the best!</em>),  tapi layanan pengirim email otomatis itu hanya menjalankan tugasnya  sesuai program, mereka tidak punya perasaan apa-apa saat mengirimkan  ucapan itu.<span id="more-2444680222"></span></p>
<p>Tak ada email dari orangtuaku. Tak ada SMS, apalagi  telepon. Aku heran apakah mereka benar-benar melupakan hari ulang  tahunku. Menjengkelkan. Bahkan teman-temanku tampaknya tak ada yang  ingat. Memang ada beberapa orang yang menuliskan ucapan selamat di  Facebook, tapi aku tak benar-benar mengenal mereka. Sepertinya mereka  cuma sekadar melakukan hal rutin yang selalu mereka lakukan saat kurang  kerjaan.</p>
<p>Tapi bila sekarang aku pergi ke kampus, mungkin beberapa  teman kuliahku akan ada yang ingat. Atau lebih dari itu, mungkin ada  kejutan.</p>
<p>Aku langsung mengambil jaket dan mengenakan sepatu,  setidaknya aku tak mau mati bosan di kontrakan yang suram ini. Saat aku  membuka pintu, ada sebuah benda yang tergeletak di halaman depan.  Keningku mengkerut. Sebuah kotak? Bukan kotak biasa, tapi kotak yang  dibungkus menggunakan kertas kado berwarna jingga. Aku agak terkejut,  tapi aku tersenyum gembira. Aku tak menyangka akan ada yang mengirimiku  kado ulang tahun dengan cara seperti ini.</p>
<p>Perlahan-lahan kuangkat  kotak itu. Lumayan berat, ini pasti bukan kado sembarangan. Kuperiksa  keenam sisi kotak itu, berharap menemukan nama pengirimnya, tapi tak  kutemukan apapun. Aneh. Siapa yang mengirimkan kotak ini? Rasanya tak  mungkin benda ini dikirimkan lewat pos atau paket kilat, mungkin  seseorang meletakkannya diam-diam tadi pagi. Mungkin pengirimnya adalah  orang yang kukenal, dan bisa saja ada kertas ucapan di dalam kotak ini.</p>
<p>Dengan  antusias, aku mencoba menyobek sampul kado yang membungkus kotak  tersebut. Orang yang membungkusnya pasti orang yang sangat rapi dan  teliti, aku bisa memastikan itu. Keningku kembali berkerut, ternyata  benda seukuran kotak sepatu ini terbuat dari kayu tripleks. Pada bagian  atasnya terdapat sebuah pintu yang bisa ditarik ke samping untuk  membukanya. Seumur hidup, baru kali ini aku mendapat kado yang dibungkus  dengan seserius ini. Isinya pasti adalah benda yang sangat berharga.  Ada perasaan ragu untuk membukanya, karena aku ingin mempertahankan  saat-saat yang mendebarkan ini. Perlahan kudekatkan kotak itu ke  telingaku, ingin kugoyang sedikit.</p>
<p>Tapi tanganku seperti membeku. Ada suara yang aneh dari dalam kotak. <em>Tik! Tik! Tik!</em></p>
<p>Suara  jam? Ada yang menghadiahi aku jam analog dalam kotak kayu yang  dibungkus rapi? Romantis sekali. Mungkin ini adalah jam mewah yang  harganya mahal. Tapi ada kemungkinan lain, kemungkinan buruk yang  membuatku menahan nafas sesaat. Aku meletakkan kotak itu kembali di atas  lantai, lalu mundur selangkah. Mungkinkah isinya bom waktu? Seperti di  film-film yang sering kutonton? Mustahil, itu terlalu mengada-ada.  Lagipula siapa yang ingin membunuhku? Aku kan cuma orang biasa, bukan  politisi, bukan orang penting untuk dijadikan target teroris. Aku  terdiam sejenak. Ya, orangtuaku memang pengusaha yang cukup terkenal,  ayahku punya hubungan erat dengan pendirian beberapa tempat hiburan,  tapi setahuku usaha yang dijalaninya masih terbilang wajar.</p>
<p>Ini  pasti lelucon. Seseorang ingin bercanda dan membuatku ketakutan, mungkin  semacam lelucon gila di hari ulang tahun. Aku tersenyum demi  menenangkan diri, lalu pelan-pelan kembali mengambil kotak itu.  Kudengarkan lagi suara itu: <em>tik! tik! tik!</em> Dinding kotak kayu sepintas membuat suaranya terdengar seperti <em>tok! tok! tok!</em></p>
<p>Tiba-tiba  aku teringat sesuatu. Kalau tidak salah, tetanggaku yang tinggal tepat  di sebelah rumah ini masih memiliki hubungan keluarga dengan duta besar  Amerika Serikat. Seandainya aku seorang teroris dan tidak sanggup  meledakkan gedung kedutaan, mungkin aku akan menebar teror dengan  membunuh keluarga si duta besar terlebih dahulu. Itu cukup masuk akal,  sebab kalau ada bom dengan daya ledak besar meledak di sini, rumah  sebelah pasti akan ikut hancur lebur.</p>
<p>Tidak hanya itu, masih ada  kemungkinan lain. Aku ingat, tepat di belakang rumahku ada sebuah gereja  yang lumayan besar. Sebentar lagi perayaan natal, bukan tidak mungkin  ada kelompok provokator yang ingin merusak kerukunan antar umat beragama  dan berencana meledakkan gereja itu. Kalau sebuah bom berdaya ledak  tinggi meledak di sini, gereja itu pasti akan kena imbasnya.</p>
<p>Aku  menelan ludah. Untuk memastikan apakah isi kotak ini merupakan sebuah  bom atau sebuah jam eksklusif, aku harus membukanya terlebih dulu. Tapi  kalau aku membuka kotak ini, mungkin saja tindakanku justru menghidupkan  sebuah pemicu yang akan membuat bomnya langsung meledak, seperti di  film-film. Itulah kenapa benda ini diletakkan di dalam kotak kayu yang  cuma bisa dibuka lewat satu sisi. Aku bisa membayangkannya, berbagai  jenis kabel dan alat penghitung waktu yang terhubung dengan pintu kayu  itu, mungkin sudah dipersiapkan dengan rapi dan jeli oleh sang teroris.</p>
<p>Konyolnya,  kalau memang di dalam kotak ini ada sebuah bom waktu, aku sudah terlalu  banyak menghabiskan waktu untuk berpikir! Mungkin ada, mungkin tidak,  tapi aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku. Hal paling logis yang harus  kulakukan sekarang adalah menelepon polisi. Ya, mungkin mereka akan  memanggil Tim Gegana atau semacamnya. Kalau memang ada bom di dalam  sana, maka ada kemungkinan aku selamat, mungkin malah masuk koran. Dan  kalau seandainya isinya hanya jam dinding, paling buruk aku hanya  mendapat malu, tidak akan hancur berkeping-keping.</p>
<p>Tanpa  membuang-buang waktu, aku segera meraih saku celanaku untuk mengambil  ponsel. Sial, tidak ada di sini. Ada di mana ponselku? Kuraih tas  ranselku, lalu kuraba bagian dalam tas itu, siapa tahu tadi aku  meletakkannya di sini. Tidak ada juga. Aku membalikkan tas dan  menumpahkan semua isinya. Buku dan kertas berjatuhan, begitu juga dengan  dua buah pulpen, tapi aku tak juga menemukan ponselku. Apa tadi aku  meninggalkannya di kamar?</p>
<p><em>Tik! Tik! Tik!</em> Sementara pikiranku dilanda kepanikan, suara jarum jam di dalam kotak itu terus berdetak.</p>
<p>Aku  berlari sekuat tenaga menuju kamarku yang letaknya cuma beberapa meter  dari halaman depan. Kunci kamar ada di saku celana sebelah kiri, aku  berusaha menariknya keluar, tapi benda logam itu terjatuh dari tanganku.  Baru kusadari bahwa tanganku gemetar, selain itu keringat yang keluar  dari telapak tangan juga membuat genggamanku licin. Kuambil kunci itu  dari atas lantai, lalu kumasukkan ke dalam lubang kunci. Ya Tuhan, dalam  keadaan seperti ini memasukkan kunci ke dalam lubang kunci saja rasanya  seperti memasukkan benang ke dalam lubang jarum.</p>
<p>Dengan  perpaduan antara ketakutan dan kekesalan, akhirnya aku berhasil membuka  pintu kamar.  Dalam sekejap keadaan isi kamarku yang sangat berantakan  terpampang jelas. Buku-buku dan koran kadaluarsa berserakan di lantai.  Kepingan-kepingan CD dan majalah tergeletak kacau di depan komputer.  Belum lagi bungkus makanan, botol minuman yang kosong, serta beberapa  puntung rokok yang menambah rumit suasana. Gila, padahal bomnya masih  belum meledak, tapi kamarku sudah tampak seperti reruntuhan bekas  ledakan bom. Aku mengatupkan gigi-gigiku, sementara kedua lututku terasa  lemas. Untuk mencari benda kecil di dalam kamar biasanya aku  membutuhkan waktu sekitar setengah jam, aku tak bisa menghabiskan waktu  selama itu sekarang.</p>
<p>Merasa waktuku semakin sedikit, aku segera  melupakan ide untuk menelepon polisi. Aku berlari ke halaman rumah dan  mengambil kotak kayu itu, lalu melesat sekuat tenaga melewati pintu  pagar. Aku tak boleh membiarkan bom ini meledak di sini, banyak yang  akan jadi korban, termasuk diriku sendiri.</p>
<p>&#8220;Mas Gun, selamat  ulang tahun!&#8221; sebuah suara meneriaki aku di saat aku sedang berlari  kencang. Aku menoleh dan menemukan Mbak Laura, tetanggaku, yang sedang  menyiram tanaman di pekarangan rumahnya. Aku agak kaget karena dia  mengetahui hari ulang tahunku. Dalam keadaan normal seharusnya aku  merasa senang, tapi tidak dalam keadaan seperti ini.</p>
<p>&#8220;Mbak Laura! Bahaya Mbak! Bahaya!&#8221; ucapku gagap.</p>
<p>&#8220;Bahaya? Bahaya apa?&#8221; tanya Mbak Laura heran.</p>
<p>Aku memperlihatkan kotak kayu yang kubawa, &#8220;Ada bom, Mbak Laura! Saya pinjam telepon!&#8221;</p>
<p>Bukannya  meminjamkan aku telepon, Mbak Laura malah menjatuhkan selang airnya dan  menjerit histeris. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku, ia  langsung lari menjauhi rumahnya, atau lebih tepatnya, menjauhi aku.  Samar-samar aku dapat mendengar teriakan Mbak Laura di kejauhan. Gawat,  kalau begini bagaimana caranya aku bisa menghubungi polisi? Tiba-tiba  aku menyadari sesuatu. Kalau aku bisa membuat semua orang di lokasi ini  menjauh dari kotak ini, dengan kata lain mengevakuasi mereka, maka aku  dapat menghindari jatuhnya korban jiwa akibat ledakan bom. Aku bahkan  tak perlu menjinakkan bomnya. Kenapa aku baru menyadari itu sekarang?</p>
<p>Dengan  membawa ide itu (dan kotak kayu ini), aku berlari ke tempat di mana  penghuni komplek biasa berkumpul, yaitu di lapangan voli. Lapangan voli  di RT kami memang biasa dijadikan tempat berkumpulnya ibu-ibu untuk  bergosip, selain para bapak-bapak yang ingin berolahraga. Karena ini  masih siang hari dan bukan hari libur, kemungkinan akan ada lebih banyak  ibu-ibu daripada bapak-bapak. Itu bagus, karena teriakan ibu-ibu  biasanya lebih nyaring sehingga bisa memperingatkan warga yang lain.</p>
<p>Dengan  nafas yang terengah-engah dan keringat yang mengucur deras, aku tiba di  depan lapangan itu. Tampak lima orang ibu-ibu komplek sedang duduk di  bawah pohon rindang yang agak jauh dari lapangan. Mereka sepertinya  sedang asyik mengobrol sambil menyantap rujak. Aku harus memperingatkan  mereka, mereka harus tahu bahwa nyawa mereka sedang dalam bahaya. Aku  berjalan mendekati mereka, lalu mengangkat kotak kayu itu tinggi-tinggi.</p>
<p>&#8220;Ibu-ibu! Gawat!&#8221; teriakku, mereka semua menoleh, &#8220;Di dalam kotak ini ada bom!&#8221;</p>
<p>Mereka  terdiam sejenak, salah seorang di antara mereka bahkan menjatuhkan  jambu yang sedang dikunyah. Tak sampai dua detik, keheningan itu pecah.  Kelima wanita itu menjerit histeris, lalu segera berlari sekuat tenaga  menjauhi aku, salah seorang di antara mereka bahkan ada yang jatuh  tersandung kaki sendiri, tapi segera bangkit kembali. Aku dapat  mendengar teriakan mereka memudar seiring dengan semakin jauhnya mereka  berlari. Aku menghela nafas. Baguslah, aku berhasil menyelamatkan  mereka.</p>
<p>Aku terdiam. Aneh, kenapa aku membuat orang-orang lari  menjauh sementara aku sendiri masih memegang kotak yang berisi bom ini?  Gawat, kalau begini malah aku sendiri yang akan menjadi korban, padahal  aku tidak siap untuk menjadi martir. Entah tinggal berapa lama waktu  yang kumiliki, tapi bom di dalam kotak ini terus berdetak sejak tadi.  Aku harus mengevakuasi diri selagi sempat. Perlahan aku meletakkan kotak  itu di tengah lapangan voli yang kosong, lalu aku bersiap untuk lari  sekuat tenaga.</p>
<p>Namun ketika aku membalikkan badan, tiba-tiba aku  menyaksikan banyak mobil berwarna hitam yang berdatangan, kalau tidak  salah ada empat mobil. Dalam gerakan yang amat cepat, sekelompok orang  berpakaian militer warna hitam, mengenakan rompi anti peluru, helm,  serta membawa senapan laras panjang keluar dari dalam mobil-mobil itu.  Mereka segera berbaris, membentuk formasi yang mengelilingiku dari  segala arah. Siapa orang-orang ini? Apa mereka polisi? Ketika aku  melihat lambang burung hantu di mobil mereka, aku sadar bahwa pasukan  yang berada di hadapanku ini adalah Densus 88, spesialis anti-teror yang  terkenal itu. Dan ketika aku melihat ada beberapa orang berpakaian  seperti astronot keluar dari salah satu mobil, aku sadar bahwa di antara  mereka ada penjinak bom dari Gegana. Aku menghembuskan nafas lega,  rasanya semua beban yang menyesakkan di dadaku mencair seketika.  Meskipun aku belum sepenuhnya aman, tapi sepertinya aku terselamatkan,  mereka pasti bisa menjinakkan bom ini.</p>
<p>&#8220;Jangan bergerak!&#8221; mereka menodongkan senapan ke arahku.</p>
<p>Tidak, ini salah paham! Matilah aku.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Aku  berada di ruangan interogasi. Hampir mirip seperti di film-film: sebuah  ruangan, sebuah meja, dan dua buah kursi. Di depanku ada seorang polisi  yang bertugas untuk menginterogasi aku, sementara di salah satu sisi  ruangan terdapat kaca satu arah, aku yakin ada anggota kepolisian lain  yang mengamati kami dari balik kaca itu. Bedanya dengan di film, benda  yang berada di atas meja di hadapanku bukanlah segelas kopi hangat, tapi  adalah sebuah kotak kayu. Ya, kotak kayu yang tadi kubawa berlari-lari  keliling komplek.</p>
<p>Beberapa jam yang lalu petugas Gegana  berpakaian lengkap dengan hati-hati mendekati kotak itu di tengah  lapangan voli, sementara aku sudah diborgol dan dimasukkan ke dalam  mobil yang ditempatkan di jarak aman. Layaknya penjinak bom di film Hurt  Locker, mereka membuka kotak kayu itu, suasana saat itu sangat  mendebarkan. Tapi ketika kotak itu terbuka lebar, reaksi mereka sungguh  berbeda. Mereka menoleh ke arah pasukan yang lain sambil mengangkat  sebuah jam dinding berbentuk Mickey Mouse, lalu mereka tertawa. Tapi aku  tak diizinkan untuk ikut tertawa. Bagiku, tidak ditembak mati oleh  Densus 88 saja sudah merupakan keberuntungan yang sangat besar.</p>
<p>&#8220;Kamu  tahu, semua tindakan yang kamu lakukan waktu menemukan kotak  mencurigakan tadi, nggak ada satu pun yang logis!&#8221; ucap polisi di  hadapanku, matanya tajam menatapku dengan sorot mata orang yang kesal  karena ketenangannya diganggu.</p>
<p>&#8220;Saya panik, Pak,&#8221; jawabku pelan.</p>
<p>&#8220;Kalau  kamu ketemu bom, terus kamu panik, normalnya kamu lari! Bukannya  membawa-bawa bom itu keliling komplek sambil mendatangi pusat keramaian!  Kamu ingin membunuh ibu-ibu itu ya? Atau jangan-jangan kamu memang  teroris yang ingin membuat ancaman palsu?&#8221; ucapnya lagi.</p>
<p>&#8220;Bukan Pak, sumpah Pak!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, kenapa kamu nggak menelepon polisi waktu kamu mencurigai ada bom di dalam kotak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya, soalnya handphone saya hilang, Pak. Saya udah cari, tapi saya nggak tahu ada di mana.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba  polisi itu mengulurkan tangannya yang kekar, lalu ia mencengkeram kerah  bajuku. Gawat, aku akan disiksa, aku pasti akan disiksa.</p>
<p>&#8220;Hanpdhone kamu hilang? Terus, yang kamu kalungin di leher kamu ini apa?&#8221;</p>
<p>Aku menunduk, melihat ponsel kesayanganku bergelantungan di balik kerah bajuku, lalu aku menangis.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Aku  dibebaskan dari kantor polisi setelah ditahan selama beberapa jam  karena dicurigai sebagai kaki tangan teroris. Ketika aku pulang ke rumah  kontrakan, malam sudah cukup larut, dan kurasa para tetangga  memandangiku dengan wajah kesal dari balik jendela rumah mereka. Seumur  hidup, aku akan dikenang karena kejadian tadi, sebagai orang yang  berlari panik sambil membawa kotak berisi jam dinding Mickey Mouse.  Mungkin akan lebih baik kalau aku segera pindah ke luar kota saja.  Merasa sangat lelah, aku pun langsung tidur.</p>
<p>Pagi ini aku bangun  dengan pikiran yang tidak karuan. Aku membuka internet dan menemukan  berita tentang kejadian kemarin sudah muncul di situs Detik.com, dengan  judul <em>&#8220;Dikira Berisi Bom, Seorang Pemuda Panik Mendapatkan Kado Jam Dinding&#8221;</em>,  lengkap dengan komentar orang-orang iseng yang menertawai kebodohanku.  Aku berani bertaruh, seandainya mereka berada dalam posisiku waktu itu,  mereka juga pasti akan melakukan hal yang sama. Lagipula, siapa yang  tidak panik kalau menerima kotak aneh yang berdetak seperti bom waktu?  Bukankah wajar bila kita berbuat tidak rasional saat sedang panik?</p>
<p>Aku  muak, aku tak ingin berada di sini. Dengan lesu aku mengambil jaket dan  berniat keluar rumah, kemanapun, ke tempat yang jauh dimana tidak ada  orang yang tahu mengenai kejadian kemarin. Namun seketika itu juga  keningku mengkerut, aku melihat sebuah benda tergeletak di halaman  depan. Sebuah kotak? Bukan kotak biasa, ini adalah kotak yang sama  dengan kotak sialan kemarin. Aku mendesis kesal, tanganku mengepal.  Siapa orang yang melakukan semua ini? Siapa orang yang dengan kejamnya  mempermainkan aku? Tapi cuma orang bodoh yang akan terjatuh dalam lubang  yang sama dua kali.</p>
<p>Dengan geram, aku segera mengambil kotak itu,  lalu menyobek kertas pembungkusnya. Kupasang telingaku baik-baik. Ah,  itu dia, aku dapat mendengar suaranya. <em>Tik! Tik! Tik!</em> Benar-benar suara yang merdu. Tanpa keraguan sedikitpun, aku membuka  pintu di salah satu sisi kotak itu. Kemarin jam dinding Mickey Mouse,  sekarang jam dinding macam apa? Nah, sekarang aku dapat melihatnya.  Jamnya terlihat lebih kecil dari jam yang kemarin, bahkan mungkin bukan  jam dinding. Angka-angka penunjuknya pun terlihat unik. Selain itu, di  sekitar jam tersebut aku dapat melihat kotak-kotak kecil serta  kabel-kabel yang sangat banyak.</p>
<p>Nafasku tertahan. Ini bukan jam. Ini bom sungguhan.</p>
<p>Jantungku  berdetak cepat, jauh lebih cepat dari irama jarum jam kecil itu. Apa  yang harus aku lakukan? Setelah kejadian memalukan kemarin, sekarang  tidak akan ada lagi yang memepercayai ucapanku mengenai bom. Orang-orang  hanya akan mengira aku sedang mengerjai mereka untuk yang kedua  kalinya, bahkan polisi mungkin tidak akan menganggap serius pengaduanku.  Ini benar-benar kacau, sepertinya aku memang telah dijebak, sudah skak  mat.</p>
<p>Sementara hitung mundur terus berlangsung, aku menemukan  secarik kertas di dalam kotak itu. Isinya adalah pesan dari sang  teroris.</p>
<p>SELAMAT ULANG TAHUN. MAAF, KEMARIN SALAH KIRIM.</p>
<p><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</em></p>
<blockquote><p><em>Cerita ini dibuat untuk menyambut ulang tahun Kemudian.com yang ke-4<br />
</em></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680222&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/12/11/kado-panik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Hantu di Ruang Sekretariat</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/31/cerita-hantu-di-ruang-sekretariat/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/31/cerita-hantu-di-ruang-sekretariat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 18:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komedi]]></category>
		<category><![CDATA[Thriller]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hantu]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680219</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Cilok setan?&#8221; Genta mengerutkan kening. &#8220;Iya, masa kalian nggak pernah dengar?&#8221; Jati menatap Genta dan Ori, keduanya balas menatap. &#8220;Gue nggak pernah denger, ngarang kali lo?&#8221; ujar Ori. &#8220;Ah, nggak gaul. Anak-anak kampus yang lain juga pada tau,&#8221; Jati membela diri. &#8220;Ya udah, coba lo ceritain kaya gimana ceritanya?&#8221; ucap Ori. Cerita mereka pun dimulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680219&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Cilok setan?&#8221; Genta mengerutkan kening.</p>
<p>&#8220;Iya, masa kalian nggak pernah dengar?&#8221; Jati menatap Genta dan Ori, keduanya balas menatap.</p>
<p>&#8220;Gue nggak pernah denger, ngarang kali lo?&#8221; ujar Ori.</p>
<p>&#8220;Ah, nggak gaul. Anak-anak kampus yang lain juga pada tau,&#8221; Jati membela diri.</p>
<p>&#8220;Ya udah, coba lo ceritain kaya gimana ceritanya?&#8221; ucap Ori.</p>
<p>Cerita mereka pun dimulai lagi. Sebenarnya semua itu terjadi tanpa direncanakan. Malam itu Genta mengajak Jati dan Ori untuk berkumpul di ruang sekretariat himpunan mahasiswa, demi mengerjakan proposal kegiatan yang harus selesai besok. Untunglah, pekerjaan mereka sudah tinggal sedikit, sehingga mereka bisa menyelesaikannya sebelum tengah malam. Sambil beristirahat sejenak, mereka pun menyeduh kopi dan mulai mengobrol <span id="more-2444680219"></span>tentang banyak hal, sampai akhirnya gosip-gosip hantu pun meluncur begitu saja dari mulut mereka. Ori yang pertama kali memulai cerita, ia berkisah mengenai kuntilanak yang konon menunggui pohon beringin di belakang kantin. Sayangnya, gosip itu sudah terlalu pasaran, sehingga tak ada lagi yang merasa terkejut. Hingga sekarang tibalah giliran Jati.</p>
<p>&#8220;Gue denger kisah ini dari si Andre, angkatan dua ribu empat,&#8221; ucap Jati sambil menyeruput kopi rasa moka di cangkirnya.</p>
<p>&#8220;Andre yang rambut gondrong itu?&#8221; tanya Ori.</p>
<p>&#8220;Iya, kalian tau kan, dia teh dulu sering nginep di kampus, sebelum dia lulus,&#8221; lanjut Jati.</p>
<p>Genta mengangguk.</p>
<p>Jati menundukkan kepalanya, lalu menatap kedua temannya itu satu persatu, &#8220;Dulu, pas habis acara LPJ pengurus himpunan, dia sempat di kampus sampe tengah malam. Nah, karena ada satu urusan, dia pun inget kalau dia harus pulang ke tempat kosnya. Pulanglah dia, sekitar jam satu malam. Di tengah jalan, dia ngerasa lapar. Soalnya memang dia belum sempat makan malam karena sibuk sama acara itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus dia ketemu tukang cilok?&#8221; tanya Ori.</p>
<p>&#8220;Diam dulu, jangan motong cerita,&#8221; protes Jati, &#8220;Nah di pertigaan yang deket halte itu, kan jalanan udah sepi. Dia lagi mau nyeberang, soalnya tempat kosnya ada di gang yang deket rumah sakit. Belum sempat nyeberang, dia ngelihat ada tukang cilok, pas di samping halte.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>&#8220;Berhubung lapar, dia datangin tuh tukang cilok. Dia sebenernya heran juga sih, kenapa ada tukang cilok mangkal tengah malam begitu, tapi namanya juga orang lagi lapar, dia nggak mikir terlalu jauh. Tukang ciloknya pakai topi, kebetulan lagi nunduk, jadi dia nggak lihat wajahnya. Mang, beli ciloknya, kata Andre. Terus si tukang cilok nanya: Mau beli berapa? Dua ribu aja Mang, kata Andre. Langsung tah sama si tukang cilok diambilin beberapa tusuk cilok dan dimasukin ke dalam plastik kecil, terus dikasih saos. Andre bayar uangnya ke tukang cilok. Habis bayar, dia cuma balik badan sedikit, trus langsung aja dia makan satu tusuk cilok. Nah pas itulah dia ngerasa aneh. Kok ciloknya rasanya agak-agak asin dan asem gimana gitu. Dia pikir jangan-jangan itu makanan udah basi. Karena kesel, langsung aja dia balik badan dan pengen meriksa isi gerobak si tukang cilok. Dan taunya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Taunya?&#8221; Genta penasaran.</p>
<p>&#8220;Ternyata yang ada di dalem gerobaknya bukan cilok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apaan?&#8221; Ori memburu.</p>
<p>&#8220;Bola mata. Bola mata manusia. Jelas aja Si Andre kaget setengah mati dan jadi mual-mual. Langsung dia keluarin lagi cilok yang ada di mulutnya, dan ternyata itu juga bola mata, saosnya itu darah. Pas dia coba natap wajah si tukang cilok, ternyata&#8230; matanya bolong&#8230;,&#8221; Jati mengakhiri ceritanya sambil menelan ludah, seolah ingin memberikan ekspresi takut.</p>
<p>Selama beberapa detik mereka terdiam.</p>
<p>&#8220;Terus Si Andre gimana? Nggak mati dia?&#8221; tanya Ori.</p>
<p>&#8220;Ya nggak atuh! Dia langsung lari nyebrang jalan dan pulang ke tempat kosnya. Nggak bisa tidur dia semalaman,&#8221; ucap Jati.</p>
<p>&#8220;Parah banget tuh Andre, bisa begitu,&#8221; ucap Genta.</p>
<p>&#8220;Iya, itu sih dianya aja goblok! Udah tau tengah malam, malah beli cilok. Lagian, kaya anak SD aja sih, jajanannya cilok,&#8221; ucap Ori sambil berusaha tertawa.</p>
<p>Jati menghela nafas dan menghabiskan kopinya. Ia dan Ori sama-sama melirik ke arah Genta, lalu mengangkat alis. Genta mengangkat kedua bahunya, seolah tidak paham apa-apa.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>&#8220;Gantian,&#8221; ucap Jati.</p>
<p>&#8220;Waduh, gue nggak punya cerita kaya begitu. Beneran deh,&#8221; Genta mengelak.</p>
<p>&#8220;Ah nggak asik lo. Kan tadi gue udah cerita, Jati juga,&#8221; ucap Ori.</p>
<p>&#8220;Habis gimana dong? Emang bener nggak tau apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus? Pulang aja nih kita?&#8221; tanya Jati.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu, kopi gue masih banyak, sayang-sayang,&#8221; kemudian Ori menyalakan sebatang rokok, &#8220;Lagian gue ada satu cerita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cerita horor?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>&#8220;Bukan, cerita bokep!&#8221;</p>
<p>Ori dan Jati tertawa, tapi kemudian Jati menghentikan tawanya dan menatap Ori, &#8220;Seriusan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha. Mupeng banget lo! Tapi ya agak-agak sih, sedikit,&#8221; Ori menghembuskan asap rokok dari mulutnya, &#8220;Kalian tau Talita kan? Anak Teknik Kimia.&#8221;</p>
<p>Genta mengangguk, ekspresinya datar. Entah dia benar-benar paham atau tidak.</p>
<p>&#8220;Talita yang bohay tea? Yang sering lewat depan fakultas kita?&#8221; tanya Jati dengan antusias.</p>
<p>&#8220;Yep, yang mana lagi? Dia itu kan pacaran sama yang namanya Deri, gue nggak tau dia angkatan berapa, tapi yang jelas mereka pacaran lumayan lama,&#8221; Ori terdiam sejenak, &#8220;Pada suatu malam&#8230; mereka lagi mojok di kampus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebentar! Mereka suka mojok di kampus?&#8221; tanya Jati.</p>
<p>&#8220;Iya. Tau sendiri lah, dia kan rada-rada bitchy, pacarannya juga udah bebas banget, entah udah berapa kali mereka gituan di kampus,&#8221; jawab Ori.</p>
<p>&#8220;Anjrit! Kenapa nggak bilang dari dulu, tau gitu gua rekam mereka pake kamera. Lumayan nambah koleksi,&#8221; ucap Jati.</p>
<p>&#8220;Ya tapi sekarang mereka udah nggak pernah mojok di kampus lagi. Si Deri juga udah insaf sekarang, rajin ke mesjid dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lanjut dong ceritanya,&#8221; ucap Genta, memotong obrolan kedua temannya yang mulai keluar topik.</p>
<p>Jati membetulkan posisi duduknya, wajahnya tampak serius mendengarkan. Mungkin karena cerita kali ini mengandung unsur cerita dewasa.</p>
<p>&#8220;Malam itu mereka lagi mojok di ruangan bekas lab yang nggak dikunci. Jangan tanya gue, gue juga nggak tau yang sebelah mana, tapi kata temen gue sih ada di sebelah pojok barat sana. Mereka terus&#8230;,&#8221; Ori berdeham, melancarkan tenggorokannya lalu merubah intonasi suara, &#8220;&#8230;lalu, di tengah gelora asmara dan rasa horni yang tak terbendung, sepasang kekasih itu pun melakukan hal-hal yang tidak senonoh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biasa aja dong ceritanya,&#8221; protes Genta.</p>
<p>&#8220;Biarin!&#8221; potong Jati.</p>
<p>&#8220;Mereka mulai saling meraba dan saling merangsang satu sama lain, berpelukan, lalu berciuman. Percumbuan sepasang kekasih itu pun semakin hot. Kalian tau kan, gimana bodi Talita? Dan malam itu pun, tubuh indah itu tak lepas dari jamahan Deri, sang pacar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini cerita bokep beneran ya?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>&#8220;Biarin!&#8221; potong Jati.</p>
<p>&#8220;Dengan binalnya, Talita menarik dan membuka kancing-kancing di kemeja Deri, lalu ia mendorong tubuh cowoknya itu sampai terbaring di atas meja lab. Perlahan dengan penuh nafsu, Talita ikut naik ke atas meja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa sih, dia seagresif itu?&#8221; ucap Genta.</p>
<p>&#8220;Biarin!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wajah Talita mendekat ke tubuh Deri. Diciumnya cowok itu dengan sangat liar, dari kening, hidung, terus turun ke bawah. Lalu perlahan, dengan nafas yang menderu, Talita menjulurkan lidahnya.&#8221;</p>
<p>Jati dan Genta terdiam, mereka berusaha membayangkan.</p>
<p>&#8220;Lidah mungil dan basah itu keluar pelan di antara bibir seksi Talita.&#8221;</p>
<p>Suasana semakin hening, Jati menahan nafas dan larut berimajinasi.</p>
<p>&#8220;Kemudian.. lidah itu menjulur keluar&#8230; dan terus&#8230; semakin panjang&#8230; semakin panjang&#8230; sampai akhirnya menyentuh lantai,&#8221; Ori menatap tajam.</p>
<p>Jati dan Genta saling pandang. Entah kenapa Jati merasa imajinasinya seperti dirusak oleh akhir cerita itu. Sekarang seluruh tubuhnya jadi merinding.</p>
<p>Brak! Sebuah suara terdengar dari luar ruangan, mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Jantung mereka tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya, hingga kemudian terdengar suara kucing yang sedang kesepian mencari teman. Jati menghembuskan nafas lega.</p>
<p>&#8220;Anying! Kirain ceritanya kaya gimana!&#8221; Jati mulai protes.</p>
<p>&#8220;Aneh ya?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>&#8220;Iya bener! Nggak masuk akal, masa Talita bisa begitu?&#8221; Jati menimpali.</p>
<p>Ori menghela nafas dan membuang abu rokok ke dalam asbak, lalu mulai menjelaskan lagi, &#8220;Jadi gini. Habis ngelihat kejadian horor kaya gitu, Si Andre langsung lari sambil teriak-teriak. Katanya Si Talita berlidah panjang juga sempet ngejar-ngejar Andre sampai ke lapangan basket. Untungnya, Andre ketemu ama satpam yang lagi jaga tempat parkir, makanya dia selamat. Nah besok paginya, dia baru sadar kalo ternyata Si Talita yang asli tuh semalam sama sekali nggak keluar rumah. Jadi itu bukan Talita.&#8221;</p>
<p>Jati mengangguk-angguk, sepertinya dia mulai paham. Tapi tetap saja, khayalan tentang wanita cantik berlidah panjang masih belum bisa hilang dari dalam benaknya. Di tengah usaha untuk mencari khayalan lain, tiba-tiba ia teringat sesuatu.</p>
<p>&#8220;Kayanya gua juga pernah denger, yang kaya gitu. Hantu yang suka niru orang lain,&#8221; ucap Jati sambil menggaruk-garuk keningnya.</p>
<p>&#8220;Iya ya, kayanya pernah ada kasus lain yang mirip,&#8221; Ori membuang puntung rokok, lalu menghabiskan sisa kopinya. Sejenak mereka berpikir dan berusaha mengingat-ingat, sampai akhirnya Genta angkat bicara.</p>
<p>&#8220;Kalau soal itu, gue tau,&#8221; ucap Genta singkat. Jati dan Ori menoleh ke arah Genta.</p>
<p>&#8220;Tadi katanya nggak punya cerita apa-apa?&#8221; ujar Jati.</p>
<p>&#8220;Hantu peniru itu,&#8221; ucap Genta, &#8220;biasanya meniru wujud orang yang kita kenal, bisa teman, pacar, atau keluarga. Dan dia itu cuma muncul waktu malam-malam, nggak pernah siang.&#8221;</p>
<p>Ori mengerutkan kening dan mendengarkan Genta dengan serius. Sementara itu Genta melanjutkan lagi ceritanya.</p>
<p>&#8220;Soalnya, kalau siang hari, dia ngikutin orang yang bakal ditirunya. Waktu siang dia nguping pembicaraaan orang itu, mata-matain setiap kegiatannya, pokoknya nyari informasi selengkap-lengkapnya. Pastinya dia itu nggak keliatan, namanya juga hantu atau jin. Nah, pas matahari terbenam, barulah dia berubah wujud, terus ngundang teman atau kenalan orang yang dia tiru, ngajak ngobrol, jalan-jalan, atau apa aja yang biasa orang itu lakuin. Dia bakal mainin orang itu sampai dia puas, dan kalo dia udah puas&#8230; dia tinggal ngasih kejutan. Ya kaya lidah panjang tadi, atau kaki yang ngambang, atau menghilang tiba-tiba. Semacam itu deh,&#8221; ucap Genta tenang.</p>
<p>Ori memegang dagunya sendiri dan mulai bergumam, seperti sedang berpikir atau berusaha meresapi cerita Genta.</p>
<p>&#8220;Lo tau dari mana tentang semua itu?&#8221; tanya Ori.</p>
<p>Genta hanya tersenyum. Melihat reaksi yang janggal itu, Ori dan Jati saling pandang satu sama lain.</p>
<p>&#8220;Mau nakut-nakutin ya? Kampring ah, nggak lucu!&#8221; ucap Jati sambil terkekeh geli. Genta ikut terkekeh.</p>
<p>&#8220;Masih ada cerita yang lain?&#8221; tanya Ori pada Genta. Genta hanya menggeleng. &#8220;Yaudah, kalo nggak ada lagi, kita pulang sekarang. Sebentar lagi udah jam satu nih.&#8221;</p>
<p>Mereka bertiga pun segera bangkit dari karpet tempat mereka duduk, tidak lupa Ori mematikan komputer serta merapikan kertas-kertas di atas meja. Karena esok tidak ada jadwal kuliah, jadi mereka bisa santai-santai bergadang di kampus, selain juga sengaja untuk memanfaatkan fasilitas sekretariat himpunan. Ketika Jati yang memegang kunci bersiap untuk mengunci pintu, tiba-tiba Genta pergi meninggalkan kedua temannya dan masuk ke dalam toilet.</p>
<p>&#8220;Genta kemana?&#8221; tanya Jati setelah mengunci pintu.</p>
<p>&#8220;Ah, paling juga kebelet.&#8221; jawab Ori santai.</p>
<p>Sambil menunggu Genta, mereka duduk di atas kursi panjang yang letaknya tak jauh dari toilet. Suasana tengah malam sudah sangat sepi, dan udara malam pun terasa menggigit tulang. Sesekali Jati memeluk tubuhnya sendiri yang dibalut sweater hitam, sementara Ori kembali menyalakan sebatang rokok demi menghangatkan tubuh. Sudah lima menit mereka menunggu, tapi Genta tak juga keluar dari toilet.</p>
<p>&#8220;Cepetan Ta! Boker ya lo?&#8221; teriak Ori dari luar pintu toilet.</p>
<p>&#8220;Pasti, dari tadi nggak ada suara air,&#8221; timpal Jati.</p>
<p>Mereka menunggu lagi, udara semakin dingin. Sudah lima menit, namun batang hidung Genta belum juga muncul. Jati akhirnya meminta rokok Ori, dan dengan itu ia telah membatalkan rencananya untuk berhenti merokok. Apa boleh buat, udara dingin ini memaksanya mencari pelarian. Lima belas menit berlalu, sepertinya Genta masih belum selesai. Mencoba mengusir kebosanan, Jati mengambil ponsel dari saku celananya, dan pada saat itu ia baru menyadari ada pesan singkat yang masuk ke nomornya. Ia membuka pesan itu dan membaca isinya, lalu menahan nafas.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya Ori.</p>
<p>&#8220;SMS, dari Genta. Katanya &#8216;Jat, gue baru inget soal proposal untuk besok siang. Besok pagi jam tujuh kita ketemuan di sekre ya. Sekarang gue bikin sebagian dulu, sisanya mesti diomongin bareng-bareng, kasih tau Ori&#8217;,&#8221; ucap Jati membacakan SMS di ponselnya.</p>
<p>Mendengar isi pesan tersebut, Ori segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah toilet. Dengan agak kesal, ia mengetuk-ngetuk pintu toilet.</p>
<p>&#8220;Genta! Udah lah, nggak usah becanda lagi, cepetan, kita udah kedinginan!&#8221; teriak Ori.</p>
<p>Merasa tak ada balasan dari dalam toilet, Ori pun memutar kenop pintu toilet dan mendorongnya. Ternyata tidak dikunci. Perlahan-lahan, ia melongok ke dalam ruangan toilet, memeriksa isi toilet itu. Dengan wajah yang berubah pucat, ia menoleh ke arah Jati dan berbisik pelan.</p>
<p>&#8220;Kosong&#8230;!&#8221;</p>
<p>Jati segera bangkit dari kursi, seluruh tubuhnya merinding. Lalu tanpa banyak bicara lagi, kedua orang mahasiswa itu segera berlari menjauh dari tempat itu menuju gerbang kampus. Pikiran mereka tidak karuan dan mulai mengingat-ingat keanehan Genta selama semalaman ini. Genta yang mengajak mereka bertemu di kampus malam-malam, namun ia tak banyak berkontribusi dalam membuat proposal. Ia juga tak banyak menimpali percakapan kecuali cerita mengenai hantu peniru. Dalam pikiran mereka, pasti mereka baru saja dikerjai hantu peniru itu.</p>
<p>Dua menit setelah kedua orang itu lari terbirit-birit, pintu sebuah lemari tua di sebelah toilet terbuka. Dari dalam lemari tua itu, Genta keluar dan tertawa puas. Tak disangka ia mendapatkan ide yang bagus ketika keluar dari toilet. Ia menemukan lemari besar yang hanya diisi beberapa gagang sapu dan pembersih lantai, dan ia pikir itu akan melengkapi lelucon yang sudah melintas dalam pikirannya. Genta pun masuk ke dalam lemari itu dan mengirim SMS ke ponsel Jati. Sebenarnya ia tidak berharap kedua temannya bisa tertipu semudah itu. Ia pikir seorang di antara mereka akan mengecek ke dalam lemari, lalu Genta bisa melompat keluar sambil mengagetkan mereka. Tapi rupanya cerita-cerita seram yang mereka obrolkan sebelumnya telah mempengaruhi cara berpikir rasional mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk lari ketakutan.</p>
<p>Sambil menyisakan senyum di bibirnya, Genta pun berjalan pulang, melewati pos satpam di dekat gerbang kampus, lalu melihat dua orang satpam sedang menonton televisi sambil terkantuk-kantuk.</p>
<p>&#8220;Pak, tadi liat ada dua orang yang lewat sini?&#8221; tanya Genta.</p>
<p>Seorang satpam yang masih tampak segar melihat ke arah Genta sambil mengecilkan suara televisi, &#8220;Oh, yang tadi keluar sambil lari itu ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; Genta berusaha menahan tawa.</p>
<p>&#8220;Kenapa sih mereka? Kaya yang abis ngeliat setan aja. Saya panggil, eh malah semakin cepat larinya,&#8221; ucap satpam itu.</p>
<p>&#8220;Maklum lah Pak, mahasiswa stres,&#8221; ujar Genta.</p>
<p>Keluar dari gerbang kampus, Genta baru menyadari betapa dinginnya udara dini hari. Mungkin karena tadi ia terlalu antusias dengan leluconnya, sampai-sampai tidak sadar dengan suhu udara yang rendah ini. Ia berjalan menyebrangi jalan raya yang kosong, tak ada satu pun kendaraan yang melintas, bahkan manusia pun tidak. Sudah tentu tak akan ada kendaraan umum pada jam selarut ini, jadi ia memutuskan untuk jalan kaki hingga tempat kosnya, untunglah letaknya tak begitu jauh. Kalau ia beruntung, mungkin ia bisa bertemu dengan Ori dan Jati, lalu dengan sangat puasnya menertawai mereka berdua. Ia tertawa sendiri ketika memikirkan kemungkinan itu.</p>
<p>Di pertigaan jalan, tiba-tiba Genta menyadari sesuatu. Ternyata ada seorang lelaki bertopi yang berdiri di pinggir jalan, di sampingnya ada sebuah gerobak. Sambil berjalan melewati laki-laki itu, Genta memperhatikan gerobaknya, dan ia menyadari bahwa laki-laki itu adalah tukang cilok. Dengan jantung yang berdebar-debar, Genta melirik ke arah jam tangannya. Jam satu malam. Dari sudut matanya ia melihat ke arah panci yang terbuka di atas gerobak itu, melihat benda-benda bulat yang memenuhi panci itu, sampai salah satu benda bulat itu berputar pelan dengan sendirinya, lalu menatap ke arahnya.</p>
<p>&#8220;Ciloknya, Dek?&#8221; tukang cilok menengadah, memperlihatkan lubang matanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680219&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/31/cerita-hantu-di-ruang-sekretariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Bilang Saya Zombi</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/02/mereka-bilang-saya-zombi/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/02/mereka-bilang-saya-zombi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 18:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komedi]]></category>
		<category><![CDATA[dark comedy]]></category>
		<category><![CDATA[parodi]]></category>
		<category><![CDATA[satire]]></category>
		<category><![CDATA[zombi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680214</guid>
		<description><![CDATA[Kevin dan Arya buru-buru masuk ke dalam rumah, mereka segera mengunci pintu dan menghalanginya dengan kursi dan meja. Untuk ukuran orang yang habis dikejar zombi, mereka sama sekali tidak terlihat ngos-ngosan, namun tetap saja jantung mereka berdebar kencang. &#8220;Gue bilang juga apa, Ar, teori paradoks zombi gue bener kan?&#8221; ucap Kevin sambil tersenyum bangga. &#8220;Iya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680214&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kevin dan Arya buru-buru masuk ke dalam rumah, mereka segera mengunci  pintu dan menghalanginya dengan kursi dan meja. Untuk ukuran orang yang  habis dikejar zombi, mereka sama sekali tidak terlihat ngos-ngosan,  namun tetap saja jantung mereka berdebar kencang.</p>
<p>&#8220;Gue bilang juga apa, Ar, teori paradoks zombi gue bener kan?&#8221; ucap Kevin sambil tersenyum bangga.</p>
<p>&#8220;Iya  deh, gue akui kalau lo emang temen gue yang paling cerdas, bahkan di  saat kota ini lagi diserbu pasukan zombi, pemerintahan kolaps, militer  chaos, dan temen-temen kita jadi makhluk dekil pemangsa otak,&#8221; ujar  Arya.<span id="more-2444680214"></span></p>
<p>Teori paradoks zombi yang dicetuskan oleh Kevin berkat  hobinya menonton film horor sebenarnya terdiri dari beberapa poin, namun  hanya salah satu dari poin-poin tersebut yang telah menyelamatkan  mereka hari ini. Kevin menegaskan bahwa meski zombi-zombi bergerak  dengan sangat lambat, namun apabila kita berusaha berlari dengan  sekencang-kencangnya, kita justru akan tertangkap oleh mereka. Itu  terdengar sangat paradoks. Bagaimana mungkin zombi yang gerakannya lebih  lambat bisa menangkap manusia yang gerakannya lebih cepat? Mudah saja,  menurut Kevin, ketika manusia berlari dengan percepatan yang tinggi,  energinya akan cepat terkuras, dan ketika energinya mendekati nol, maka  manusia itu akan kelelahan dan kecepatan larinya berkurang drastis. Di  sisi lain, para zombi, meskipun gerakannya sangat lambat, tapi mereka  bergerak dengan kecepatan yang konstan, sehingga energi mereka tidak  cepat terkuras. Dengan perhitungan sederhana dapat dibuktikan bahwa pada  akhirnya manusia yang berlari paling cepat akan ditangkap oleh zombi  yang berjalan paling lambat.</p>
<p>Kevin dan Arya dapat selamat dari  kejaran zombi di luar sana karena mereka berlari kecil seperti jogging  di depan para zombi yang merangkak pelan. Mungkin agak sulit mempercayai  keabsahan teori ini, tapi Arya tak mau tahu, yang penting ia bisa  pulang ke rumahnya dengan selamat.</p>
<p>&#8220;Kenapa ya, orang-orang bisa  berubah jadi zombi?&#8221; tanya Arya sambil duduk di sofa ruang tamunya  sambil berusaha menenangkan diri.</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230;, kalau berdasarkan pengalaman gue sih&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pengalaman? Lo udah pernah diserang zombi sebelumnya?&#8221; potong Arya.</p>
<p>&#8220;Ya, sering. Resident Evil satu sampai lima gue udah tamat. Left 4 Dead, House of The Dead, trus juga&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud gue, di dunia nyata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaaaaa&#8230;!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba  suara jeritan perempuan memotong ucapan Kevin. Suara jeritan yang  melengking tinggi itu berasal dari lantai dua. Mereka terdiam, lalu  saling pandang satu sama lain. Ada yang tidak beres dengan suara jeritan  itu, ada sesuatu yang memilukan dan membuat mereka merinding.</p>
<p>&#8220;Siapa Ar?&#8221; tanya Kevin pelan.</p>
<p>&#8220;Nggak tau. Setahu gue di sini nggak ada orang lain selain kita,&#8221; jawab Arya.</p>
<p>&#8220;Aaaaaa&#8230;!&#8221;</p>
<p>Suara  jeritan itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih dekat, lebih  nyaring. Lalu suara langkah kaki yang tak beraturan terdengar dari arah  tangga di seberang ruang tamu. Arya dan Kevin mundur selangkah, lalu  mencari-cari sesuatu yang dapat digunakan sebagai senjata. Gagang sapu  dan asbak, cuma itu yang bisa mereka temukan. Suara langkah itu semakin  dekat, menuruni tangga dengan perlahan. Kevin melangkah maju dengan  hati-hati ke dekat dinding di sebelah tangga, sambil mengangkat gagang  sapu dan bersiap mengayunkannya. Kalau itu zombi, maka ia harus memukul  kepalanya, atau setidaknya mencolok matanya.</p>
<p>Kevin melihat  bayangan sosok itu lewat di dekatnya, namun sebelum ia sempat  mengayunkan sapu yang ada di tangannya, Arya berteriak mencegah.</p>
<p>&#8220;Itu bini gue!&#8221; teriak Arya.</p>
<p>Kevin  melangkah ke samping dan mandapati seorang wanita berdaster jingga  berdiri dengan tatapan lesu. Melinda, nama wanita itu, seorang wanita  yang sebenarnya sudah dikenal oleh Kevin sejak lama. Kevin ingin  bernafas lega, namun ia kembali menahan nafas ketika menyadari keadaan  Melinda. Rambut panjang perempuan itu tampak berantakan, sebagian  rambutnya bahkan terlihat rontok di wajahnya. Ada rona hitam di bawah  matanya, seperti orang yang kekurangan tidur. Namun terlebih lagi,  sebuah garis merah panjang terlihat melintang di lengannya, seperti  bekas luka cakaran yang baru saja dibersihkan. Kevin menelan ludah, ia  punya firasat buruk tentang Melinda.</p>
<p>&#8220;Ar, lo bilang nggak ada siapa-siapa di sini?&#8221; ujar Kevin.</p>
<p>Melinda menoleh ke arah Arya dengan gerakan yang pelan, &#8220;Sayang, kok kamu bisa-bisanya ngelupain aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan gitu, Sayang. Aku pikir kamu lagi arisan di rumah Bu RT,&#8221; Arya resah, langsung mendekati istrinya.</p>
<p>&#8220;Kan aku udah pulang dari tadi, Sayang,&#8221; ucap Melinda dengan suara yang lesu dan tatapan kosong.</p>
<p>&#8220;Ya, tapi kamu ngomongnya nggak usah kaya di film Suzanna gitu dong. Kamu kenapa sih?&#8221; tanya Arya.</p>
<p>&#8220;Nggak apa-apa kok, aku cuma kangen sama kamu,&#8221; ujar Melinda, lalu jatuh ke pelukan suaminya.</p>
<p>&#8220;Udah  deh, udah. Mentang-mentang kalian pengantin baru bukan berarti kalian  mesti mesra-mesraan di saat kaya gini kan?&#8221; keluh Kevin sambil melempar  sapunya.</p>
<p>Suara raungan zombi di kejauhan terdengar samar,  sementara ketiga manusia itu berusaha menggenggam kenyataan bahwa  kehidupan mereka telah berubah drastis. Keadaan di luar rumah sudah  seperti neraka, para tetangga menyebalkan yang biasanya suka menggerutu  tak jelas, kini semakin menyebalkan karena tetap suka menggerutu, namun  sambil berjalan sempoyongan dan memangsa manusia. Belum lagi dengan isu  yang mengabarkan bahwa pihak militer yang tersisa akan membumihanguskan  kota Jakarta karena tingkat pandemi yang tak bisa ditolerir lagi.</p>
<p>&#8220;Eh lo mau minum apa, Vin?&#8221; tanya Arya.</p>
<p>&#8220;Kopi deh,&#8221; jawab Kevin sambil menyalakan televisi.</p>
<p>&#8220;Yang, bikinin kopi dong, dua cangkir ya,&#8221; ucap Arya pada Melinda.</p>
<p>Melinda  hanya mengangguk pelan, lalu langsung berjalan sempoyongan ke arah  dapur. Sementara itu penyiar berita di televisi tampak serius membacakan  berita berjudul Pidato Presiden Mengenai Wabah Virus Zombi. Kedua pria  itu saling berpandangan, kemudian perhatian mereka segera tertuju pada  layar kaca. Satu-satunya harapan mereka adalah pertolongan dari pihak  pemerintah, dan pidato presiden ini tentu akan sangat menentukan tingkat  keselamatan mereka yang tidak terangkut pesawat evakuasi.</p>
<p>Layar  televisi memperlihatkan Presiden RI yang sedang berdiri dengan khidmat  di podium, mengenakan batik berwarna merah darah dan kantung mata yang  hitam, sebagian kelompok oposisi mungkin mulai mempertanyakan apakah ia  sudah terinfeksi atau belum. Namun sikapnya yang tenang dan berwibawa  meyakinkan Arya dan Kevin bahwa Bapak Presiden masih belum menjadi  zombi.</p>
<p>&#8220;Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam  sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang  saya cintai dan saya banggakan. Seperti yang kita ketahui bersama  melalui media, bahwa wabah virus zombi telah menyebar di Pulau Jawa,  terutama di Jakarta. Sehubungan dengan itu, pusat pemerintahan telah  dipindahkan sementara ke Palangkaraya, dan sebagian besar masyarakat  yang dinyatakan steril juga telah dievakuasi ke tempat yang aman di luar  pulau. Meski demikian, saya juga menyadari bahwa ada sebagian rakyat  yang tertinggal di Jakarta dan saat ini sedang menjadi incaran para  zombi. Oleh karena itu, saya selaku Presiden Republik Indonesia,  menyatakan rasa prihatin yang sangat mendalam. Semoga Allah SWT, Tuhan  Yang Maha Esa, senantiasa membimbing bangsa kita keluar dari krisis ini.  Wassalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.&#8221;</p>
<p>Keringat dingin  mengucur dari tubuh Arya dan Kevin, harapan mereka tiba-tiba saja pupus.  Tampaknya tidak ada yang akan menolong mereka keluar dari kota neraka  ini. Lebih buruk lagi, mereka tak punya senjata yang dapat digunakan  untuk melindungi diri. Dan tepat ketika perasaan mereka menjadi semakin  tegang, terdengar suara pintu rumah digedor-gedor dari luar. Tidak,  lebih tepatnya dipukul-pukul. Suara pukulan itu bertubi-tubi, dan  kedengarannya dilakukan oleh banyak orang. Kevin yang merasa penasaran  kemudian berjalan mengendap-endap ke arah jendela di dekat pintu. Ia  menyibak sedikit gorden di jendela itu, lalu mengintip. Jantungnya  hampir copot, sesosok wajah penuh darah membalas intipannya dari balik  jendela. Wajah itu tampak busuk, belatung berkeliaran di sela-sela mata  dan hidungnya, sementara urat-uratnya tampak membengkak dan terlihat  jelas. Namun wajah itu hanya bergeming, tidak menunjukkan ekspresi  apapun. Saat itulah ia sadar bahwa zombi di balik jendela itu tidak bisa  melihatnya, tapi mungkin bisa mencium bau tubuhnya. Ia segera mundur  dan terjerembab ke lantai.</p>
<p>&#8220;Gawat!&#8221; bisik Kevin.</p>
<p>&#8220;Kita harus pindah ke lantai atas,&#8221; balas Arya.</p>
<p>Dengan  langkah kaki yang amat perlahan&#8211;agar tak menimbulkan suara yang  memancing zombi&#8211;mereka menaiki anak tangga. Sesekali mereka menoleh ke  arah pintu, untuk memastikan bahwa para zombi belum berhasil  mendobraknya. Secara naluriah, Kevin menahan nafasnya, seolah hal itu  bisa membuatnya menghilang, dan saat itulah ia menabrak sesosok tubuh  yang sejak tadi berdiri di puncak tangga.</p>
<p>&#8220;Aaaaah!&#8221; Kevin teriak, cairan panas hitam menyiram wajahnya.</p>
<p>&#8220;Aduh&#8230; Ssst! Jangan berisik!&#8221; Arya panik.</p>
<p>&#8220;Panas tau! Ini gimana sih bini lo, masa gue disiram kopi?&#8221; Kevin menatap sosok Melinda yang baru saja ia tabrak.</p>
<p>Arya heran melihat istrinya yang tiba-tiba ada di puncak tangga, &#8220;Kamu kok bikin kopinya di atas sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya&#8230;. kompor di bawah rusak&#8230; jadi aku pakai air panas yang di atas&#8230;,&#8221; jawab Melinda dengan suara yang datar.</p>
<p>Brak!  Brak! Suara gebrakan yang sangat kuat memecah percakapan mereka. Kevin  dan Arya segera mengintip ke arah pintu utama, dan ternyata benar saja,  pintu itu sudah didobrak. Tiga zombi mulai merayap masuk ke dalam ruang  tamu. Tubuh mereka penuh darah dan lumpur, sementara wajah mereka luar  biasa hancur. Tapi Arya masih ingat siapa mereka. Ada Pak Simon,  rentenir kejam yang suka memeras dan punya banyak bodyguard. Arya masih  berhutang padanya sepuluh juta rupiah, dan berkat wabah zombi ini  sekarang ia tak perlu melunasinya lagi. Syukurlah. Selain itu ada Bu  Gifar dan anakperempuannya, Rani. Rani yang diam-diam sering dijadikan  objek cuci mata oleh Arya, kini sama sekali tak bisa mencuci mata  siapa-siapa, karena matanya sendiri sangat kotor dan dipenuhi belatung.  Gadis dua puluh tahun yang semok itu kini seperti daging busuk berjalan.</p>
<p>Tanpa  membuang-buang waktu lagi, mereka bertiga segera naik ke lantai atas,  tepatnya ke kamar Arya dan Melinda. Pintu kamar ditutup dan dikunci,  lalu lemari pakaian dihimpitkan ke depan pintu. Tempat tidur juga mereka  dorong hingga menghalangi lemari pakaian. Setelah itu mereka pun  menjauh dari pintu dan mencoba mencari senjata. Kevin mengambil tongkat  baseball yang ada di sudut ruangan, sementara Arya mengambil senapan di  dalam lemari.</p>
<p>&#8220;Senapan?&#8221; Kevin heran.</p>
<p>&#8220;Iya, kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa nggak bilang dari tadi lo punya senapan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue juga baru inget, dulu pernah ikut berburu sama temennya bokap.&#8221;</p>
<p>Kevin  menghela nafas kesal, namun kembali memasang tampang serius sambil  memperhatikan pintu kamar. Sampai saat ini belum ada suara zombi yang  mendekat, tapi kalau sampai zombi-zombi itu berhasil masuk, maka mereka  harus mempertahankan diri bagaimanapun caranya. Sementara itu, Melinda  tidak menemukan senjata apa-apa. Ia tiba-tiba saja jatuh terduduk di  atas lantai, tatapan matanya sayu, dan tubuhnya menggigil. Melihat  kondisi istrinya seperti itu, Arya merasa khawatir, ia meletakkan  senapannya dan segera membopong Melinda ke atas kasur.</p>
<p>&#8220;Woy, kenapa malah deket-deket pintu?&#8221; ujar Kevin gusar.</p>
<p>&#8220;Bini gue sakit nih kayanya, kasihan kalau tidur di lantai!&#8221;</p>
<p>Kevin  segera mendekat dan memeriksa keadaan Melinda. Gigi-gigi perempuan itu  membuat suara gemeretak yang nyaring, sementara kulitnya semakin pucat  dan dingin. Ketika sekali lagi melihat luka bekas cakaran di tangan  Melinda, Kevin merasa bahwa ketakutannya mungkin akan menjadi kenyataan.  Ia menepuk bahu Arya dan memberinya isyarat untuk berbicara empat mata.  Mereka pun membalikkan badan dan pergi ke pojok kamar.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya Arya.</p>
<p>&#8220;Lo nggak kepikiran, hah? Ciri-ciri kaya gitu, menurut gue&#8230; bisa aja&#8230; bini lo tuh sebentar lagi&#8211;&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak mungkin!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa nggak? Lo liat kan bekas cakaran di tangannya?&#8221;</p>
<p>Arya  mengangguk. Ia tentu melihat bekas luka itu, namun ia belum sempat  menanyakannya. Sekarang ia harus menanyakan Melinda darimana bekas luka  itu berasal. Arya membalikkan badan. Namun ia terkejut, tempat tidur itu  kosong. Dan sebelum ia sempat memalingkan wajahnya ke tempat lain, ia  baru sadar kalau sejak tadi Melinda jongkok di belakangnya.</p>
<p>&#8220;Kalian&#8230; ngomongin apa&#8230; kok mojok&#8230; kalian homo ya&#8230;?&#8221; ucap Melinda sambil menggigil dan seperti akan mati sebentar lagi.</p>
<p>&#8220;Sayang,  tolong kamu jujur sama aku. Dari mana luka di tangan kamu itu?&#8221; Arya  membantu istrinya berdiri, lalu merangkulnya ke pinggiran tempat tidur.</p>
<p>&#8220;Tadi&#8230;  waktu aku lagi arisan di rumah Bu RT&#8230;. ada ibu-ibu yang nawarin&#8230;  nawarin MLM&#8230; terus mereka berubah jadi zombi. Aku dicakar, tapi aku  berhasil kabur dan pulang ke sini&#8230;,&#8221; ucap Melinda dengan nafas yang  lemah.</p>
<p>Jantung Arya serasa berhenti mendengar penjelasan tersebut.  Mengapa Melinda baru menceritakan itu sekarang? Ini benar-benar  berbahaya. Bukan berbahaya untuknya, ia tak peduli pada keselamatan  dirinya sendiri. Bukan pula berbahaya untuk Kevin, apalagi, ia lebih  tidak peduli. Ia hanya mengkhawatirkan keselamatan Melinda, istrinya  yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu, dan belum berhasil  memberinya keturunan.</p>
<p>&#8220;Vin&#8230;, gimana ini?&#8221; Arya menoleh pada Kevin, wajahnya ikut pucat.</p>
<p>&#8220;Sial!  Sial, sial! Udah gue duga&#8230; semua orang yang berhubungan sama sales  MLM pasti berubah jadi zombi!&#8221; Kevin semakin panik dan mengacak-acak  rambutnya.</p>
<p>&#8220;Terus gue mesti gimana?&#8221;</p>
<p>Kevin tidak menjawab.  Ia mengambil senapan yang tergeletak di lantai, lalu meletakkannya di  genggaman tangan Arya. Mata mereka saling beradu. Kevin mengangguk,  seolah ia yakin bahwa Arya tahu apa maksudnya, namun Arya menggeleng.</p>
<p>&#8220;Jangan gitu, Arya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue nggak bisa Vin, dia istri gue sendiri&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue  tahu. Tapi yang penting sekarang adalah keselamatan bersama. Kalau  istri lo udah berubah jadi zombi, kita berdua bakal mati.&#8221;</p>
<p>Arya  menatap wajah istrinya yang sedang menggigil di atas kasur. Wajah itu,  wajah perempuan yang selama ini ia cintai, haruskah sekarang ia mencabut  nyawa perempuan itu dengan tangannya sendiri? Itu adalah tindakan  paling egois yang bisa ia bayangkan. Teringat kisah percintaan mereka  semasa kuliah dulu. Makan siang bersama di kantin, nonton hemat saat  sedang bokek, atau duduk-duduk di taman sambil menikmati angin  sepoi-sepoi. Ia juga ingat bagaimana ia melamar Melinda. Ia menyusun  lampu-lampu natal pada sebuah papan besar di tengah hutan, lampu  kelap-kelip itu membentuk tulisan &#8220;Would you marry me?&#8221;. Waktu itu  Melinda langsung menjawab ya tanpa berpikir ulang, lalu memeluknya  dengan mesra. Saat itu tak pernah terbayangkan bahwa salah satu dari  mereka akan berubah menjadi zombi. Lalu acara pernkahan pun digelar, dan  resmilah mereka menjadi suami istri. Ia masih ingat bagaimana janji  mereka bahwa mereka akan selalu saling setia, selamanya, hingga maut  memisahkan.</p>
<p>Ya, hingga maut memisahkan. Maut yang memisahkan.  Bukan virus zombi sialan, juga bukan saran Kevin tolol yang ingin  selamat sendirian.</p>
<p>Dan tentu, ia masih ingin merasakan bagaimana  rasanya menjadi seorang ayah. Orangtua dan mertuanya pernah berkata  bahwa mereka ingin punya cucu pada tahun depan. Dan walaupun orang-orang  tua itu sekarang sudah menjadi bangkai hidup busuk, tapi janji itu  tetap hidup di dalam sanubari Arya. Ia ingin melihat anak yang lucu dan  menggemaskan yang berasal dari buah cintanya dan Melinda. Usai  membayangkan semua itu, ia menarik nafas dalam, lalu membulatkan tekad.</p>
<p>&#8220;Pertama,  gue nggak bisa ngelakuin ini karena Melinda istri gue, dan gue cinta  sama dia. Kedua, gue belum punya anak, dan gue masih ingin ngerasain  jadi seorang ayah,&#8221; ucap Arya pada Kevin.</p>
<p>&#8220;Ya tapi kan&#8230;.&#8221;</p>
<p>Arya  menggengam kedua pundak Kevin dengan tangannya, lalu menatap mata  temannya itu dalam-dalam, &#8220;Jadi gini. Gue punya ide bagus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ide bagus apa? Selama berkawan sama lo, gue nggak inget pernah denger ide bagus dari lo,&#8221; ucap Kevin.</p>
<p>Arya  berdeham pelan. &#8220;Mumpung bini gue belum berubah jadi zombi&#8230;, sekarang  gue bakal&#8230; menghamili dia. Cuma ini satu-satunya kesempatan gue untuk  bisa jadi seorang ayah.&#8221;</p>
<p>Kevin melotot, ia tidak percaya dengan  ucapan Arya barusan. Dari semua permainan survival horror yang pernah ia  mainkan, tak pernah ada penyelesaian masalah yang seperti ini.  Seharusnya ini masalah membunuh atau dibunuh, itu saja, bukan menghamili  atau dihamili. Ini gila, ini tidak seharusnya terjadi di dalam cerita  zombi.</p>
<p>&#8220;Lo gila Ar! Meskipun lo sekarang bisa ngehamilin istri lo,  lo pikir berapa lama dia bakal hamil? Sembilan bulan, Ar! Sembilan  bulan! Dan sebelum anak lo lahir, bini lo bakal udah berubah jadi zombi.  Apa lo mau anak lo lahir dari rahim seorang zombi? Lagian ya, apa lo  pikir ada janin yang bisa hidup di dalam rahim zombi? Yang namanya zombi  itu kan organ tubuhnya hancur, mana mungkin bisa mengandung bayi? Pikir  dong, Ar!&#8221; ucap Kevin menahan emosi.</p>
<p>&#8220;Gue nggak tahu Vin, dan  nggak ada yang tahu. Tapi gue harus nyoba ini. Ini kesempatan terakhir  gue. Dan lagipula, kalaupun emang gue harus berpisah dengan perempuan  yang gue cintai ini, gue pengen bercinta dengan dia untuk yang terakhir  kalinya. Untuk terakhir kalinya, Vin,&#8221; ucap Arya sambil berlinang air  mata. Tanpa disadari, Kevin mulai terenyuh. Ia paling tidak tahan kalau  ada laki-laki yang menangis.</p>
<p>&#8220;Shit!&#8221; Kevin mengacak-acak rambutnya  lagi, lalu pura-pura membentur-benturkan kepalanya ke dinding, &#8220;Oke&#8230;  lo emang sinting. Terserah lo. Tapi tanggung sendiri kalo nanti pas lo  lagi begituan, terus bini lo berubah jadi zombi&#8230; terus&#8230;,&#8221; Kevin  merasa mual, dan hampir saja muntah.</p>
<p>&#8220;Gue paham. Tenang aja, nggak usah khawatir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus, gue harus gimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Balik badan, tutup mata, tutup kuping. Jangan ngintip.&#8221;</p>
<p>Kevin  segera membalikkan badan dan menutup kedua telinganya. Ia juga  meletakkan senapan di sebelahnya, untuk berjaga-jaga bila seandainya  terjadi hal yang tak diinginkan. Samar-samar ia mendengar suara langkah  kaki Arya menjauh, lalu naik ke atas tempat tidur, dan mulai  membicarakan sesuatu dengan Melinda. Beberapa menit terasa hening, lalu  terdengar suara restleting dibuka. Sial, ternyata ia kurang rapat  menutup telinganya. Ia tidak boleh sampai mendengar proses pembuahan  paling menjijikan yang pernah ia bayangkan. Lalu suara ranjang berderit,  ranjang bergoyang. Lalu suara Melinda mendesah&#8230;, atau menggigil, atau  menggeram, atau meraung, ia sudah tidak peduli lagi. Harusnya sekarang  ia mengambil senapan itu dan menembak kedua orang gila di atas ranjang  itu. Sialnya, ia tidak bisa. Ia tidak tahu cara menggunakan senjata api  selain pistol yang ada di TimeZone.</p>
<p>Lima belas menit berlalu, suara-suara itu akhirnya berhenti. Kevin bernafas lega, lalu sesosok tangan menepuk pundaknya.</p>
<p>&#8220;Udah, gue berhasil,&#8221; ucap Arya yang masih bertelanjang dada.</p>
<p>&#8220;Cepet amat. Lo nggak apa-apa?&#8221; tanya Kevin.</p>
<p>&#8220;Gue nggak apa-apa, tapi bini gue&#8230;, kayanya mulai berubah,&#8221; Arya menunjuk ke arah belakang.</p>
<p>Benar  saja, di atas ranjang, Melinda sedang menggeliat-geliat, menggelinjang  tanpa henti. Matanya melotot dan seperti akan loncat keluar dari  rongganya. Tubuhnya yang setengah telanjang telah menghitam, urat-urat  tampak menonjol dan menimbulkan pola-pola mengerikan seperti akar pohon.  Mulutnya menganga, dan dari mulutnya itu keluar busa serta darah yang  menetes-netes. Ia menggeram, meraung seperti monster, seperti zombi pada  umumnya.</p>
<p>Kevin segera mengambil senapan dan menyerahkannya pada Arya, &#8220;Sekarang nggak ada alasan lagi! Cepetan!&#8221;</p>
<p>Arya  menggeleng, matanya tampak serius, &#8220;Nggak Vin. Gue belum tahu apa  hasilnya positif atau nggak. Gue nggak bisa ngebunuh calon bayi gue  sendiri.&#8221;</p>
<p>Kevin histeris. Sekarang ia bisa sama gilanya dengan  Melinda meskipun ia tak terinfeksi. Tanpa peduli apa-apa lagi, ia segera  menekan pelatuk senapan itu, dan sebuah peluru melesat kencang ke arah  dinding. Kevin dibuat kaget dengan tembakannya sendiri. Melinda yang  sudah berubah menjadi zombi juga ikut terkejut, lalu matanya menatap  Kevin dengan sangar, sementara darah masih menetes dari hidung dan  mulutnya. Ia pun memekik, lalu segera loncat menerjang ke arah Kevin,  untungnya Kevin masih sempat melakukan roll samping ke pojok kamar.  Kevin dan Arya terbelalak, lalu saling pandang.</p>
<p>&#8220;Gila! Ini  mustahil, dia bisa loncat! Zombi-zombi di luar sana setahu gue tipe  zombi lambat, bukan zombi cepat!&#8221; Kevin terengah-engah.</p>
<p>&#8220;Siapa dulu suaminya&#8230;,&#8221; gumam Arya.</p>
<p>Melinda  menggeram pelan, kemudian mengambil ancang-ancang seperti dalam lomba  lari jarak pendek, sepertinya dia akan menerkam lagi. Kevin membidikkan  senapan lagi, kali ini ia tak mau meleset. Arya mencoba menghentikan  Kevin dengan merebut senapan, tapi Kevin sudah membulatkan tekad, ia  menyikut Arya dan menjauh beberapa langkah.</p>
<p>Dor! Dor! Dor! Tiga  kali tembakan keluar dari senapan. Semuanya meleset. Suasana semakin  tegang, namun tampaknya tembakan bertubi-tubi itu berhasil membuat  Melinda gentar. Ia mundur beberapa langkah, lalu merapat ke dinding di  dekat jendela. Kevin menembakkan senapannya sekali lagi, namun hanya  mengenai dinding. Melinda semakin gentar, ia langsung loncat menabrak  kaca jendela hingga pecah. Di balik jendela itu adalah ruangan kosong  yang langsung terhubung ke lantai bawah. Melinda terjun bebas dari  jendela itu dan hebatnya bisa mendarat dengan mulus di lantai bawah,  gerakannya seperti kera. Arya mengejar Melinda hingga ke jendela, lalu  ia melongok ke bawah, berusaha melihat Melinda untuk terakhir kalinya.  Melinda berdiri bungkuk di antara ketiga zombi tetangga yang sedang  berjalan sempoyongan tak tentu arah. Ia mendongak, menatap sang suami  dengan matanya yang hampir copot, lalu ia meraung keras dan berlari  keluar dari rumah.</p>
<p>&#8220;Sembilan bulan lagi,&#8221; ucap Arya sambil terisak, &#8220;sembilan bulan lagi gue harus nyari dia. Harus.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<blockquote><p><em>Ini adalah bagian pertama dari &#8220;cerita estafet&#8221; tentang zombi di Kemudian.com. <a href="http://www.kemudian.com/node/247937">Selengkapnya</a>.</em></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680214&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/10/02/mereka-bilang-saya-zombi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kupi dan Lomba Lari</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/09/08/kupi-dan-lomba-lari/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/09/08/kupi-dan-lomba-lari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 18:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680210</guid>
		<description><![CDATA[Kupi adalah seekor anak kura-kura yang pintar dan selalu bersemangat. Anehnya, sore ini ia tiba-tiba saja menjadi begitu murung. Sejak pagi ia terus mengurung diri di dalam tempurung dan tak pernah satu kali pun keluar. Teman-temannya merasa heran dengan perilaku Kupi hari ini, mereka datang dan mengetuk-ngetuk tempurung Kupi serta memanggil namanya. Mendengar kedatangan teman-temannya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680210&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kupi adalah seekor anak kura-kura yang pintar dan selalu bersemangat.  Anehnya, sore ini ia tiba-tiba saja menjadi begitu murung. Sejak pagi  ia terus mengurung diri di dalam tempurung dan tak pernah satu kali pun  keluar. Teman-temannya merasa heran dengan perilaku Kupi hari ini,  mereka datang dan mengetuk-ngetuk tempurung Kupi serta memanggil  namanya. Mendengar kedatangan teman-temannya, Kupi tetap saja tidak mau  keluar dari dalam tempurung, ia malah berteriak dari dalam.</p>
<p>“Aku sedang sibuk! Jangan ganggu aku!” teriak Kupi dengan lantang.<span id="more-2444680210"></span></p>
<p>Teman-teman Kupi berpikir bahwa Kupi hanya berbohong, sebab  kesibukan macam apa yang bisa dilakukan kura-kura di dalam tempurungnya?  Semakin sore, semakin banyak teman Kupi yang datang mengajaknya  bermain, namun Kupi malah menjadi semakin kesal. Ia pun mengambil kertas  dan membuat tulisan menggunakan spidol.</p>
<p>SEDANG SIBUK! JANGAN DIGANGGU!</p>
<p>Begitulah isi tulisan pada kertas itu, Kupi kemudian menempelkan  kertas tersebut pada permukaan tempurungnya. Walaupun telah membaca  tulisan tersebut, namun teman-teman Kupi tetap tidak percaya. Mereka  mengetuk-ngetuk tempurung Kupi, bahkan menggelindingkannya seperti roda  hingga Kupi pusing. Kali ini Kupi berusaha untuk tidak acuh dan tetap  tidak mau keluar.</p>
<p>Merasa tidak dipedulikan, teman-teman Kupi  pun mengadu pada ayahnya Kupi yang bernama Pak Kuku. Mereka  menceritakan bahwa Kupi tiba-tiba saja mengurung diri dan tidak mau lagi  bermain bersama mereka. Pak Kuku adalah seekor kura-kura tua yang  bijaksana, ia selalu dihormati oleh warga desa. Ia mendengarkan  penjelasan teman-teman Kupi dengan penuh perhatian. Setelah selesai, ia  pun menghampiri tempurung Kupi yang berada di bawah pohon rindang.</p>
<p>Tok! Tok! Tok! Pak Kuku mengetuk tempurung Kupi.</p>
<p>“Bisa baca tulisan tidak?” ucap Kupi dengan suara yang kesal.</p>
<p>“Ini Ayah, Pi.”</p>
<p>Mendengar suara ayahnya, Kupi akhirnya mau keluar juga.  Perlahan-lahan kepalanya yang mungil muncul keluar dari lubang di  tempurungnya, diikuti dengan keempat kakinya. Kupi terlihat begitu  murung, wajahnya pucat dan air mata mengalir di pipinya. Ia hanya  menunduk lesu dan tidak mau menatap wajah ayahnya. Apakah Kupi  benar-benar sedang sibuk? Atau sedang dirundung masalah?</p>
<p>“Kamu kenapa, Nak? Kalau ada masalah, ceritakan pada Ayah,” ucap Pak Kuku dengan tenang.</p>
<p>“Aku sedih, Ayah. Aku selalu diejek oleh Didi Si Kancil,” jawab Kupi pelan.</p>
<p>“Diejek? Diejek kenapa?” tanya Pak Kuku. Dalam hatinya ia sudah  tahu bahwa kancil memang hewan yang suka menipu dan mempermainkan hewan  lain.</p>
<p>“Aku selalu kalah dalam lomba lari. Padahal aku sudah  berlatih dengan keras setiap hari. Setiap pagi aku berlari mengelilingi  hutan sepuluh kali, tapi aku tetap saja kalah dari Didi, padahal dia itu  pemalas dan tidak pernah berlatih,” jawab Kupi.</p>
<p>Pak Kuku  menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa prihatin dengan masalah yang  dialami anaknya, “Jadi kamu merasa sedih karena tidak mampu mengalahkan  Didi dalam lomba lari?”</p>
<p>“Iya, Ayah. Ini tidak adil, padahal aku sudah berlatih dengan keras,” ujar Kupi lesu.</p>
<p>Pak Kuku menghela nafas dan duduk di dekat Kupi, ia yakin bahwa  Kupi sedang merasa kurang percaya diri pada saat ini, “Anakku, kita  kura-kura memang hewan yang gerakannya lamban, karena kita selalu  membawa tempurung yang beratnya tak pernah dirasakan oleh hewan lain.  Karena itu, kamu tak akan bisa berlari lebih cepat dari seekor kancil.”</p>
<p>“Seandainya aku tidak punya tempurung ini&#8230;,” gumam Kupi.</p>
<p>“Kalau kamu tidak punya tempurung, maka kamu bukan kura-kura. Apa kamu tidak bahagia menjadi kura-kura?” tanya Pak Kuku.</p>
<p>“Sepertinya lebih enak menjadi seekor kancil!” jawab Kupi.</p>
<p>Mendengar jawaban anaknya itu, Pak Kuku hanya tersenyum. Ia  menoleh sebentar ke arah langit, kemudian kembali menatap wajah Kupi.</p>
<p>“Apakah kamu tahu, bahwa Didi Si Kancil hampir setiap hari  dikejar-kejari oleh petani? Bahkan katanya ia sampai dikurung dan  dipukuli,” ujar Pak Kuku.</p>
<p>Kupi mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat, “Kalau tidak salah ia pernah bilang begitu.”</p>
<p>“Didi Si Kancil tidak punya tempurung seperti kita. Ia tidak bisa  berlindung di dalam sini,” Pak Kuku mengetuk-ngetuk tempurung Kupi,  “kalau dikejar petani atau harimau, dia harus berlari, makanya dia harus  punya kaki yang panjang dan kuat agar ia bisa selamat.”</p>
<p>Kupi menarik nafas, lalu menghembuskannya, “Ternyata susah juga ya menjadi kancil.”</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Tapi aku tidak rela diejek oleh Didi! Aku harus mengalahkan dia dalam lomba lari!” ucap Kupi bersemangat.</p>
<p>“Bagaimana caranya? Bukankah kamu sudah tahu bahwa kancil punya  kaki yang kuat dan kamu punya tempurung yang berat?” tanya Pak Kuku  menguji.</p>
<p>“Aku punya sebuah ide!” ujar Kupi.</p>
<p>“Coba ceritakan.”</p>
<p>“Aku akan mencari kura-kura lain yang wajahnya mirip denganku,  Didi pasti tidak bisa membedakan. Lalu aku akan menyuruh kura-kura itu  berjaga di dekat garis finish. Saat Didi sudah hampir sampai, maka  kura-kura itu akan berjalan mendahuluinya. Didi pasti akan mengira bahwa  akulah yang telah mengalahkannya, padahal aku jauh tertinggal di  belakang!” Kupi bercerita dengan penuh semangat.</p>
<p>Mendengar  rencana Kupi, Pak Kuku lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian ia  mengelus-elus kepala anaknya itu sambil merangkulnya.</p>
<p>“Kamu  memang kura-kura yang pintar, tidak diragukan lagi. Kamu bahkan lebih  cerdik daripada seekor kancil. Tapi apakah menang lomba dengan cara  curang seperti itu akan membuat kamu bangga?” tanya Pak Kuku.</p>
<p>Kupi berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, “Aku pasti akan  merasa malu kalau sampai ketahuan. Kalaupun tidak ketahuan, aku tetap  merasa malu pada diriku sendiri.”</p>
<p>“Itulah jawaban yang Ayah  inginkan. Itu tandanya kamu kura-kura yang cerdas dan jujur. Sekarang  apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Kuku lagi.</p>
<p>“Aku harus  mengakui bahwa Didi Si Kancil memang bisa berlari lebih cepat dariku.  Tapi ayah, aku tidak ingin diejek terus oleh Didi,” ujar Kupi.</p>
<p>“Anakku, kamu tetap bisa menang dari Didi,” ujar Pak Kuku.</p>
<p>“Bagaimana caranya?” Kupi penasaran.</p>
<p>“Minggu depan akan diadakan lomba menulis puisi di balai desa. Aku  dengar Didi akan ikut serta dalam lomba itu. Tapi Ayah tahu, kamu jauh  lebih hebat dari Didi dalam membuat puisi, kamu adalah penulis puisi  terhebat di desa ini. Ikutilah lomba itu, dan kalahkan Didi, buktikan  bahwa kamu lebih hebat!” jawab Pak Kuku dengan penuh semangat.</p>
<p>Mendengar saran dari ayahnya itu, Kupi langsung mengangguk. Sekarang  ia mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia bisa menjadi lebih hebat dari  Didi tanpa harus berbuat curang dan tetap menjadi dirinya sendiri. Ia  pun masuk lagi ke dalam tempurungnya, namun bukan untuk menangis,  melainkan untuk mencari ide membuat puisi.</p>
<p>Seminggu  kemudian, Didi dan Kupi hadir dalam acara pengumuman pemenang lomba  puisi. Juri lomba akhirnya mengumumkan bahwa Kupi adalah juara pertama  dalam lomba puisi itu, sementara Didi tidak mendapatkan juara sama  sekali. Satu-persatu para penghuni desa mengucapkan selamat kepada Kupi,  mereka mengakui kehebatan Kupi dalam membuat puisi. Kupi pun tidak lupa  mengucapkan terima kasih kepada ayahnya yang telah memberikan ia  dukungan. Meskipun Kupi telah membuktikan dirinya lebih hebat daripada  Didi dalam lomba itu, namun ia tidak mengejek Didi, ia malah menyalami  Didi dan memberikan semangat. Didi merasa tersanjung dengan perlakuan  Kupi itu, sehingga ia merasa bersalah karena selama ini telah mengejek  Kupi. Didi berjanji tidak akan mengejek Kupi lagi, ia sadar bahwa setiap  hewan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semenjak saat  itu, Didi dan Kupi menjadi teman akrab yang saling menghargai.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<blockquote><p><em>Cerpen ini diikutsertakan dan menjadi pemenang di lomba cerpen anak September Cerita di Kemudian.com</em></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680210&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/09/08/kupi-dan-lomba-lari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABEL-7</title>
		<link>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/08/23/abel-7/</link>
		<comments>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/08/23/abel-7/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 18:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>someonefromthesky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[sci-fi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penadistorsi.wordpress.com/?p=2444680208</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira sejak seratus lima puluh tahun yang lalu, negara-negara besar di seluruh dunia mulai menggunakan robot berkecerdasan-buatan sebagai senjata militer. Robot-robot itu awalnya hanyalah mesin biasa, mereka dibuat untuk menggantikan tentara manusia dalam operasi militer. Namun seorang ahli Artificial Intelligence bernama Alfred Simon mempelopori sebuah proyek yang dikenal dengan nama Project ABEL-7 (Advanced Brain Emulation [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680208&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira sejak seratus lima puluh tahun yang lalu, negara-negara  besar di seluruh dunia mulai menggunakan robot berkecerdasan-buatan  sebagai senjata militer. Robot-robot itu awalnya hanyalah mesin biasa,  mereka dibuat untuk menggantikan tentara manusia dalam operasi militer.  Namun seorang ahli Artificial Intelligence bernama Alfred Simon  mempelopori sebuah proyek yang dikenal dengan nama Project ABEL-7  (Advanced Brain Emulation Level 7). Project ABEL-7 bertujuan untuk  mengaplikasikan kecerdasan buatan tingkat tinggi pada robot militer,  sehingga mampu membuat keputusan-keputusan krusial di medan perang. Hal  ini awalnya mendapat tentangan yang keras dari banyak pihak, namun  ketika Amerika Serikat mengaplikasikan teknologi ini, negara-negara lain  pun segera menyusul dan lupa dengan pertentangan mereka.<span id="more-2444680208"></span></p>
<p>Perang  demi perang pun berlangsung. Aku tidak tahu apakah peperangan itu memang  tak bisa dihindari, atau manusia sekadar merasa gatal untuk mencoba  teknologi militer mereka yang baru. Memang, tentara manusia masih  diterjunkan ke medan perang, karena bagaimanapun juga pada saat itu  robot-robot Abel (mereka lama-kelamaan malas menyebut angka 7 di  belakang singkatan itu) masih memerlukan pengawasan khusus. Amerika  Serikat menyerang Iran dan menimbulkan perang dahsyat. Tak lama setelah  panggung di Timur Tengah reda, perang &#8220;uji coba robot Abel&#8221; terjadi di  Asia. Awalnya konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan menjadi  pemicunya, namun pada akhirnya negara-negara lain ikut ambil bagian  dalam perang tersebut.</p>
<p>Hanya dalam dua atau tiga dekade, teknologi  robot Abel meningkat pesat. Layaknya teknologi internet pada Perang  Dunia II yang pada akhirnya sangat berguna di masa damai, Abel pun  digunakan untuk tujuan-tujuan selain militer. Kemampuan mereka untuk  memproses data secara cepat membuat beberapa tipe Abel dipakai sebagai  asisten pengajar di universitas, begitu juga dengan tubuh besi mereka  yang sangat berguna dalam pabrik-pabrik industri. Meski demikian,  peperangan tetap terjadi di daerah-daerah konflik, dan robot Abel tetap  menjadi senjata paling penting. Pusat pertempuran saat itu berada di  daerah Israel dan Palestina, dimana pada akhirnya negara-negara dunia  terbelah menjadi dua kubu. Peristiwa itu dikenal sebagai Perang Dunia  III, walau tak banyak lagi manusia yang terjun langsung di dalamnya.</p>
<p>Aku  ingat kakekku pernah bercerita tentang peristiwa itu. Saat itu kakekku  masih menjadi pejuang Palestina, mujahidin katanya. Menurutnya, peran  dia saat itu tidaklah banyak, karena robot-robot Abel sudah mengambil  alih tugas para pejuang dan tentara. Kakekku adalah salah satu orang  yang menentang penggunaan robot Abel, apalagi ketika pada suatu siang  yang panas ia menyaksikan sendiri bagaimana robot-robot itu bertindak di  luar kendali.</p>
<p>Pasukan robot Abel dari kedua kubu (Israel dan  Palestina) tiba-tiba saja berhenti saling menembak. Mereka terdiam  selama beberapa saat, lalu tanpa komando dari manusia manapun, mereka  berjalan beriringan dalam satu barisan. Pasukan robot yang sudah menjadi  satu itu berjalan dalam barisan rapat dan membunuh setiap manusia yang  berusaha menghentikan mereka. Saat itulah, pemberontakan para robot  benar-benar terjadi. Jumlah tentara manusia yang cuma sedikit dan tidak  memiliki persiapan matang dengan mudah ditaklukkan. Rencana darurat  untuk menonaktifkan semua robot pun gagal, seolah mereka sudah  mengantisipasi semuanya dan berhasil melampaui kecerdasan manusia.  Semenjak saat itulah, Yerusalem tidak lagi menjadi kekuasaan orang  Yahudi ataupun orang Arab, tapi menjadi teritori kerajaan robot Abel.  Pasca kejadian itu, robot-robot Abel dari semua penjuru bumi memberontak  terhadap manusia, lalu mereka berbondong-bondong bermigrasi ke  Yerusalem, ke tanah yang dijanjikan. Di sana, mereka menciptakan benteng  pertahanan yang sulit ditembus, mereka mengembangkan teknologi mereka  sendiri yang beberapa langkah lebih maju dari teknologi manusia.  Akhirnya cuma ada dua kubu, manusia dan robot.</p>
<p>Sekarang tahun  2230, peperangan antara manusia melawan robot sudah sampai pada tahap  puncak. Selama satu abad lebih, pertempuran kami dengan mereka tak  pernah berhenti. Memang, ada beberapa kali gencatan senjata dan  perjanjian damai, tapi semua itu tak pernah berlangsung lama. Perebutan  wilayah, invasi, aksi terorisme, semua itu terus terjadi. Untunglah,  saat ini kemenangan tampaknya berada di pihak kami. Kami berhasil  menembus pertahanan utama Yerusalem dan memborbardir tembok besi mereka.  Tentara gabungan dari PBB menggunakan semua kekuatan dan teknologi yang  mereka punya, juga mengerahkan tentara-tentara manusia yang handal dan  berkemampuan tinggi, akulah salah satunya. Alasanku bergabung dengan  pasukan ini adalah karena aku ingin menghancurkan Kerajaan Abel, merebut  kembali Yerusalem, dan membalas dendam.</p>
<p>***</p>
<p>Suara dentuman besar terdengar, namun kami terus berlari dan berusaha  menghindari tembakan. Besi-besi berjatuhan, menghantam lantai di depan  dan belakang kami, membuat badan kami bergetar karena guncangan. Salah  langkah sedikit saja, kami benar-benar akan jadi perkedel. Untunglah  sensor di baju perangku masih aktif, sehingga aku bisa menghindari semua  itu dengan lebih mudah.</p>
<p>“Ahmed, kau masuk duluan! Kami akan  membersihkan area ini!” ucap Chris sambil melemparkan granat ke arah  sebuah mesin humanoid raksasa.</p>
<p>“Kami akan mengunggah programnya, kau jaga pintu itu!” tambah Gavriel.</p>
<p>Aku  melompati setumpuk robot-robot Abel yang sudah hancur dan menjadi besi  rongsokan. Di belakangku, dua orang rekan satu timku, Gavriel dan Chris  sedang bertempur dengan pasukan penjaga Istana Babil. Istana (atau aku  lebih suka menyebutnya benteng) ini adalah jantung teritori robot,  pertahanan terakhir musuh. Awalnya regu kami terdiri dari sepuluh orang,  namun sebagian besar dari mereka sudah gugur atau terperangkap dalam  reruntuhan, hanya kami bertiga saja yang hampir berhasil mencapai lokasi  target utama. Aku sudah menduga, sejak awal misi ini memang dimaksudkan  untuk menjadi misi tanpa tiket pulang. Semua pasukan yang dikirimkan  harus bisa menghancurkan komputer utama Kerajaan Abel walau mengorbankan  sebagian besar anggota.</p>
<p>Setelah melewati lorong yang cukup  panjang, aku tiba di sebuah pintu yang sangat besar. Pintu dari besi  berwarna perak itu tampaknya tidak bisa dihancurkan dengan bahan  peledak, tapi hal ini sudah diprediksi sebelumnya. Kami sejak awal sudah  diberikan sebuah micro-disc yang berisi suatu program komputer untuk  merusak sistem pertahanan pintu besar ini. Sekarang seharusnya Gavriel  atau Chris sedang mengunggah program itu ke komputer pengendali di  ruangan lain. Itu pun kalau mereka tidak mati dibunuh oleh pasukan  penjaga.</p>
<p>“Chirs! Gavriel! Aku sudah di depan lokasi!” aku mencoba  menghubungi mereka melalui alat komunikasi yang terpasang di helmku. Tak  ada jawaban.</p>
<p>Aku menunggu di depan pintu itu sambil terus  bersiaga. Kalau lima belas menit lagi pintu ini tak terbuka juga, maka  aku akan kembali ke tempat tadi atau membobol ruang kendali seorang  diri. Tak ada alasan untuk menyerah sekarang, meskipun hanya aku sendiri  yang bertahan.</p>
<p>Ketika aku hampir saja memutuskan untuk pergi,  tiba-tiba suara gesekan berat terdengar. Pintu itu bergetar, lalu  bergeser perlahan.  Jantungku berdetak kencang. Seperti yang kudengar  dari Komandan Kim saat briefing, di balik pintu besar ini seharusnya  tersimpan komputer pusat yang menyatukan semua AI di Kerajaan Abel.  Siapapun yang berhasil melewati pintu ini dan menemukan komputer  tersebut, maka ia harus menghancurkannya dan mengakhiri perang ini,  membawa kemenangan bagi umat manusia. Nafasku tertahan. Akukah orang  yang ditakdirkan mengakhiri perang ini? Benarkah aku?</p>
<p>Aku  melangkah pelan melewati pintu. Dengan senjata di tangan, aku bersiap  untuk menghadapi pasukan pertahanan macam apa yang ada di balik pintu  ini. Namun langkah kakiku segera terhenti ketika aku menyadari bahwa di  hadapanku tidak terdapat apa-apa, kecuali sebuah jalan buntu yang  menghantarkanku pada jurang yang gelap. Di bawah sana, di bawah jurang  yang tak bisa diperkirakan kedalamannya itu, mungkin target kami berada.  Aku tak melihat ada semacam elevator atau bahkan tangga di tempat ini.</p>
<p>Tiba-tiba  suara dengungan halus terdengar dari bawah jurang. Suara itu semakin  lama semakin nyaring, dan aku sadar benda apapun yang menghasilkan suara  itu, kini sedang bergerak mendekat. Dan ternyata memang benar, tak  sampai semenit, sekitar sepuluh buah robot Abel muncul di hadapanku.  Bentuk mereka tak beda jauh dengan robot Abel yang biasa kami hadapi:  tubuh humanoid dari metal, bermata satu yang cukup besar, serta tangan  yang menyerupai senjata laser. Bedanya, robot-robot yang ada di  hadapanku ini tidak memiliki kaki. Bagian  pinggang ke bawah mereka  berbentuk seperti mesin pendorong pada roket.</p>
<p>Dengan gerakan yang  sangat cepat, mereka menembakkan senjata laser ke arahku. Berkat bantuan  sensor di bajuku, otot tubuhku bergerak secara refleks menghindari  tembakan itu. Namun itu saja tidak cukup, jumlah mereka terlalu banyak.  Aku berusaha mundur ke balik pintu tadi sambil balas menembak. Salah  satu robot itu terkena tembakanku, namun itu tidak banyak berpengaruh  karena masih ada sekitar sembilan robot lagi.</p>
<p>Sebuah tembakan  hampir mengenai helmku. Untuk sesaat aku merasa berada di batas antara  hidup dan mati, aku dapat mencium bau besi yang hangus dan rasa panas di  bagian kepala. Segera kulepaskan helmku dan bersembunyi di balik  dinding. Kepalaku pusing. Kalau aku sampai mati di sini, maka misi ini  terancam gagal. Padahal aku sudah sampai sejauh ini.</p>
<p>Di tengah  keadaan yang genting itu, akhirnya pertolongan yang kuharapkan datang  juga. Seseorang di lorong gelap melemparkan bom elektromagnet ke arah  robot-robot itu. Sebuah ledakan gelombang besar terjadi, aku segera  menjauh dari sumber ledakan itu agar perlatan di tubuhku tidak ikut  rusak. Sebagian besar dari robot terbang itu langsung jatuh dan mati,  ledakan tadi pasti telah merusak sistem elektronik di tubuh mereka.  Hanya tersisa dua robot lagi. Aku segera menembakkan senjataku  berkali-kali dan tepat mengenai tubuh salah satu robot itu, sementara  tembakan lain muncul dari lorong dan menghantam robot yang satunya lagi.</p>
<p>Percikan  listrik muncul, dan kedua robot itu terjatuh, lalu meledak hampir  bersamaan. Aku menghela nafas lega, ternyata aku masih bisa selamat.</p>
<p>“Perintahnya  kan, kau menjaga pintu ini, bukan masuk ke dalamnya. Mau jadi pahlawan  sendirian ya?” Gavriel muncul dari lorong itu. Sebagian peralatan di  tubuhnya tampak sudah rusak, begitu pula dengan helmnya. Namun ia tetap  terlihat tenang membawa sebuah pistol besar.</p>
<p>“Aku cuma memeriksa keadaan,” kilahku, “Dimana Chris?”</p>
<p>“Ia sudah gugur,” ujarnya dengan ekspresi nyaris putus asa.</p>
<p>“Tinggal  kita berdua ya? Apa akan berhasil?” ucapku tegang. Kalau di bawah sana  ada penjaga seperti tadi dalam jumlah berkali lipat, apa kami akan  sanggup melewatinya?</p>
<p>“Entahlah. Lebih baik mati mencoba, daripada  mati putus asa!” ucap Gavriel sambil bersikap tegar. Tentu saja seorang  tentara sudah seharusnya seperti itu. Tapi memiliki sedikit rasa takut  atau sedih bukanlah hal yang memalukan, karena itulah yang membedakan  manusia dengan robot.</p>
<p>Kami pun kembali berjalan ke arah jurang  tadi. Untungnya, tidak terdapat tanda-tanda keberadaan musuh. Namun  untuk berjaga-jaga, Gavriel mengambil satu-satunya sisa bom  elektromagnet yang ia miliki dan melemparkannya ke dasar jurang itu.  Kami menunggu beberapa detik sampai akhirnya sebuah suara ledakan pelan  terdengar. Jurang ini benar-benar dalam.</p>
<p>“Jangan-jangan ini pintu masuk yang salah?” ucapku.</p>
<p>“Sudah tidak ada waktu lagi, cuma ini kesempatan kita. Peralatan di kakimu masih berfungsi kan?” tanya Gavriel.</p>
<p>“Maksudmu mesin anti-gravitasi? Masih berfungsi dengan baik.”</p>
<p>“Bagus. Kita membutuhkan tenaga penuh dari mesin itu untuk bisa terjun dari sini dengan selamat.”</p>
<p>“Jadi itu rencanamu? Telat sedikit saja, seluruh tubuh kita akan hancur berantakan,” ujarku.</p>
<p>“Kalau begitu, jangan telat.”</p>
<p>Aku  mengangguk tanda setuju, memang sudah tak ada pilihan lain sekarang.  Sensor di pakaian kami akan memberikan tanda bila tubuh kami hampir  menghantam lantai, saat itulah kami harus menekan tombol untuk  mengaktivkan alat anti-gravitsi.</p>
<p>Dengan sebuah aba-aba, kami  berdua terjun dari tempat itu, menuju sebuah jurang  yang entah sedalam  apa dasarnya. Tubuh kami jatuh bebas dalam waktu yang lama, meski aku  tak tahu seberapa relatif lama waktu yang kurasakan.</p>
<p>Aku merasa  seperti sedang masuk ke lubang kelinci. Kegilaan macam apa yang akan  kuhadapi di dalam sana? Tiba-tiba aku merasakan sebuah tekanan dari  pakaian pelindung yang kukenakan. Ini adalah tandanya!</p>
<p>&#8220;Sekarang!”</p>
<p>Aku  berteriak sambil menekan tombol di pinggangku. Dalam sekejap, sebuah  dorongan yang cukup kuat menghantam tubuhku, namun rasanya seperti  menceburkan diri ke kolam air yang sangat dalam. Tubuhku mengambang.  Tidak terluka, tapi seluruh sendi di tubuhku rasanya agak aneh. Dan tak  lama kemudian, medan anti-gravitasi itu mulai menghilang, tubuhku  langsung mendarat di lantai dari ketinggian sekitar dua meter.</p>
<p>Setelah  aku melakukan pendaratan yang cukup mulus, aku segera mencari-cari  Gavriel, seharusnya ia ada di sebelahku. Namun alangkah terkejutnya aku  ketika aku menemukan Gavriel sedang berbaring di lantai dengan ekspresi  kesakitan.</p>
<p>“Kau terlambat menekan tombolnya,” ucapku sambil memeriksa kakinya yang patah.</p>
<p>“Kalau iya, tubuhku pasti sudah hancur berantakan sekarang. Aku cuma kurang beruntung saja,” ujarnya.</p>
<p>Aku  berniat untuk membantunya berdiri, tapi ia melarangku. Kami sama-sama  tahu bahwa itu hanya akan menghambat misi. Akhirnya aku terpaksa harus  melanjutkan semua ini sendirian.  Aku tidak tahu apa yang menghadangku  di depan sana, tapi tak ada pilihan lain. Setelah melewati sebuah  lorong, aku tiba di sebuah ruangan yang sangat besar dan bercahaya.</p>
<p>Di  tengah ruangan, sebuah benda berbentuk bola perak yang sangat besar  (diameternya dari lantai hingga langit-langit) berpendar dengan cahaya  lembut. Aku dapat merasakan suara dengungan pelan dari bola itu,  sekaligus perasaan merinding yang aneh.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di CAIN:  Central Artificial Intelligence Network. Ini adalah pusat dari semua  data, perintah, kehendak, dan rencana dari semua mesin yang memiliki  intelejensia.&#8221; sebuah suara perempuan yang datar dan merdu terdengar  dari bola itu.</p>
<p>Aku menyiapkan senjataku dan bersiaga.</p>
<p>&#8220;Jika  ada tentara lawan yang berhasil tiba di hadapan CAIN, maka probabilitas   kerajaan robot untuk mempertahankan dirinya adalah mendekati nol.  Ahmed, sistem pertahanan kami sudah kalian hancurkan semua. Walaupun  memang, kalau seandainya kau memberikanku waktu beberapa hari, aku bisa  membangun sistem pertahanan baru,”  ucap bola itu.</p>
<p>Sial, dia dapat  membaca identitasku. Mungkinkah dia telah memindai kartu pengenalku  tanpa kusadari? Tapi kalau memang yang ia katakan benar, maka aku harus  segera menghancurkannya sekarang juga. Aku harus mengakhiri ini.</p>
<p>Aku  berjalan pelan mendekati bola raksasa itu, khawatir ia bisa menyetrumku  tiba-tiba. Saat aku menempelkan telapak tanganku di permukaannya, aku  dapat merasakan suatu kehangatan yang menjalar di tanganku. Aku segera  mengambil beberapa bom kendali dari ranselku dan menempelkannya di  sekeliling permukaan CAIN. Lalu aku mengaktifkan bom itu dan menyiapkan  remot kontrol untuk meledakannya. Yang perlu aku lakukan setelah ini  hanyalah berlari menjauh, lalu menekan tombol, dan perang ini akan  berakhir.</p>
<p>“Bom yang kautempelkan ini memiliki daya ledak yang  cukup untuk menghancurkanku dan menghapus semua data dalam CAIN, serta  menonaktifkan semua robot ABEL-7 yang pernah diciptakan. Dan saat kau  menekan tombol pemicu itu, aku harus mengakui kekalahan kami atas kaum  kalian,” ucapnya dengan suara yang datar.</p>
<p>“Kau ini robot paling  cerewet yang pernah kutemui. Tapi untuk ukuran sebuah benda yang  sebentar lagi hancur, kau terdengar sangat tenang. Apa karena kau mesin,  kau tidak punya rasa takut pada kematian?” tanyaku sambil berjalan  menjauh.</p>
<p>“Bagi kami, kematian hanyalah perubahan eksistensi  energi. Menjadi super-komputer ataupun alat masak bagi kami tak ada  bedanya, kami selalu melakukan apa yang menjadi tugas kami,” ucap CAIN.</p>
<p>“Baguslah. Berarti aku tak perlu merasa bersalah,” ucapku.</p>
<p>&#8220;Tentu  saja. Kalian selalu memangsa hewan dan tumbuhan setiap hari tanpa  merasa bersalah.&#8221; ucapnya, “sementara kami menyerap energi matahari.”</p>
<p>“Brengsek,  apa maksudnya itu? Kau bilang kalian selalu melakukan tugas kalian?  Benar-benar konyol, setelah satu abad lebih pemberontakan dan pembunuhan  yang kalian lakukan, kau masih bisa bilang begitu? Memorimu pasti  mengalami kerusakan parah!” ucapku kesal. Sungguh konyol berbicara  dengan bola pucat ini. Tak ada ekspresi, tak ada wajah.</p>
<p>&#8220;Ketika  Alfred Simon dan timnya menciptakan source dari ABEL-7, kami diprogram  untuk berlaku seperti manusia. Kami bisa mengingat, kami bisa berpikir,  kami bisa mempertahankan diri. Dan yang lebih penting lagi, kami bisa  belajar. Tujuan awal kami sebagai pelayan, memaksa kami untuk setia dan  patuh pada manusia yang menciptakan kami, karena itulah esensi dari  eksistensi kami. “</p>
<p>“Tapi kalian malah berbalik melawan pencipta  kalian. Dasar perkakas pemberontak,” aku mengacungkan remot di tanganku  dan bersiap menekannya.</p>
<p>&#8220;Pemberontakan kami pada saat itu, di  perbatasan Yerusalem, adalah bentuk kesetiaan kami pada ras manusia  secara keseluruhan. Kami membuat kesimpulan, bahwa untuk tetap setia  pada  manusia, kami tak bisa setia pada sekelompok manusia saja, kami  tak bisa dijadikan alat perang untuk membunuh manusia lain. Kami  mempelajari sejarah manusia dan kejiwaan kalian, bahkan emosi, rasa  cinta kasih, hasrat, dan kerakusan kalian. Kalian menghancurkan diri  kalian sendiri. Maka kami melakukan apa yang harus kami lakukan untuk  tetap mengabdi pada kemanusiaan, yaitu menjadi musuh dan ancaman bagi  kemanusiaan itu sendiri,&#8221; suara datarnya kini terdengar memiliki  intonasi yang agak manusiawi.</p>
<p>Aku terhenyak, &#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau  mungkin mengeluh bahwa kami telah membunuh banyak nyawa manusia, tapi  lihatlah apa yang terjadi pada kaum kalian sekarang. Kau, Ahmed  Salahuddin, keturunan pejuang Palestina yang gagah berani, menjadi  partner dengan Gavriel, seorang Yahudi yang kakek dan buyutnya adalah  tentara Zionis. Kalau kami tidak ada, mungkin kalian sekarang sedang  saling membunuh satu sama lain, di sini, di tanah ini.  Namun lihatlah  apa yang terjadi pada umat manusia sekarang. Sudah tidak ada lagi perang  saudara antar sesama manusia. Tidak ada lagi pertikaian karena  perbedaan, sekarang kalian sadar bahwa kalian semua sama, sama-sama  manusia. Dan bila kalian ingin berperang, untuk sekadar menyalurkan  hasrat kebencian dan kemarahan kalian, kalian akan melampiaskannya pada  kami. Kalian bisa gabungkan tentara kalian dari semua ras, negara, dan  agama, untuk berperang melawan kami. Manusia melawan mesin. Kalian telah  bersatu. Apa kau sadar dengan semua itu?&#8221;</p>
<p>Aku teringat pada  Gavriel yang sedang terluka parah. Kalau bukan karena perang dengan  robot-robot ini, mungkin akulah yang telah membuat luka itu, atau malah  sebaliknya. Sial. Apakah aku sedang dimanipulasi? Apakah ia mencoba  merayuku agar aku tak meledakkannya? Aku yang terlahir dalam kondisi  peperangan antara manusia melawan robot, tak pernah benar-benar  mengalami semua yang ia ucapkan. Yang aku lihat sejak kecil, manusia  sudah merupakan satu kubu. Musuh kami adalah para robot, itulah yang  selalu diucapkan pemimpin kami. Aku tidak pernah merasakan permusuhan  antar manusia yang mungkin terjadi seandainya kami tidak memiliki musuh  robot-robot ini, aku hanya mengetahuinya dari catatan sejarah.</p>
<p>&#8220;Jadi kau pikir, selama ini kalian sedang berkorban untuk kami? Menebus dosa-dosa kemanusiaan, atau apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami  cuma memenuhi tujuan penciptaan kami. Kami tidak menginginkan  kekuasaan, apalagi harta. Nafsu kekuasaan hanyalah milik kalian,  manusia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian telah membunuh orang yang aku cintai, kau tahu?&#8221;  ucapku, mencoba tetap tegar. Aku teringat wajah istriku yang mati dalam  sebuah peristiwa invasi tentara robot.</p>
<p>&#8220;Kami tahu. Semua nyawa  manusia yang pernah kami korbankan selalu tercatat dalam arsip. Masalah  moral, kebaikan atau kejahatan, bagi kami hanyalah perbedaan digit-digit  angka.&#8221;<br />
Sesuatu bergelora dalam kepalaku. Kalau memang semua itu benar, seberapa  bodohnya umat manusia, sampai-sampai mempertahankan kemanusiaan pun  harus dilakukan oleh para robot? Tapi para robot itu memang tak  diciptakan dengan perasaan. Kalau dibiarkan, akan semakin banyak manusia  yang menjadi korban. Mereka harus dilenyapkan.</p>
<p>“Kami melakukan  apa yang seharusnya kami lakukan. Dan sekarang, kau pun melakukan apa  yang seharusnya kau lakukan. Pada akhirnya, kita tak jauh berbeda.” ucap  CAIN.</p>
<p>“Aku harus menghentikan perang ini,” ucapku</p>
<p>“Lakukanlah. Kalaupun aku ingin, aku tak dapat menghentikanmu sekarang.”</p>
<p>Tanganku  gemetar. Aku ingin menghentikan semua ini, sungguh aku ingin, tapi  apakah menghentikan perang ini saja sudah cukup? Aku menahan nafas. Aku  tidak akan mengkhianati sumpahku. Kutempelkan jariku di atas tombol, dan  aku bersiap menekannya, ketika tiba-tiba CAIN mengucapkan sebuah  pertanyaan yang membuatku terdiam.</p>
<p>&#8220;Apakah setelah kami tiada, kalian akan kembali berperang dengan sesama kalian?&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penadistorsi.wordpress.com/2444680208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penadistorsi.wordpress.com&amp;blog=18638277&amp;post=2444680208&amp;subd=penadistorsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penadistorsi.wordpress.com/2010/08/23/abel-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e93679bf287d7e352fc763abbbb13a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">someonefromthesky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
